Minggu, 16 Februari 2014

BAkpao wortel


Bakpao Wortel
Bahan :
Ø  150 gr tepung terigu (protein tinggi)
Ø  100 gr tepung terigu ( protein sedang)
Ø  1 butir telur
Ø  5 gr mentega
Ø  70 gr gula pasir
Ø  70-90 ml sari wortel ( 100 gr wortel mentah dan 50 – 70 air )
Ø  1 buah wortel (diserut)
Ø  1 sdm  yeast (fernipant)
Ø  Coklat

Cara membuat:
1.        Diencerkan fernipant pada air hangat
2.       Dicampur semua bahan, Uleni sampai kalis kurang lebih  15 menit.
  1. Dibagi adonan, menjadi 15 ukuran kecil.
  2. Diamkan selama ½  jam
  3. Dipipihkan,  isi dengan 1 sdt selai coklat dan bentuk sesuai selera
  4. Dipanaskan panci kukusan, setelah air mendidih masukkan bakpao dan beri jarak.
  5. Dikukus bakpao selama 15 menit ( jangan lupa alasi tutup dengan serbet supaya air tidak menetes )
  6. Akhirnya jadi dan rasanya tidak ada aroma wortel tetapi penampilannya jadi menarik orange. Lebih enak ketika masih hangat.


Identifikasi Vibrio cholerae pada air

BAB I PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
 Air merupakan senyawa yang paling melimpah di muka bumi dan memiliki rumus kimia H2O. Air merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Kita mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Air diperlukan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, dan pengairan dalam bidang pertanian. Selain itu, air juga sangat diperlukan dalam kegiatan industri dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup manusia. Air bersih dan air layak minum adalah dua hal yang tidak sama tetapi sering dipertukarkan. Tidak semua air bersih layak minum, tetapi air layak minum biasanya berasal dari air bersih. Menurut peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ Menkes/Per/IX/1990, Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum ( Permenkes RI No 492 / Per / IV / 2010 ). Allah SWT berfirman didalam Al - Qur’an surat Al Waaqi'ah ayat 68 yang berbunyi : أَفَرَءَيْتُمُٱلْمَآءَٱلَّذِىتَشْرَبُونَ Artinya : Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Dalam ayat-ayat ini, kembali Allah SWT mengungkapkan salah satu dari pada nikmat Nya yang agung, untuk direnungkan dan dipikirkan oleh manusia apakah mereka mengetahui tentang manfaat air yang mereka minum dan mengetahui kulitas air yang diminum. Penyediaan air bersih untuk masyarakat di Indonesia masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang cukup kompleks dan sampai saat ini belum dapat diatasi sepenuhnya. Salah satu masalah yang masih dihadapi yakni pencemaran air. Pencemaran air dapat disebabkan oleh virus, bakteri patogen, dan parasit lainnya atau zat kimia. Pencemaran ini dapat terjadi pada air sumber ataupun saat pengaliran air olahan dari pusat pengolahan ke konsumen untuk dimanfaatkan sebagai air minum. Salah satunya adalah pencemaran air oleh mikroorganisme patogen misalnya Vibrio cholera sebagai penyebab kolera. Infeksi terjadi melalui air yang terkontaminasi feses. Kolera merupakan wabah penyakit yang telah membunuh jutaan manusia, disebabkan oleh eksotoksin yang di hasilkan oleh bakteri Vibrio cholera, ditularkan melakukan makanan yang dicuci menggunakan air terkontaminasi bakteri tersebut (Salyers and Whitt , 1994 ). Air terutama berperan dalam penularan kolera namun pada epidemic yang besar penularan juga terjadi pada makanan yang terkontaminasi oleh tinja atau muntahan dari orang yang terinfeksi atau air yang mengandung Vibrio cholerae yang dapat bertahan selama beberapa bulan di air. Penularan yang cepat dari kolera terjadi melalui air yang tercemar karena sistem PAM perkotaan yang tidak baik, air permukaan yang tercemar, sistem penyimpanan air dirumah tangga yang kurang baik. Oleh karana itu penelitian ini dilakukan untuk uji bakteri Vibrio cholerae pada air. Pengujian ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas air minum dan air sumber yang diteliti. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Bagaimana hasil dari pengujian bakteri Vibrio cholerae pada air sumber dan air minum ? 2. Apakah pada sampel air minum dan air sumber terdapat bakteri Vibrio cholerae ? 1.3 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui hasil pengujian bakteri Vibrio cholerae pada air minum dan air sumber 2. Untuk mengetahui ada dan tidaknya bakteri Vibrio cholerae pada sampel air minum dan air sumber 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah dari penelitian ini adalah : 1. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Instalasi Mikrobiologi Balai Besar Laboratorium Kesehatan ( BBLK ) Jakarta 2. Penelitian ini hanya menggunakan dua sampel air yaitu jenis air minum dan air sumber 3. Penelitian ini dilakukan dengan parameter warna koloni kuning dn bentuk batang bengkok 4. Penelitian ini menggunakan media AP ( Alkalis Peptone ) untuk prapengkaya dan ( TCBS Thiosulfate Citrate bile Sucrose ) untuk media selektif 5. Pada uji biokimia dengan media KIA dikatakan positif jika pada lereng bersifat alkali, pada dasarnya bersifat asam , tidak timbul gas dan H2S negatif 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Peneliti dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan pada waktu perkuliahan khususnya mata kuliah Mikrobiologi 2. Memberikan informasi kepada masyarakat untuk mengatahui sampel air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae 
 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 
2.1 Tinjauan tentang air 
2.1.1 Pengertian Air Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit (Kusnaedi, 2004). Air bersih adalah air yang jernih, tidak berwarna, tawar dan tidak berbau (Untung, 2004). Melalui penyediaan air bersih dan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat melakukan suatu usaha dengan swadaya dana masyarakat sendiri yaitu dengan membuat sumur atau air tanah. Kemampuan penyediaan air bersih untuk kehidupan sehari-hari bagi manusia adalah hal yang sangat penting. Air tanah dan manusia adalah hal yang tidak dapat dipisahkan (Rismunandar, 2001). Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek pengamatan dan pelestarian sumber daya air harus ditanam pada segenap pengguna air (Effendi, 2003). Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang dinamakan “Cyclus Hydrologie”. Dengan adanya penyinaran matahari, maka semua air yang ada di permukaan bumi akan bersatu dan berada ditempat yang tinggi yang sering dikenal dengan nama awan. Oleh angin, awan ini akan terbawa makin lama makin tinggi dimana temperatur diatas semakin rendah, yang menyebabkan titik-titik air dan jatuh kebumi sebagai hujan. Air hujan ini sebagian mengalir kedalam tanah, jika menjumpai lapisan rapat air, maka perserapan akan berkurang, dan sebagian air akan mengalir diatas lapisan rapat air ini. Jika air ini keluar pada permukaan bumi, umumnya berbentuk sungai-sungai dan jika melalui suatu tempat rendah (cekung) maka air akan berkumpal, membentuk suatu danau atau telaga. Tetapi banyak diantaranya yang mengalir ke laut kembali dan kemudian akan mengikuti siklus hidrologi ini (Sutrisno, 2004 ). 2.1.2 Pembagian air A. Pembagian air berdasarkan analisis a) Air kotor/air tercemar Air yang bercampur dengan satu atau berbagai campuran hasil buangan disebut air tercemar/air kotor. Sumber air kotor / air tercemar Menurut lokasi pencemaran maka air tercemar ini digolongkan dalam 2 lokasi yaitu: • Air tercemar di pedesaan. Sumber pencemar adalah hasil sampah rumah tangga, hasil kotoran hewan, hasil industri kecil. • Air tercemar perkotaan bersumber dari hasil sampah rumah tangga, pusat perbelanjaan, industri kecil, industri besar, hotel, restaurant, tempat keramaian. b) Air bersih Air bersih adalah air yang sudah terpenuhi syarat fisik, kimia, namun bakteriologi belum terpenuhi. Air bersih ini diperoleh dari sumur gali, sumur bor, air hujan, air dari sumber mata air. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air pemandian umum adalah air yang digunakan pada tempat-tempat pemandian bagi umum tidak termasuk pemandian untuk pengobatan tradisional dan kolam renang, yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan (Permenkes RI no 416 tahun 1990). c) Air siap diminum/air minum Air siap diminum/air minum ialah air yang sudah terpenuhi syarat fisik, kimia, bakteriologi serta level kontaminasi (LKM) (Maximum Contaminant Level). Level kontaminasi maksimum meliputi sejumlah zat kimia, kekeruhan dan bakteri coliform yang diperkenankan dalam batas-batas aman, lebih jelas lagi bahwa air siap minum/air minum yang berkualitas harus terpenuhi syarat, sebagai berikut : • Harus jernih, transparan dan tidak bewarna • Tidak dicemari bahan organik maupun bahan anorganik • Tidak berbau, tidak berasa, kesan enak bila diminum • Mengandung mineral yang cukup sesuai dengan standard • Bebas kuman/LKM coliform dalam batas aman (Gabriel, 2001). Air minum adalah air yang digunakan untuk konsumsi manusia. Menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung mikroorganisme yang berbahaya, dan tidak mengandung logam berat. Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan ataupun tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum ( Permenkes RI No 492 / PER / IV /2010). Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen (Notoatmodjo, 2003). Bakteri golongan Coli (Coliform bakteri) tidak merupakan bakteri patogen, tetapi bakteri ini merupakan indikator dari pencemaran air oleh bakteri patogen. Menurut Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990, bakteri coliform yang memenuhi syarat untuk air bersih bukan perpipaan adalah < 50 MPN. Standar air minum di Indonesia mengikuti standar WHO yang dalam beberapa hal disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Pada tahun 2010, Departemen Kesehatan RI telah menetapkan kriteria kualitas air secara mikrobiologis, melalui permenkes RI No 492/2010 bahwa air minum tidak diperbolehkan mengandung bakteri coliform dan Escherichia coli. B. Pembagian air berdasarkan kelas Menurut peruntukannya, air pada sumber air dapat dikategorikan menjadi empat golongan yaitu : 1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu. 2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. 3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. 4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air. C. Sumber Air 1. Air Laut Air yang dijumpai di dalam alam berupa air laut sebanyak 80%, sedangkan sisanya berupa air tanah/daratan, es, salju, dan hujan. Air laut mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl. Kadar NaCl dalam air laut 3%. Dengan keadaan ini, maka air laut tak memenuhi syarat untuk air minum. 2. Air Atmosfir Dalam keadaan murni, sangat bersih, karena dengan adanya pengotoran udara yang disebabkan oleh kotoran-kotoran industri/debu dan lain sebagainya. Maka untuk menjadikan air hujan sebagai sumber air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. 3. Air Permukaan Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota dan sebagainya. Setelah mengalami suatu pengotoran, pada suatu saat air permukaan itu akan mengalami suatu proses pembersihan sendiri. Udara yang mengandung oksigen atau gas O2 akan membantu mengalami proses pembusukan yang terjadi pada air permukaan yang telah mengalami pengotoran, karena selama dalam perjalanan, O2 akan meresap ke dalam air permukaan. Air permukaan ada dua macam yakni: a. Air sungai Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi. b. Air rawa/danau Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat organik yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air yang menyebabkan warna kuning coklat. 4. Air Tanah Air tanah adalah air yang berasal dari permukaan yang merembes ke dalam tanah, yang terdapat di dalam ruang-ruang butir antara butir-butir tanah di dalam lapisan bumi. Suatu saat air ini akan memenuhi lapisan tanah yang keras dan kuat, maka air ini akan keluar permukaan sebagai mata air. Air tanah terbagi antara: a. Air tanah dangkal Air tanah dangkal terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Lumpur akan bertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam yang larut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia tertentu untuk masing-masing lapisan tanah. Lapisan tanah ini berfungsi sebagai saringan. Disamping penyaringan, pengotoran juga masih terus berlangsung, terutama pada muka air yang dekat dengan muka tanah, setelah lapisan rapat air, air yang terkumpul merupakan air tanah dangkal dimana air tanah ini dimanfaatkan sebagai air minum melalui sumur-sumur dangkal. b. Air tanah dalam Terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam, tidak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor dan memasukkan pipa ke dalamnya sehingga dalam suatu kedalaman (biasanya antara 100-300 m) akan didapatkan suatu lapis air. Kualitas air tanah dalam pada umumnya lebih baik dari air dangkal, karena penyaringanya lebih sempurna dan bebas dari bakteri. Susunan dari unsur-unsur kimia tergantung pada lapis-lapis tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur, maka air itu akan menjadi sadah, karena mengandung Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2. c. Mata air Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitasnya sama dengan keadaan air tanah dalam. 2.1.3 Kualitas Air A. Kualitas air bersih Kualitas adalah kadar, mutu, tingkat baik buruknya sesuatu (tentang barang dan sebagainya) (Fajri dan Senja, 2005). Menurut peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ Menkes/Per/IX/1990, Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak (Pitojo dan Purwantoyo, 2003). Kualitas air bersih sangat erat kaitannya dengan kualitas air bakunya. Umumnya air baku dari air sumber (air tanah) kualitasnya sudah cukup baik sehingga tidak sulit menjadikannya air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan. Pada sisi lain air bersih dalam jumlah banyak harus mengambil dari sumber air yang besar pula. Ini sering terjadi di kota besar dan akhirnya memilih air sungai yang ada di dekatnya sebagai sumber air baku. Kualitas air sungai sebagai air permukaan jelas berbeda dengan air sumber dan air tanah dalam sehingga perlu proses yang lebih banyak. Pada awalnya proses itu pun tidak begitu berat karena air sungai hanya terkait dengan limbah rumah tangga yang jumlahnya pun terbatas sehingga proses penjernihannya pun relatif sederhana (Amsyari, 1996). Air bersih didapat dari sumber mata air yaitu air tanah, sumur, air tanah dangkal, sumur artetis atau air tanah dalam. Air bersih ini termasuk golongan B yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. Kualitas air bersih apabila ditinjau berdasarkan kandungan bakterinya menurut SK. Menurut PERMENKES Nomor :416/MEN.KES/PER/IX/1990 Kualitas Air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi, Fisika, kimia, dan radioaktif Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air dapat diketahui melalui uji bakteriologis. Pada umumnya uji bakteriologis yang harus dipenuhi oleh air sebagai berikut (Pitojo dan Purwantoyo, 2003) : 1. Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli, Shigella dysenteriae, Salmonella typhi, Salmonella parathypi, Vibrio colerae. Bakteri-bakteri ini mudah tersebar melalui air (transmitted by water). 2. Tidak mengandung bakteri non-patogen, seperti Actinomycetes, Phytoplankton coliform, Ciadocera, Coliform, Fecal streptococci, Iron bakteri. B. Kualitas air minum Masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air di Indonesia meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kegiatan industri, domestik dan kegiatan lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, antara lain menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan dan berbahaya bagi semua makhluk hidup yang tergantung pada sumber daya air (Effendi, 2003). Oleh karena itu, pengolahan sumber daya air sangat penting agar dimanfaatkan secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interprestasi data kualitas air, mencakup kualitas fisika, kimia, dan biologi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air mendefenisikan kualiatas air sebagai sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain didalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter, yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, BOD, COD, kadar logam, dan sebagainya). Dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya). Menurut ( Permenkes RI No 492 / PER/ IV/ 2010) menyatakan bahwa untuk menjaga kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat dilakukan pengawasan kualitas air minum secara eksternal dan internal. Kegiatan pengawasan kualitas air minum meliputi inspeksi sanitasi, pengambilan sampel air, pengujian kualitas air, analisis hasil pemeriksaan laboratorium, rekomendasi dan tindak lanjut. Sedangkan menurut Slamet ( 2004 ) kualitas air meliputi : a. Kualitas fisik 1) Air tidak boleh berbau Air minum yang berbau selain tidak estetis juga tidak akan disukai oleh masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk akan kualitas air. Misalnya, bau amis dapat disebabkan oleh tumbuhnya Algae. 2) Air tidak boleh berasa Air minum biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Rasa logam atau amis, rasa pahit, asin, dan sebagainya. Efeknya tergantung pada penyebab timbulnya bau tersebut. 3) Air tidak boleh berwarna Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna. 4) Kekeruhan Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari lapukan tanaman dan hewan. Buangan industri juga dapat menyebabkan kekeruhan. Zat organik dapat menjadi makanan bakteri, sehingga mendukung perkembang biakannya 5) Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk ± 250C) agar: - Tidak terjadi pelarutan kimia yang ada pada saluran/pipa yang dapat membahayakan kesehatan - Menghambat reaksi-reaksi biokimia didalam saluran/pipa - Mikroorganisme patogen tidak mudah berkembang biak - Bila diminum air dapat menghilangkan dahaga. 6) Jumlah zat padat terlarut (TDS) TDS ( Total Dissolved Solid ) biasanya terdiri dari zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan juga akan naik pula. b. Syarat Kimia Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia tertentu dalam jumlah melampui batas yang telah ditentukan. c. Syarat Bakteriologik Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (patogen) dan tidak boleh mengandung bakteri-bakteri golongan Coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 Coli/100 ml air. Atas dasar pemikiran tersebut dibuat suatu standar air minum yaitu suatu peraturan yang memberi petunjuk tentang konsentrasi sebagai parameter yang sebaiknya diperbolehkan di dalam air minum (Slamet, 2004). 2.1.4 Penyakit yang Berhubungan dengan Air Badley (1974) seperti yang dikutip oleh Soesetyono (1980) penyakit yang berhubungan dengan air dapat diklasifikasikan menjadi 4 macam, yaitu : 1. Penyakit yang penyebarannya melalui persediaan air yang terkontaminasi oleh mikroorganisme pathogen dari penderita (water borne disease). Penyakit-penyakit tersebut adalah typus oleh bakteri Salmonella, kolera oleh bakteri Vibrio cholerae, dan disentri oleh bakteri Shigella. 2. Penyakit yang dapat dipindahkan ke orang lain dengan jalan melalui air, juga dapat terjadi penyebaran langsung dari feses ke mulut atau lewat makanan kotor atau tercemar, sebagai akibat kurangnya air bersih untuk keperluan kebersihan pribadi (water washed disease). 3. Penyakit yang dikembangkan oleh binatang yang merupakan perantara (secondary host) dari mikroorganisme patogen yang hidup di dalam air (water based disease), sebagian besar disebabkan oleh infeksi cacing golongan Trematoda. 4. Penyakit yang dipindahkan serangga yang perjalanan hidupnya di dalam atau tergantung pada adanya air (water related insect vector disease). Serangga yang siklus hidupnya atau tempat bersarangnya di dalam air adalah nyamuk dan sejenis lalat yang hidup di Afrika (lalat Tse-Tse). 2.2 Tinjauan Tentang Bakteri Vibrio cholera 2.2.1 Taksonomi Klasifikasi bakteri Vibrio cholerae menurut Wachsmuth ( 1994 ) sebagai berikut : Kingdom Bacteria Phylum Proteobacteria Class Gamma Proteobacteria Order Vibrionales Family Vibrionaceae Genus Vibrio Spesies Vibrio cholerae 2.2.2 Morfologi Bakteri V. cholerae termasuk bakteri gram negatif, berbentuk batang bengkok seperti koma dengan ukuran panjang 2-4 mikrometer. Pada isolasi, Koch menamakannya Kommabacillus, tapi bila biakan diperpanjang, bakteri ini bisa menjadi batang yang lurus yang mirip dengan bakteri enterik gram negatif. Bakteri ini dapat bergerak sangat aktif karena mempunyai satu buah flagela polar yang halus (monotrik). Bakteri ini tidak membentuk spora. Pada kultur dijumpai koloni yang cembung (corvex), halus dan bulat yang keruh (opaque) dan bergranul bila disinari (Jawetz dan Joklik, 2001 dalam Amelia 2005). Kuman ini dapat bergerak sangat aktif karena mempunyai satu buah flagella polar yang halus ( monotrik ). Pada kultur dijumpai koloni yang cembung (convex), halus dan bulat yang keruh dan bergranul bila disinari Gambar 1 : Bakteri V.cholera ( Amelia, 2006 ) 2.2.3 Fisiologi Vibrio cholerae bersifat aerob atau anaerob fakultatif. Suhu optimum untuk pertumbuhan pada suhu 18-37°C. Dapat tumbuh pada berbagai jenis media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik pada agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS), yang menghasilkan koloni berwarna kuning (Gambar 2) dan pada media TTGA (Telurite-taurocholate-gelatin-agar). Gambar 2 menunjukkan Vibrio Cholerae pada media TCBS Selama 18 jam pada suhu 37°C menghasilkan koloni berwarna kuning ,keping, smooth dan zona berwarna kuning. Gambar 2 : pertumbuhan bakteri V. Cholera pada media TCBS selama 18 jam pada suhu 37˚C ( Marlina ,2007 ) Ciri lain bakteri V. cholerae adalah dapat tumbuh pada pH yang sangat tinggi (8,5-9,5) dan sangat cepat mati oleh asam. Pertumbuhan sangat baik pada pH 7,0 karenanya pembiakan pada media yang mengandung karbohidrat yang dapat difermentasi akan cepat mati (Amelia, 2005). Bakteri V. cholerae bersifat aerob dan anaerob fakultatif. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah pada suhu 18-30 derajat celcius. Bakteri ini dapat tumbuh pada berbagai jenis media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik pada agar TCBS (Thiosulfate-Citrate-bile-Sucrose), yang menghasilkan koloni berwarna kuning dan pada media TTGA (Telorite-Taurocholate-Gelatin agar) (Ballow, 1991). 2.2.4 Media Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan mikroba diperlukan makanan sebagai substrat yang disebut media. Sedangkan media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril artinya tidak ditumbuhi mikroba yang tidak dibutuhkan. Media yang digunakan untuk mengkultur Vibrio cholera adalah media APW (Alkalis Peptone Water ) yaitu media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri Vibrio cholera yang mempunyai pH alkali (8,5 – 9,5 ) dan mengandung natrium karbonat sebagai sebagai sumber nutrisi. Untuk mengetahui daya hambat bakteri Vibrio cholera digunakan modifikasi media yaitu media APW yang telah ditambahkan tawas dengan konsentrasi 0,5%, 1%,1,5%, 2%, 4%,6% dan 8%.Dan media TCBSA untuk pertumbuhan koloni Vibrio cholerae akan menghasilkan koloni berwarna kuning karena memfermentasi karbohidrat menjadi asam ( Suriawiria, 1985 ) Teknik yang digunakan dalam identifikasi fenotipe V. cholerae adalah uji lisin dekarboksilase dan ornitin (arginin) dekarboksilase, oksidase, Kliger Iron Agar (KIA), dan uji indol. Vibrio cholerae akan menunjukkan hasil positif pada keempat uji biokimia tersebut. Hasil positif untuk uji oksidase dan uji lisin dan arginin dekarboksilase adalah terbentuknya warna ungu tua. Pada uji KIA, tidak terbentuk gas, dengan slant (bagian permukaan media) berwarna merah (bersifat basa) dan butt (bagian dasar media) berwarna kuning (bersifat asam). Untuk uji indol, akan terbentuk warna merah keunguan pada permukaan (Suriawiria, 1985 ). 
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 Juli sampai 31 juli 2013 yang bertempat di Laboratorium Instalasi Mikrobiologi Balai Besar Laboratorium Kesehatan ( BBLK ) Jakarta, Jl. Percetakan Negara No.23 B Jakarta Pusat. 3.2 Jenis sampel Adapun sampel yang diuji adalah : 1. Air minum dengan nomor sampel 106 2. Air sumber dengan nomor sampel 109 3.3 Metode pengujian yang dilakukan Adapun metode yang dilakukan untuk pengujian ini adalah metode kualitatif ( biakan ), yang sesuai dengan Petunjuk pemeriksaan mikrobiologi Makanan dan Minuman Depkes; 1991 3.4 Alat dan Bahan 3.4.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Biosafety cabinet 1 Buah 2. Lampu bunsen 1 Buah 3. Pipet 1 ml / pipet ukur 1 ml 1 Buah 4. Sengkelit / ose 1 Buah 5. Tabung reaksi 2 Buah 6. Cawan petri 1 Buah 7. Inkubator 1 Buah 8. Bulb ( Bola hisap ) 1 Buah 9. Rak tabung 1 Buah 3.4.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam pnelitian ini adalah : 1. AP ( Alkalis peptone ) 90 ml 2. TCBS (Thiosulfate-Citrate-bile-Sucrose Agar )1 buah 3. KIA ( Krigler’s Iron Agar ) 1 Buah 4. Alkohol secukupnya 5. Tisu secukupnya 3.5 Metode Penelitian 3.5.1 Prosedur Kerja Menurut Depkes RI ( 1991 ), Langkah kerja dalam pengujian Vibrio cholerae adalah sebagai berikut : 3.5.1.1 Prapengkaya ( Pre Enrichment ) 1. Dilakukan homogenisasi air didalam botol lebih dahulu ( dikocok ± 25 kali ) 2. Dipipet 10 ml sampel air ke dalam 90 ml media AP ( Alkalis Peptone ), 3. Diinkubasi pada suhu 35 - 37°C selama 24 jam. 3.5.1.2 Pengkaya ( Enrichment ) 1. Diinokulasikan 1 ose biakan dari media AP yang terlihat keruh pada media selektif TCBS Agar 3.5.1.3 Isolasi 1. Diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. 2. Diamati pertumbuhan koloni pada media TCBS agar, koloni Vibrio cholera dengan warna kuning, ukuran sedang – besar, smooth, keping. 3.5.1.4 Uji biokimia 1. Diinokulasi koloni tersangka dari TCBS agar ke media KIA 2. Diinkubasi pada suhu 35 - 37°C selama 24 jam 3. Diinokulasi koloni dari KIA 4. Diinkubasi pada suhu 35 - 37°C KIA lereng Alkali Dasar Asam ( kuning ) Gas Negatif H2S Negatif 3.6 Bagan Langkah Kerja 10ml sampel air BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4 .1 Hasil Pengamatan dan Pembahasan 4.1.1 Kriteria sampel Hasil pengamatan kriteria sampel air minum dan air sumber seperti terlihat pada tabel dibawah ini : Jenis Sampel Warna Jumlah Bentuk Bau Rasa Wadah ( 106 ) Air minum Jernih 250 ml Cair Tidak berbau Tidak berasa Botol steril ( 109 ) Air sumber Jernih 250 ml Cair Tidak berbau Tidak berasa Botol Tabel 1 : Kriteria sampel sebelum di uji Berdasarkan tabel kriteria pengamatan diatas dapat diketahui bahwa air minum dengan no sampel 106 dan air sumber dengan no sampel 109 menunjukkan sampel sama – sama berwarna jernih, bentuk cair, tidak berbau dan ditempatkan pada botol steril. Tetapi untuk sampel air sumber hanya ditempatkan pada botol. Sampel air minum dan air sumber diambil 10 ml dari jumlah keseluruhan, Karena jumlah sampel ini dianggap dapat mewakili dari jumlah sampel keseluruhan. Peraturan menteri kesehatan RI Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990, menyatakan bahwa air yang layak dikonsumsi dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air yang mempunyai kualitas yang baik sebagai sumber air minum maupun air baku (air bersih), antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik, tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh, serta tidak berwarna. 4.1.2 Hasil pengamatan Hasil uji pra pengkaya sampel air minum dan air sumber seperti terlihat pada tabel dibawah ini : Sampel Hasil uji Kesimpulan Warna Bentuk Air minum ( 106 ) Jernih - Tidak terdapat bakteri Vibrio cholerae Air sumber ( 109 ) Keruh - Di duga terdapat bakteri Vibrio cholerae Tabel 2 : Hasil pada media AP Hasil uji prapengkaya dan isolasi pada air minum dan air sumber seperti terlihat pada tabel dibawah ini : Sampel Hasil Uji Kesimpulan Warna Bentuk Air minum ( 106 ) - - - Air sumber( 109 ) Tumbuh koloni warna kuning Datar keping, tepinya tipis, batang bengkok Diduga terdapat bakteri Vibrio cholerae Tabel 3 : Pada media TCBS Agar Hasil uji uji biokimia pada air minum dan air sumber seperti terlihat pada tabel dibawah ini : Sampel Hasil Uji Kesimpulan Warna Bentuk Air minum ( 106 ) - - - Air sumber( 109 ) Lereng berwarna tetap, dasarnya berwarna tetap Tidak terdapat gas dan H2S Terdapat bakteri Vibrio janis lain Tabel 4 : Pada media KIA 4.1.2.1 Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk uji mikrobiologis pada sampel air minum dan air sumber. Pengujian yang dilakukan adalah uji bakteri Vibrio cholerae. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif atau biakan, dan ini merupakan analisis data tanpa melakukan konversi ke angka. Pengujian terdiri dari uji pra prapengkaya, pengkaya, isolasi dan uji biokimia. Pada metode prapengkaya media yang digunakan adalah AP ( Alkalis Pepton) 90ml, untuk uji prapengkaya dan isolasi digunakan media TCBS dan untuk uji biokimia menggunakan KIA. a) Uji Prapengkaya Tahapan pertama yang dilakukan adalah uji prapengkaya menggunakan media pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae yaitu media AP ( Alkalis Peptone ) 90 ml kemudian ditambahkan sampel air minum sebanyak 10 ml, selanjutnya diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Menurut Suriawiria ( 1985 ), Media yang digunakan untuk mengkultur Vibrio cholera adalah media AP (Alkalis Peptone ), yaitu media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri Vibrio cholera yang mempunyai pH alkali (8,5 – 9,5 ) dan mengandung natrium karbonat sebagai sebagai sumber nutrisi untuk mengetahui daya hambat bakteri Vibrio cholera digunakan modifikasi media yaitu media AP yang telah ditambahkan tawas dengan konsentrasi 0,5%, 1%,1,5%, 2%, 4%,6% dan 8%. Berdasarkan hasil pengujian prapengkaya pada air minum ( 106 ), dan air sumber ( 109 ), hasil ini menunjukkan bahwa pada sampel air minum tidak ditemukan bakteri Vibrio cholerae. Hal ini dapt diketahui dari media AP yang sebelumnya berwarna jernih akan tetap jernih. Gambar 1 : Hasil media AP dan air minum setelah diinkubasi 24 jam Setelah mengetahui hasil dari pengujian negatif, maka tidak perlu dilanjutkan ke uji selanjutnya yaitu penanaman pada media selektif ( TCBS ), Karena TCBS hanya digunakan jika terdapat sangkaan pada media AP sampel positif tercemar bakteri Vibrio cholerae yang ditandai dengan kekeruhan pada media AP. Pada pengujian sampel air sumber hasilnya adalah positif yang diduga ada cemaran bakteri Vibrio cholerae, hasil ini dapat diketahui Setelah diinkubasi selama 24 jam, sampel menunjukkan hasil adanya pertumbuhan bakteri, dan dapat kita kenali dari media AP yang semula jernih menjadi keruh. Gambar 2 : Hasil media AP dan air sumber setelah diinkubasi 24 jam Persayaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air dapat diketahui melalui uji bakteriologis. Pada umumnya uji bakteriologis yang harus dipenuhi oleh air sebagai berikut ( Pitojo dan Purwantoyo, 2003 ) : 1. Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli, Shigella dysenteriae, Salmonella typhi, Salmonella parathypi, Vibrio cholerae. Bakteri – bakteri ini mudah tersebar melalui air ( transmitted by water ). 2. Tidak mengandung bakteri non- patogen, seperti Actinomycetes, Phytoplankton coliform, Ciaocera, Coliform, Fecal streptococci, Iron bakteri. b) Uji pengkaya dan Isolasi Untuk pengujian selanjutnya yaitu uji pengkaya. Pada uji ini suspensi bakteri yang terdapat dalam tabung reaksi diambil 1 sengkelit dan digores pada media TCBS agar. Media Thiosulfate-citrate-bile salts agar (TCBS) merupakan media selektif untuk isolasi dan pemurnian Vibrio. Setelah diinkubasikan dalam inkubator selama selama 24 jam pada suhu 37oC, hasil uji dari media TCBS menunjukkan koloni berwarna kuning dan kuningnya berbeda dengan kontrol karena pada koloni yang tumbuh pada sampel air warna kuningnya lebih tajam ,datar keping, tepinya tipis. Suriawiria ( 1985 ), menyatakan bahwa media TCBSA untuk pertumbuhan koloni Vibrio cholera akan menghasilkan koloni berwarna kuning karena memfermentasi karbohidrat menjadi asam. Media sebelum diinokulasi bakteri Media sesudah diinokulasi bakteri Gambar 3 : Petumbuhan koloni pada media TCBS ( positif ) Pada media TCBS kontrol Vibrio cholera terlihat koloni sedang-besar, jernih, smooth, keping, tepinya tipis, ada koloni yang berwarna kuning dengan zona yang berwarna kuning juga. Pada tahap isolasi, setiap koloni atau galur mikroba yang akan diidentifikasi harus benar benar murni dan untuk mendapatkan biakan murni digunakan media selektif yang memungkinkan untuk isolasi koloni mikroba tersangka berdasarkan pada karakter biokimia dari mikroba yang akan mempengaruhi sifat pertumbuhan bakteri pada suatu media spesifik. Identitas mikroba dapat dilihat dari pembentukan koloni yang spesifik pada media ( BPOM, 2008 ) c) Uji Biokimia Tahapan selanjutnya yaitu diinokulasikan koloni yang diduga dari TCBS agar ke media KIA kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C. Hasil uji KIA menunjukkan bahwa pada media berwarna tetap yaitu coklat kekuningan, tidak timbul gas dan H2S. KIA ini mengandung gula yang akan direaksikan oleh bakteri membentuk suasana asam yang ditandai dengan warna kuning, akan tetapi karena tidak ada cemaran bakteri bakteri V.cholera maka media berwarna tetap, Jika basa alkali ditandai dengan warna merah.Namun pada pengujian ini karbohidrat dalam media tidak terurai sehingga suasananya tidak menjadi asam. Gambar 4 : Hasil uji biokimia Vibrio cholerae pada KIA ( negatif ) Berdasarkan pengujian ini dapat kita ketahui bahwa uji Vibrio cholerae pada sampel air sumber tidak ditemukannya bakteri V.cholera tetapi dimungkinkan terdapat bakteri Vibrio dengan spesies yang berbeda. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hasil uji tersebut negatif antara lain proses kimia, fisis, dan biologis. Misalnya perusahaan air minum tersebut mengambil air langsung dari sumber mata air di pegunungan yang belum tersentuh oleh aktivitas manusia maupun hewan, serta proses pengolahaan dan produksinya yang sangat steril. Faktor lain adalah adanya penggunaan bahan kimia yang mampu mematikan bakteri koli fekal tersebut ataupun menggunakan proses flokulasi. Selain itu dimungkinkan ada cemaran bakteri Vibrio dengan spesies yang lain. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa : 1. Hasil uji bakteri Vibrio cholerae pada air minum dan air sumber yang di uji tidak ditemukan bakteri Vibrio cholerae atau negatif dari bakteri Vibrio cholerae 2. Sampel air minum dan air sumber tidang mengandung bakteri Vibrio cholerae 1. Saran Saran untuk peneliti selanjutnya : 1. Untuk lebih teliti dalam pengamatan koloni Bakteri Vibrio cholerae 2. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya ditambah perlakuan dan ulangan 3. Untuk selalu mensterilkan alat sebelum penelitian dilakukan DAFTAR PUSTAKA Amsyari, F. 1996. Membangun Lingkungan Sehat Menyambut Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka. Surabaya: Airlangga University Press. Austin, B. 1988. Marine Biology . Melbourne : Cambrige University Press. Ballow, A. William. J, Hausler. JK, Kenneth L. 1991. Manual of Chemical Cair Rumah Sakit Dan Uji Resistensinya Terhadap Beberapa Antibiotik. Diakses tanggal 29 Juli 2013. BPOMRI. 2008. Pengujian Mikrobiologi Pangan. Info POM Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Vol.9 No.2 Departemen Kesehatan RI. 1991. Pedoman Pengelolaan Makanan dan Minuman Hefni Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air, Yogyakarta : Kanisius Kusnaedi. 2004. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum, Jakarta : Puspa Swara. Lay, B dan Sugyo, H. 1992. Mikrobiologi Air. Bandung: Alumni Bandung Marlina, 2007. Deteksi Gen ctx Pada Bakteri Vibrio cholerae Hasil Isolat Limbah McGraw-Hill Companies, Seventh Edition.Microbiology Microbiology. Fifth Edition. Amerika : American Society Moh Soerjani, Rofiq Ahmad dan Rozy Munir. 1997. Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan, Jakarta : Universitas Indonesia. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka. Cipta. Onny Untung. 2004. Menjernihkan Air Kotor, Jakarta : Puspa Swara. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No :416/MENKES.PER/IX/1990 Tentang Syarat-Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air Bersih, Departemen Kesehatan R.I, Jakarta. Pitojo, s. Purwantoyo, E. 2003. Deteksi Pencemaran Air Minum. Demak : Aneka Ilmu. PP No20 Tahun 1990. Tentang Pengendalian Pencemar Air. Jakarta : Kementerian Sekretaris Prawiro. 1989. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. Purwoko, T. 2007. Fisiologi Mikroba. Jakarta : Bumi Aksara. Rismunandar, 2001. Air Fungsi dan Kegunaanya Bagi Pertanian, Bandung : SinarBaru Algaesindo. Salyers, A. A, and D. D. Whitt. 1998. Bacterial Phatogenesis, A Molecular Approach. Washington : ASM Press Soemirat, Juli. 2005. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada Soesetyono. H, 1980. Peranan Air Dalam Hubungannya dengan Penularan Penyakit, Majalah Kesehatan Masyarakat Th IX (24) Surbakti, BM. 1987. Air Minum Sehat. Surakarta : CV Mutiara solo. Suriawiria, Unus.1985.Mikrobiologi Air dan Dasar-Dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis.Bandung:Alumni ITB (1986). Suripin, 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta : Andi Offset. Sutrisno, Totok C, 2004. Teknologi Penyediaan Air Bersih, Jakarta : Rineka Cipta Universitas Perss. Wachsmuth IK, Blake PA, Olsvik O. Vibrio cholerae and Cholera: Molecular to Global Perspectives. ASM Press, Washington, DC,1994 .

Jumat, 07 Juni 2013

Adek Whati: Laporan KKL purwodadi

Adek Whati: Laporan KKL purwodadi: LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI DI KEBUN RAYA PURWODADI Disusun oleh : Kelompok 4 : 1. Siti ...

Jumat, 06 Juli 2012

Laporan KKL purwodadi



LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN
TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI

DI KEBUN RAYA PURWODADI



Disusun oleh :

Kelompok 4 :
1. Siti Fatimah                      (10620028)     
2. Alfi Hidayah                     (10620006)
3. Ilfa Luthfiana                    (10620017)
4. Sayyid Ulil Abshor           (10620036)
5. Rodliyatul Fitrianti            (10620034)
6. Eka Putri R.                     (10620035)
7. Nurul Faizah                     (10620005)
8. Nur Aini L.                        (10620030)
9.  Khilul Luthfiah P.             (10620007)
10. Rohana Imawati             (10620013)
11. Ulya Rufaida                  (10620020)
12. Nafsi                               (10620037)
13. Wilda shofia                   (10620027)
14. Ihda Nadzif Maulida       (10620026)
15. Faridah Dewi Nur Aini    (10620004)
16. wahyu Retno                  (10620014)


Asisten Pembimbing    : Lucky Perdana
     NIM                              : 09620034              

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALAIK IBRAHIM MALANG
2012
PENGESAHAN

Laporan Kuliah Kerja Lapangan dengan praktikan :
1. Siti Fatimah            
2. Alfi Hidayah           
3. Ilfa Luthfiana                   
4. Sayyid Ulil Abshor
5. Rodliyatul Fitrianti
6. Eka Putri R.
7. Nurul Faizah
8. Nur Aini L.
9.  Khilul Luthfiah Pambudi
10. Rohana Imawati
11. Ulya Rufaida
12. Nafsi
13. Wilda shofia
14. Ihda Nadzif Maulida
15. Faridah Dewi Nur Aini
16. wahyu Retno

telah disahkan sebagai salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Taksonomi Tumbuhan pada Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





                                                                                    Malang,14 April 2012

Koordinator Kuliah Kerja Lapangan                                        Asisten Pembimbing




                                                                                                Lucky Perdana
                                                                                                NIM. 09620034

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb,

Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji syukur penulis haturkan pada Ilahi Rabbi, atas segala nikmat, rahmat dan hidayah-Nya yang mampu mengantarkan penulis dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Sholawat serta salam semogasenantiasa tercurahkan kepada teladan junjungan umat Islam sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita dari masa kebodohan menuju masa yang gemilang.

Penulis menyadari bahwa setiap hal yang tertuang dalam penulisan laporan observasi ini ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya.

Semoga Allah memberikan balasan atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi peneliti lain serta menambah khasanah ilmu pengetahuan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Malang, 14 April 20112

           


                                                                                                                        Penulis

           







DAFTAR ISI

                       
                                                                                   
HALAMAN JUDUL....................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................... 2
KATA PENGANTAR............................................................................................... 3
DAFTAR ISI ............................................................................................................ 4
DAFTAR TABEL...................................................................................................... 5
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ 6

BAB  I. PENDAHULUAN........................................................................................ 6
A.    Latar Belakang....................................................................................... 6
B.    Tujuan.................................................................................................... 6
C.   Manfaat.................................................................................................. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 7
A.    Sruktur Vegetasi Hutan Tropika Basah................................................. 3
B.    Iklim Daerah Tropik............................................................................... 5
C.   Kebun Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah........................................ 6
D.   Pengelolaan Koleksi Herbarium............................................................ 9

BAB III. METODE PENELITIAN........................................................................... 16
A.    Waktu dan Tempat Penelitian.............................................................. 16
B.    Alat dan Bahan .................................................................................... 16
C.   Cara Kerja............................................................................................ 16

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................................ 17
A.    Koleksi Herbarium............................................................................... 17
B.    Kebun Raya Purwodadi....................................................................... 18
C.   Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi...................................... 23

BAB V . KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................. 59
A.    Kesimpulan.......................................................................................... 59
B.    Saran.................................................................................................... 60

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 61
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Koleksi Herbarium yang ada di Kebun Raya....................................... 17
Tabel 2. Daftar Koleksi Tumbuh-tumbuhan yang ada di Kebun Raya ......................... 19



DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Koleksi Herbarium yang ada di Kebun Raya....................................... 26
Tabel 2. Daftar Koleksi Tumbuh-tumbuhan yang ada di Kebun Raya ......................... 41

DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
1.    Kebun Raya Purwodadi
2.    Acacia mangium
3.    Averrhoa blimbi
4.    Hibiscus Schizopetalus
5.    Borreria hispida Schum
6.    Gnetum gnemon L.
7.    Strobilanthes crispus Bl
8.    Kigelia Africana
9.    Lagerstroemia torelli L.)
10.  Araucaria heterophylla 
11.  Echinodorus palaefolius
12.  Excoecaria cochinchinensis 
13.  Mimusops elengi L.
14.  Elephantopus scaber L.)
15.   Tevetia peruviana
16.   Mimosa pudica
17.  Ageratum Conyzoides L.
18.  Agatis dammara Warb

















BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Tumbuhan tersebar di belahan bumi mana saja dengan spesies yang berbeda-beda. Dimulai dari morfolgi, anatomi, kegunaan dan bahkan kerugiannya juga berbeda-beda. Pada dasarnya tumbuhan dikelompokkan menjadi beberapa golongan dari beberapa aspek, diantaranya dikelompokkan kedalam tumbuhan tingkat tinggi dan tumbuhan tingkat rendah.  Dimana tumbuhan tingkat tinggi ini dibagi lagi menjadi tiga aspek, yaitu Pteridophyta (tumbuhanpaku/penghasilspora), Gymnospermae (tumbuhanbijiterbuka), danAngiospermae (tumbuhanbijitertutup). Sedangkan contoh dari tumbuhan tingkat rendah adalah Alga dan Fungi.
Pengamatan tentang keanekaragaman hayati dari tumbuhan ini penting untuk dilakukan agar bisa menambah wawasan keilmuan kita tentang tumbuhan. Sehingga kita bisa menyatu dengan alam dan mengerti apa yang alam inginkan tanpa merusak lestari disekitar kita. Karena akhir-akhir ini sering sekali manusia merasakan kesengsaraan oleh adanya bencana alam, itu karena manusia sendiri tidak pernah mau memahami apa kebutuhan dari alam yang selama ini telah bersahabat dengan kita.

B.   TUJUAN
  1. Mengetahui tata cara pembuatan, penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Kebun Raya.
  2. Mengetahui keanekaragaman tumbuhan tingkat tinggi di Kebun Raya Mengadakan pengamatan terhadap spesies untuk mengetahui ciri khusus/karakteristik dari masing-masing spesies.

C.   MANFAAT
Manfaat dilaksanakannya kuliah kerja lapangan tentang  tumbuhan tingkat tinggi ini yaitu
1.         kita bisa secara langsung mengamati sekaligus mempelajari macam beserta manfaat dari spesies-spesies beberapa famili tumbuhan paku, tumbuhan biji terbuka dan tumbuhan biji tertutup yang ada di Kebun Raya Purwodadi. Adapun tumbuhan yang ada di Kebun Raya Purwodadi ini berasal dari berbagai daerah dan bahkan dari luar negeri, sehingga memudahkan kita untuk mengamati secara langsung tumbuh-tumbuhan yang sulit dijangkau tempatnya.
2.          kita mendapatkan pengarahan langsung mengenai cara pembuatan herbarium langsung dari pakarnya yang sudah terbiasamembuat herbarium/awetan tumbuhan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.            Sruktur Vegetasi Hutan Tropika Basah

Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber
daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999). Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan, termasuk juga tanaman kecil lainnya seperti, lumut, semak belukar, herba dan paku-pakuan. Pohon merupakan bagian yang dominan diantara tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan. Berbeda letak dan kondisi suatu hutan, berbeda pula jenis dan komposisi pohon yang terdapat pada hutan tersebut. Sebagai contoh adalah hutan di daerah tropis memiliki jenis dan komposisi pohon yang berbeda dibandingkan dengan hutan
pada daerah temprate (Rahman, 1992).
Hutan alami merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan (SPL) pertanian, dikarenakan keragaman pohon yang tinggi (Hairiah dan Rahayu, 2007).
Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3,5 milliar ton karbon (FWI, 2003).
Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan ini tidak pernah menggugurkan daunnya secara serentak, kondisinya sangat bervariasi seperti ada yang sedang berbunga, ada yang sedang berbuah, ada yang dalam perkecambahan atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai dengan sifat atau kelakuan masing-masing jenis tumbuh-tumbuhan tersebut. Hutan hujan tropis memiliki vegetasi yang khas daerah tropis basah dan menutupi semua permukaan daratan yang memiliki iklim panas, curah hujan cukup banyak serta tersebar secara merata (Irwan, 1992).
Daniel et al, (1992) menyatakan bahwa hutan memiliki beberapa fungsi bagi
kehidupan manusia antara lain: (1) pengembangan dan penyediaan atmosfir yang baik dengan komponen oksigen yang stabil, (2) produksi bahan bakar fosil (batu bara), (3) pengembangan dan proteksi lapisan tanah, (4) produksi air bersih dan proteksi daerah aliran sungai terhadap erosi, (5) penyediaan habitat dan makanan untuk binatang, serangga, ikan, dan burung, (6) penyediaan material bangunan, bahan bakar dan hasil hutan, (7) manfaat penting lainnya seperti nilai estetis, rekreasi, kondisi alam asli, dan taman. Semua manfaat tersebut kecuali produksi bahan bakar fosil, berhubungan dengan pengolahan hutan. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) hutan adalah masyarakat tetumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Keputusan Menteri Kehutanan RI, No.70/Kpts- II/2001).

Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) yang dimaksud analisis vegetasi atau studi komunitas adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan bahwa penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis. Struktur masyarakat hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik tertentu diantaranya, kepadatan, frekuensi, dominansi dan nilai penting.
  1. Kebun Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah   
Wadah plasma nutfah secara alami berupa ekosistem, dari jenis yang liar dapat berupa hutan, savana, semak, padang rumput, semi padang pasir dan sebagainya.
            Macam plasma nutfah, selain berupa jenis tumbuhan liar juga varietas primitif, varietas pembawa sumber sifat yang khusus, varietas unggul yang sudah kuno dan varietas unggul masa kini.
1. Jenis liar atas dasar sejarah pembudidayaan dan penggunaan potensinya dapat digolong-kan menjadi tiga kelompok yaitu :
- Jenis-jenis yang mungkin mempunyai nilai ekonomi, tetapi sama sekali belum mem-budidayakan atau dipetik hasilnya.
- Jenis-jenis yang sudah dipetik dan dimanfaatkan hasilnya tetapi belum atau tidak di-budidayakan.
- Jenis-jenis yang tidak dipetik hasilnya, akan tetapi setelah mengalami atau melalui hi-bridisasi baru kemudian dibudidayakan dan dimanfaatkan.
2. Varietas primitif
            Semua jenis yang dibudidayakan secara langsung atau tidak berasal dari liar. Varietas primitif adalah kultivar yang pembudidayaannya masih sederhana, belum mengalami pemuliaan. Tumbuhannya yang termasuk kelompok ini biasanya di daerah tumbuhnya mempunyai daya daptasi yang lebih baik, lebih tahan terhadap tekanan lingkungan yang bersifat fisik maupun biologi.
Hal ini dimungkinkan karena sudah ada seleksi gen secara alamiah yang tahan terhadap dingin, panas, hama ataupun penyakit di daerah tumbuh.
3. Varietas sumber sifat yang khusus
            Kultivar yang mempunyai kelebihan dalam sifat-sifat tertentu, misalnya kepekaannya terhadap pemupukan. Sinar ketahanan terhadap hama atau penyakit tertentu atau sifat khusus yang lain seperti produksi.
4. Varietas unggul
            Karena kemajuan di bidang pemuliaan, varietas unggul dapat diciptakan dengan merakit sifat-sifat yang baik dari beberapa sumber plasma nutfah.
Semakin besar sifat keanekaragaman yang dimilikinya, akan semakin bebas pemulia untuk merakit sifat-sifat yang  baik. Dengan silih bergantinya zaman, varietas unggul tidak dapat langgeng bertahan dipakai oleh petani. Memang pada saat tertentu atau pada kondisi yang memadai varietas unggul mampu mengatasi atau melebihi hasil varietas lain, akan tetapi pada kondisi yang lain untuk lingkungan yang kurang menguntungkan misalnya munculnya kembali penyakit atau hama di daerah penanamannya dapat memukul parah bahkan mengakibatkan fatal.
Hal ini dapat disadari sebagai akibat kehogenan sifat gennya yang tinggi, varietas unggul peka terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan.
Dengan pergantian varietas unggul-unggul dari masa ke masa, maka dikenal varietas unggul masa kini dan varietas unggul masa lampau atau yang sudah kuno.
Permasalahan Kelestarian Plasma Nutfah Nabati
            Sebagai salah satu sumber daya alam, pengelolaan pemanfaatan plasma nutfah sekarang ini dirasakan kurang sempurna yaitu banyak mengalami erosi yang menyebabkan berkurangnya dan hilangnya jenis-jenis tertentu.
            Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya erosi plasma nutfah nabati antara lain adalah :
1. Timbulnya peledakan penduduk yang sangat besar, yang menyebabkan perlunya perluas-an daerah permukiman di daerah-daerah pertanian yang mengakibatkan terjadinya penggusuran tempat tumbuh plasma nutfah.
2. Terjadinya eksploitasi hutan yang kebanyakan dilakukan dengan tidak memperhatikan kelestarian plasma nutfah yang dikandungnya, sehingga banyak jenis-jenis pohon yang mengalami erosi genetika seperti kayu olin, cendana, sawo, kecik. Di samping itu eksploitasi hutan juga berakibat merusak habitat hewan dan tumbuhan lain seperti jenis-jenis anggrek, paku-pakuan, rotan dan tanaman perdu yang lain.
3. Timbulnya tehnologi modern yang sering mengakibatkan terdesaknya bahan alam oleh bahan sintesis, sehingga membahayakan kelestarian plasma nutfah tertentu seperti tarum dan golongan serat-seratan.
4. Penggunaan tumbuhan untuk keperluan industri yang sering dilakukan secara besar-besaran tanpa memperhatikan peremajaan, misalnya golongan temu-temuan, kedawung, rotan, tengkawan.
            Semua kegiatan di atas adalah merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan terjadinya erosi plasma nutfah nabati, sehingga apabila proses tersebut terus berlangsung tanpa adanya usaha untuk mengatasinya, akan kehilangan beberapa jeis-jenis tertentu yang berarti juga kehilangan sebagian sumbernya alam.
            Sebagai akibat terjadinya erosi genetika mengakibatkan timbulnya kelangkaan pada jenis-jenis tertentu, untuk mengetahui tingkat kelangkaan dari suatu jenis plasma nutfah nabati, dikenal ada 5 macam katagori yaitu :
1. Extinct (punah) adalah sebutan yang diberikan pada tumbuhan yang telah musnah atau hilang sama sekali dari permukiman bumi.
2. Endangeret (genting) adalah sebutan untuk jenis yang sudah terancam kepunahan dan tidak akan dapat bertahan tanpa perlindungan yang ketat untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Contoh : Rafflesia arnoldii dan purwoceng (Pimpinella pruatjan).
3. Vulnerable (rawan) katagori ini untuk jenis yang tidak segera terancam kepunahan tetapi terdapa dalam jumlah yang sedikit dan eksploitasinya terus berjalan sehingga perlu dilindungi contohnya adalah : cendana (Satalum album) kayubesi (Eusideroxylon ewageri) dan ki koneng (Arcangelisis flava).
4. Rare (jarang) sebutan untuk jenis yang populasinya besar tetapi terbesar secara lokal atau daerah penyebarannya luas tapi tidak sering dijumpai, serta mengalami erosi yang berat. Contohnya : sawo kecik (Munilkara kauki), kedawung (Parkia roxburghii) dan pulai pandak (Rauvolfia serpentina).
5. Indeterminate (terkikis) sebutan untuk jenis yang jelas mengalami proses pelangkaan tetapi informasi keadaan sebenarnya belum mencukupi, sebagian besar jenis-jenis plasma nutfah nabati yang langka termasuk katagori ini.
Metode Pelestarian Plasma Nutfah Nabati
            Dalam penggunan sumber daya genetika, eksplorasi dan pelestarian adalah merupa-kan kegiatan pokok yang dwitunggal di dalam penyelamatan plasma nutfah. Eksplorasi menyelamatkan sumber daya yang ada di lapangan, pelestarian menyelamatkan koleksi yang baru dan yang sudah ada. Apabila dalam eksplorasi diperlukan mekanisme kegiatan yang terarah di lapangan yang seluas mungkin, sedangkan yang diperlukan dalam pelestarian adalah keefektifan organisasinya. Dalam kegiatan mengadakan eksplorasi, pengumpulan, evaluasi dan pelestarian plasma nutfah tersebut dimaksudkan untuk mencadangkan setiap nama koleksi yang juga dapat digunakan dalam mencari dan menciptakan bibit unggul baru melalui seleksi atau persilangan-pesilangan.
            Strategi pelestaria plasma nutfah nabati dapat berciri :
1. Genotin tunggal atau populasi.
2. Tumbuhan hidup, biji, tepung sari, biakan jaringan atau meristem.
3. Satu, beberapa atau banyak jenis ekonomi.
4. Bersifat nasional, regional atau internasional.
5. Dalam bentuk koleksi dasar (base collection) atau koleksi aktif.
            Dalam pelaksanaan strategi pelestarian biasanya timbul permasalahan-permasalahan sebagai akibat adanya faktor-faktor pembatas antara lain meliputi :
1. Masalah biasa yang menyangkut keuangan.
2. Hama dan penyakit.
3. Kemungkinan akan kehilangan kesempurnaan genetik.
4. Daur peremajaan.
5. Keterbatasan tenaga dan tehnik.
Sehingga untuk mencapai keberhasilan dalam pelestarian, dalam pelaksanaannya harus selalu diikuti dengan pemecahan masalah-masalah yang timbul.
            Metode pelestarian plasma nutfah nabati ada 2 bentuk yaitu yang disebut pelestarian IN SITU dan EX SITU.
1. Pelestarian in situ
            Cara pelestarian ini adalah melestarikan plasma nutfah di dalam komunitasnya, di dalam biotanya. Cara pelestarian ini pada umumnya cocok untuk jenis-jenis liar, sebab untuk pelestarian jenis liar sering timbul adanya kesukaran-kesukaran yang disebabkan :
- Faktor adaptasi terhadap daerah dan iklim yang baru.
- Faktor hama dan penyakit.
- Ukuran perawakan dan daur hidupnya.
Pelestarian secara in situ yang umum dilakukan adalah dengan cagar alam atau daerah lindung.
Pengawasan plasma nutfah di daerah lindung harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.
Pelestarian secara in situ dilaksanakan dalam hutan, semak, savana, stepa atau biota yang lain, jadi cara pelestarian ini dalam bentuk koleksi tumbuhan hidup. Sehubungan dengan tujuan pelestarian plasma nutfah yang ada, maka pengelolaan hutan seharusnya : keseimbangan ekosistem dijaga sestabil mungkin guna melindungi plasma nutfah yang belum diusahakan.
2. Pelestaria ex situ
            Pelaksanaan cara pelestarian ini adalah dengan mengeluarkan plasma nutfah dari wadahnya, ekosistemnya atau biotanya, dan cara ini akan dapat dianggap berhasil baik dan murah apabila yang dilestarikan dapat ditekan sampai tingkat yang minimal.
Ada beberapa bentuk dalam pelestarian secara ex situ :
- Koleksi tumbuhan hidup
Cara ini dapat dilakukan pada kebun raya, Arboreta, kebun buah-buahan, kebun tanaman luar (introduksi), stasiun/kebun pemuliaan dan kebun-kebun yang lain.
- Bentuk penyimpanan biji
Pelestarian dalam bentuk penyimpanan biji harus diperhatikan jenis biji yang akan disimpan, sebab atas dasar sifatnya ada 2 kelompok jenis biji yaitu :
a. Jenis yang orthodog yaitu jenis biji yang bereaksi positif terhadap pengeringan dan pendinginan atau juga disebut mempunyai kepekaan positif terhadap suhu rendah, pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
- penurunan kadar air sampai 5%
- suhu penyimpanan 10C, atau lebih baik 0sampai 20C
- disimpan di tempat yang gelap, tidak terjadi pertukaran uap air, gas dan kelembaban udara kurang dari 70%, tempat penyimpanan dapat berupa kaleng, gelas atau kantong aluminium.
- tekanan O2 dijaga serendah mungkin dan CO2 setinggi mungkin
b. Jenis yang rekalasitranya itu jenis biji yang bereaksi negatif terhadap pengeringan dan mungkin juga dengan pendinginan. Jenis ini banyak terdapat pada pertumbuhan tropis yang tumbuh di hutan atau daerah basah. Contoh : Cola, Artocarpus, Coffea, Theobroma, Havea dan macam-macam palmae, cara penyimpanan setiap jenis mempunyai persyaratan yang berbeda dengan jenis yang lain. Sehingga perlu penelitian yang lebih intensif.
- Bentuk penyimpanan tepung sari
Seperti penyimpanan kebanyakan biji, dalam penyimpanan tepung sari, daya hidupnya akan lebih panjang apabila diperlukan penurunan suhu penyimpanan, kadar air dan tekanan O. Yang masih sulit dijumpai adalah untuk penyimpanan dari jenis Gramineae, Alismataceae dan Cyperaceae.
- Bentuk penyimpanan persediaan meristem dan jaringan
Dalam bentuk penyimpanan ini daya berkembangnya ditekan sekecil mungkin atau dihilangkan sama sekali tetapi daya hidupnya dipertahankan sebaik mungkin.
Keuntungan dari cara ini adalah :
- Ruang yang diperlukan relatif sempit.
- Pemeliharaan murah dan sederhana.
- Tidak ada erodi genetika.
- Potensi perbanyakan tinggi.
- Yang bebas dari pathogen dapat dipelihara dan diperbanyak.
Kesulitannya adalah :
- Tidak semua jenis dapat dilakukan dengan cara ini.
- Regenerasi tumbuhan dari jaringan tidak selalu berhasil.
- Potensi perkembangan bentuk dapat hilang pada jangka penyimpanan tertentu.
Penyimpanan pada suhu rendah dimungkinkan lebih berhasil (suhu nitrogen cair -196C). Pelestarian plasma nutfah yang tidak dalam bentuk tanaman hidup, akan selalu disertai satu contoh herbarium yang sering disebut voecher atau herbarium acuan. Herbarium tersebut diperlukan sebagai jalan untuk mendeterminasi contoh yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian.




C.            Pengelolaan koleksi herbarium
v  Cara herbarium kering :
1.    Dibungkus tumbuhan dengan menggunakan kertas koran dan atur posisi akar, batang, dan  daunnya atur sebagian daun mengadah dan sebagian lainnya tengkurap
2.    Pada tangakai atau tumbuhan yang diherbarium diberi label spesies
3.    Ditali  koran dengan ravia agar tidak lepas
4.    Dimasukkan koran yang sudah ada tanamannya ke dalam kantong plastik
5.    Dicelupkan tumbuhan atau semprotkan larutan pengawet(alkohol atau spirtus) hingga koran basah- basah
6.    Dirapikan kantong plastik dan di rapatkan dengan selotip
7.    Dibuka  Setelah 1 – 2 hari dan dikeluarkan dari kantong plastik
8.    Dipanaskan dengan oven atau menggunakan pasir
9.    Setelah kering , Diatur posisi tumbuhan pada kertas gambar
10.   letakkan dengan menggunakan selotip
11.  Berikan label catatan

v  Cara Herbarium basah :
1.    Dibersihkan bahan yang akan di herbarium
2.    Dimasukkan tanaman kedalam botol atau toples yang sudah terisi alkohol
3.    Ditutup dengan malam
4.    Ditutup bahan plastik
5.    Diberi label catatan warna asli











BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Waktu dan Tempat
Penelitian untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan ini, dilakukan pada hari Minggu, tanggal 1 April 2012 di Kebun Raya Purwodadi kota Pasuruan, Jawa Timur.

B.    Alat dan Bahan
a.    Alat
Alat – alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.    alat tulis (buku / kertas, pensil / bolpen)
2.    buku panduan / acuan
b.     Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.    Jenis-jenis tumbuhan yang ada di Kebun Raya Purwodadi

C.   Cara Kerja
1.    Diamati organ-organ (bunga, daun, dan batang) pada suatu jenis tumbuhan untuk menentukan class, ordo dan familinya
2.    Dibandingkan dengan tumbuhan lain untuk mengetahui hubungan kekerabatannya
3.    Dicatat hasil pengamatan dalam buku / kertas, serta disusun klasifikasi dari masing-masing tumbuhan yang telah diamati.














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.            Koleksi Herbarium

Tabel 1

Koleksi
Deskripsi

Herbarium
Sampai dengan januari 2000, herbarium yang telah dikumpulkan sebanyak 199 suku,
669 marga, 1016 jenis, dan 3531 sheet,
Koleksi herbarium disimpan di ruang tersendiri dan dapat dimanfaatkan
untuk umum guna keperluan penelitian.


B.               Kebun Raya Purwodadi
  


Sejarah singkat Kebun Raya Purwodadi
Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi didirikan atas prakarsa Dr. D.F. Van Slooten
pada tanggal 30 Januari 1941 sebagai Pemekaran dari Stasiun Percobaan
S'Lands Plantentuin Buitenzorg
atau Kebun Raya Bogor.

            Mula-mula kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan.
 Kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar per-kebunraya-an yaitu  dengan dimulainya pembuatan petak-petak tanaman koleksi. Sejak tahun 1980 sebagian tanaman ditata kembali menurut kelompok suku  yang menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti.  Dalam perkembangannya diharapkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi  akan menjadi pusat konservasi dan penelitihan tumbuhan iklim kering di daerah tropis.
Kebun ini merupakan salah satu dari 3 cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi spesifik. Kedua cabang lainnya adalah Kebun Raya Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor). Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana ( Kebun Raya Bogor ), Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana Teknis yang bernaung dibawah dan bertanggung jawab kepada Deputi Ketua LIPI Bidang IPA. Yang pembinan sehari-hari dilakukan oleh Kepala Pusaat Penelitian dan Pengembangan ( Pulitbang Biologi ). Pengelolahan seluruh Kebun Raya ini berada dibawah tanggung jawab LIPI ( Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia )
Lokasi Kebun Raya ini terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan Lokasi ini terletak di tepi jalan besar yang menghubungkan 3 kota, yaitu Malang, Surabaya, dan Pasuruan. Jarak dari kota Malang adalah 24 km ke arah utara, dan dari kota Pasuruan 30 km ke arah barat daya dan dari kota Surabaya 65 km ke arah selatan. Luas Kebun Raya Purwodadi sakitar 85 ha, pada ketinggian 300m dpl dengan topografi datar sampai bergelombang.  Curah hujan rata--rata per tahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 22 - 32 C,
TUGAS DAN FUNGSI
Tugas utama adalah melakukan inventarisasi, eksplorasi dun konservasi tumbuh-tumbuhan dataran rendah kering yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi.

Fungsi Kebun Raya Purwodadi :
1. Melakukan inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan yang
mernpunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi, langka dan endemik. Terutama untuk flora Indonesia dari dataran rendah kering.
2. Menyediakan fasilitas penelitian, pendidikan dan pemanduan, khususnya di bidang botani.
3. Menyediakan fasilitas rekreasi di alam terbuka.

C.           Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi
Tabel 2
Koleksi
Deskriosi

Polon-polongan
Digolongkan menjadi 3 suku yaitu Mimosaceae, Caesalpiniaceae, dan Papilionaceae. Ada 157 jenis dari 70 marga yang termasuk dalam suku-suku tersebut. Berbagai jenis polong-polongan dimanfaatkan sebagai tanaman hias seperti jenis-jenis dari marga Amherstia, Brownea, Cassia, Senna, dan Saraca. Selain itu, beberapa jenis dimanfaatkan juga kayunya untuk bangunan seperti sonokeling (Dalbergia latifolia) dan wangkal (Albizia procera), tanaman penghijauan dan tepi jalan seperti Angsana (Pterocarpus indicus), Akasia (Acacia auriculiformis) dan Soga (Peltophorum pterocarpum). Ada pula yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat seperti Johar (Senna siamea), Kedawung (Parkia timoriana), Dadap srep (Erythrina subumbrans), dan Dadap ayam (Erythrina orientalis)

Anggrek
Ditempatkan di rumah kaca yang kondisinya disesuaikan dengan habitat alaminya. Ada sekitar 2.344 spesimen anggrek alam yang terdiri atas 319 jenis, 69 marga, dan 277 masih sp.. Sekitar 7 jenis merupakan anggrek endemik Jawa Timur seperti Appendicula imbricata, Dendrobium arcuatum, Paphiopedilum glaucophyllum (Anggrek Selop), dan lain-lain. Sedangkan yang terancam keberadaannya di alam antara lain Ascocentrum miniatum, Phalaenopsis amabilis (anggrek bulan), Coelogyne pandurata (anggrek hitam) asal Kalimantan dan lain-lainnya.


Palem
Palem termasuk dalam famili Arecaceae dan merupakan jenis-jenis tertua yang telah dijumpai sejak zaman Cretaceus, kurang lebih 120 juta tahun yang lalu. Arecaceae sangat menarik dari segi botani, keindahan bentuknya, keanekaragaman jenis dan kegunaannya. Famili Arecaceae di dunia diperkirakan 200-300 genus dan sekitar 2000-3000 jenis tersebar di daerah tropis dan sub tropis. Indonesia merupakan pusat keanekaragaman palem dunia, dari jumlah palem yang terdapat di dunia 46 genus di antaranya (576 jenis) terdapat di Indonesia dan 29 genus merupakan palem endemik. (LBN-LIPI, 1978; Witono, 1998; Sharma, 2002; Chin, 2003).
Sebagai salah satu lembaga konservasi tumbuhan ex-situ, Kebun Raya Purwodadi mempunyai tugas melaksanakan inventarisasi, eksplorasi, penanaman koleksi dan pemeliharaan tumbuhan dataran rendah kering yang memiliki nilai ilmu pengetahuan dan berpotensi untuk dikoleksi (dikonservasi). Kebun Raya Purwodadi seluas 845.148 m2 memiliki 174 famili, 904 marga dan 1.896 jenis dengan koleksi Arecaceae sejumlah 60 marga 117 jenis dan 435 individu berdasarkan katalog 2006 (Suprapto et al., 2006).

Bambu


Sekitar 30 jenis bambu telah dikoleksi Kebun Raya Purwodadi, 16 jenis berasal dari Jawa, 2 jenis dari Maluku, 2 jenis dari Sulawesi, dan 10 jenis dari beberapa negara Asia (Cina, Jepang, Thailand, India, dan Birma). Gigantochloa manggong (Bambu Manggong) merupakan bambu endemik Jawa Timur , Gigantochloa apus (pring apus) sering dipergunakan untuk mebel, kerajinan atau atap rumah, Dendrocalamus asper (pring petung) rebungnya untuk dimakan, dan Schizostachyum silicatum (bambu wuluh) untuk seruling.

Paku


Koleksi tumbuhan paku ditata di bawah pepohonan besar dan rindang, karena kelompok tumbuhan ini menyukai tempat rindang dan lembap. Koleksinya mencapai 60 jenis dari 36 marga dan 21 suku. Di antaranya paku sarang burung (Asplenium nidus), suplir (Adiantum spp.), hata (Lygodium circinnatum), dan paku tanduk rusa/simbar menjangan (Platycerium coronarium). Ada beberapa koleksi tumbuhan paku bermanfaat lainnya, seperti paku sayur (Athyrium esculentum) yang dapat dimakan tunasnya, Asplenium sp. dan Adiantum sp. sebagai tanaman hias, paku ekor kuda Equisetum debile sebagai bahan pengobatan, Cyathea contaminans sebagai bahan media tumbuh anggrek, dan hata Lygodium circinnatum sebagai bahan kerajinan.

Obat


Terletak di petak XIV G dan V A, ditata sedemikian rupa hingga berfungsi sebagai taman yang menarik untuk dinikmati. Di antara koleksinya adalah Pace (Morinda citrifolia), buahnya untuk obat batuk dan tekanan darah tinggi, daun ungu (Graptophyllum pictum), daunnya untuk obat wasir, Widoro upas (Merremia mammosa), umbinya untuk obat kencing manis, Sembung (Blumea balsamifera) daunnya untuk obat asma, sakit jantung, Wudani (Quisqualis indica) daunnya untuk obat cacing dan lain-lainnya.

Mangga

Ada 4 jenis koleksi mangga di Kebun Raya Punwodadi yaitu Mangifera indica, M. foetida, M. odorata yang berasal
dari Jawa, dan M. minor dan Sumbawa. Terdiri dari 37 kultivar seperti mangga endog, rnangga gurih, rnangga madu, mangga kopyor, mangga putihan, dan lain-lain.

Pisang

Ada 5 jenis koleksi pisang di Kebun Raya Purwodadi yaitu Musa acuminata, M. balbisiana (jenis liar yang berperan sebagal induk silangan pisang kultivar), M. troglodytarum, M. orrnata (mempunyal tandan buah yang rnenghadap ke atas) dan M. paradiksiaca yang merupakan pisang kultivar
Tercatat ada 148 pisang kultivar yang berada di XXIV A, B, D dan E. Salah satu pisang kultivar kebanggaan Kebun Raya Purwodadi adalab Pisang Kates, yang merupakan hasil silangan dari M, acuminata dan M. balbisiana, memiliki 3 - 5 buah per sisir dan ukurannya lebih besar dari pisang gajih.




















Hasil dan Pembahasan Tanaman Observasi Di Kebun Raya Purwodadi


Pohon akasia (Acacia magnium )


KLASIFIKASI
 Kerajaan  Plantae
      Divisi   Spermatophyta
            Kelas   Magnoliopsida
                  Ordo   Fabales
                        Famili   Fabaceae (Mimosoideae)
                              Genus   Acacia
                                    Spesies   Acacia mangium
DESKRIPSI
Pohon  Acacia mangium, selalu hijau, tinggi hingga 30 m. bebas bercabang dapat lebih dari setengah tinggi pohon kadang -kadang silindris pada batang bawah dan diameter jarang lebih dari 50 cm. Kulit kasar dan beralur, berwarna abu-abu atau coklat. Ranting kecil seperti sayap. Daun besar, panjangnya mencapai 25 cm, lebar 3-10 cm, hijau gelap dengan empat urat longitudinal (tiga pada A. auriculifor- mis); daun majemuk ketika bibit. Bunga berganda, putih atau kekuningan, dalam rangkaian yang panjangnya 10 cm, tunggal atau berpasangan di sudut daun pucuk.
Buahnya polong kering merekah yang melingkar ketika masak, agak keras, panjang 7-8 cm, lebar 3-5 mm. Sedangkan benihnya hitam mengkilat, lonjong, 3-5 x 2-3 mm, dengan ari (funicle ) kuning cerah atau oranye yang terkait di benih. Terdapat 66,000-120,000 benih/kg.
Pohon berukuran sedang hingga besar, tinggi dapat mencapai 35 m, batang bergaris tengah 90 cm, kulit batang berwarna ciklat keabuan hingga coklat tua; daun lurus di satu sisi dan melengkung di sisi lain (seperti bulan sabit dengan cekungan dangkal), panjang 25 cm dan lebar 3.5-9 cm, memiliki 4 (atau 5) urat daun utama yang memanjang; perbungaan bulir, panjang bunga 1.2-1.5 mm, terdiri dari 5 daun bunga; buah kering lurus atau melingkar, panjang 10 cm dan lebar 0.3-0.5 cm, berkayu.
MANFAAT
Kayu Acacia mangium merupakan sumber bahan untuk konstruksi, pembuatan perahu dan lemari. Tumbuhan ini juga menghasilkan buburkayu yang telah memiliki warna putih yang bersih sehingga menghasilkan kertas dengan kualitas yang tinggi.dan kebakaran. Daunnya biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain itu, jenis tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman reklamasi lahan bekas tambang batubara atau untuk penghijauan lahan kritis. Dan juga sebagai  kayu tiang, pengendali erosi, naungan dan perlindungan.Nilai lebih lain adalah kemampuan untuk ber- saingi dengan alang-alang (Imperata cylindrica).



Averrhoa blimbi
Kingdom  Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi  Spermatphyta (tumbuhan berbiji)
Subdivisi Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas Dicotyledonae (biji berkeping dua)
Ordo Oxalidales
Famili Oxalidaceae
Genus Averrhoa
                                                                                                Spesies   Averrhoa blimbi
·         Habitus
Tanaman belimbing manis merupakan semak, perdu atau pohon.
·         Morfologi Tanaman Belimbing
Ø  Ciri-ciri daun :
Daun belimbing manis adalah daun menyirip ganjil, daun tersebar, majemuk, anak daun tepi rata, daun penumpu tidak ada, anak daun bulat telur memanjang, meruncing, ke arah poros semakin besar, bawah hijau biru
Ø  Ciri-ciri bunga
bunga belimbing manis adalah bunga dalam ketiak daun yang masih ada atau yang sudah rontok atau pada kayu tua, beraturan, berkelamin 2, malai bunga pada ranting yang langsing, kerap kali dalam ketiak daun yang telah rontok, malai bunga kebanyakan terkumpul rapat, panjang 1,5-7,5 cm, bunga sebagian dengan benang sari pendek dan tangkai putik panjang, sebagian dengan benang sari panjang dan tankai putik pendek, benang sari 10, lepas atau bersatu pada pangkal, kepala sari beruang 2, berkelopak 5, kelopak tingginya lebih kurang 4 mm, daun mahkota 5, daun mahkota di tengah bergandengan, bulat telur terbalik memanjang, dengan pangkal dan tepi pucat, terpuntir waktu dalam kuncup, rontok, panjang daun mahkota 6-8 mm dan bunga berwarna merah ungu
Ø  Buah
Buah kotak atau buni, buah buni bulat memanjang, dengan 5 rusuk yang tajam, kuning muda, panjang 4-13 cm, bakal buah menumpang, persegi 5 atau berlekuk 5 dan tangkai putik 5. Buah belimbing berwarna kuning kehijauan. Saat baru tumbuh, buahnya berwarna hijau. Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang berbentuk bintang. Berbiji kecil dan berwarna coklat. Buah ini renyah saat dimakan, rasanya manis dan sedikit asam. Buah ini mengandung banyak vitamin C.
Salah satu obat tradisional yang digunakan secara turun temurun adalah buah belimbing manis. Kandungan kimia buah adalah protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. Sifat kimia buah adalah rasa asam, manis, dan netral. Adapun efek farmakologi buah sebagai antiradang, peluruh kemih (diuretik) dan peluruh liur. Buahnya dapat digunakan sebagai obat sakit tenggorokan, tekanan darah tinggi, kencing manis, kencing batu dan perbesaran limfe akibat penyakit malaria .Pemakaian di masyarakat Indonesia (50 kg/ orang) adalah dengan mencuci 2 buah belimbing manis matang lalu dimakan setiap selesai sarapan dan makan malam.
Buah belimbing mempunyai kandungan gizi cukup tinggi yang bermanfaat bagi tubuh. Dalam 100 gram buah belimbing yang matang mengandung energi (35 kal), protein (50 gram), lemak (0,7 gram), karbohidrat (7,70 gram),  kalsium (8 mg), serat (0,90 gram), vitamin A (18 RE), vitamin C (33Mg) dan niacin (0,40 gram)
Ø  Manfaat
Manfaat utama tanaman ini sebagai makan buah segar maupun makanan buah olahan ataupun obat tadisional. Manfaat lainnya sebagai stabilisator & pemeliharaan lingkungan, antara lain dapat menyerap gas-gas beracun buangan kendaraan bermotor, dll, menyaring debu, meredam getaran suara, dan memelihara lingkungan dari pencemaran karena berbagai kegiatan manusia. Belimbing wuluh berkhasiat sebagai obat encok, obat penurun panas dan obat gondok. Buah belimbing yang manis selain menyembuhkan batuk, demam, kencing manis dan kolesterol tinggi, juga cocok untuk meredakan sakit tenggorokan. Tidak hanya buah Belimbing yang berguna untuk obat, daunnya pun bahkan lebih banyak digunakan dalam penelitian ilmiah. Hal ini bukan berdasarkan kandungan kimia yang berbeda atau kelebihan dan kekurangan untur pada salah satunya, namun hanya alasan teknis semata. Serbuk daun lebih mudah distandarkan dalam gram, sedangkan buah sulit dikeringkan hingga tidak jelas parameternya. batang belimbing manis pun merupakan obat gosok untuk biang keringat.











Bunga Lampu (Hibiscus  schizopetalus)

                         
                      (Gambar literature)                        (Gambar pengamatan)
·        
 Klasifikasi:
Klasifikasi dari bunga lampu yakni (Hibiscus  schizopetalus ):
Kingdom  Plantae
Sub Kingdom Tracheobionta
     Divisi Magnoliophyta
              Kelas Magnoliopsida
      Ordo Malvales
                  Famili Malvaceae
                           Genus Hibiscus
                           Spesies  Hibiscus Schizopetalus




Deskripsi 

  • habitat   : 
 Perdu, menahun, tegak atau sedikit merunduk, tinggi 2-3 m
  • Batang                   :
Bulat, diameter 5-10 cm, percabangan rapat, permukaan kasar, warna coklat kehitaman
  • Daun                     :
Tunggal, duduk tersebar, berseling, mempunyai daun penumpu, tangkai silindris, panjang 3-5 cm, warna coklat keunguan, helaian daun bentuk oval sampe lonjong, panjang 5-8 cm, lebar 3-5 cm, ujung dan pangkal runcing, tepi bergelombang, berlekuk 2, pertulangan daun menyirip, permukaan kasar, warna hijau
  • Bunga           :
Bunganya sangat khas meskipun bentuknya menyerupai bunga kembang sepatu. Posisi bunga selalu menggantung ke bawah karena tangkainya panjang. Ujung ginofornya membelok ke atas. Kelopak bunga berwarna merah dengan tepi bercuping ke dalam tajam, sehingga seperti disobek-sobek. Tumbuhan ini belum dimuliakan sehingga warna petalnya selalu merah
Bunganya tunggal, diketiak daun, berkelamin ganda, kelopak bentuk tabung, ujung bercangap 5, hijau, benangsari dan putik menjuntai, tersusun dalam tangkai yang panjangnya 5-8 cm, warna merah, duduk di tengan cawan bunga, bakal buah menumpang, mahkota berlepasan, bentuk tidak simetris, halus, panjang 5-10 cm, warna merah,
  • Buah                    :
 Kendaga, beruang 5, bentuk bulat telur dengan ujung yang runcing, permukaan kasar, panjang 1-2 cm, warna hijau, Biji : Bentuk lanset, kecil, jumlah banyak, berwarna coklat
  • Akar                    : Tunggang, berwarna putih kehitaman

  • v  Ekologi dan penyebaran :
Merupakan tumbuhan yang umum di budidayakan dipinggir-pinggir jalan, kebun atau untuk pagar. Tumbuh dari dataran rendah sampai menengah dati ketinggian 200 m sampai 800 m diatas permukaan laut. berbunga pada bulan juni - september. waktu panen yang tepat bulan april - mei
  • v  Fungsi                  :

Astringent, anti radang dan pencahar
Khasiat dan pemanfaatan, obat sakit perut : bunga wora wari gantung segar sebanyak 30 gram, dicudi, direbus dengan 200 ml air sampai mendidih selama 5 menit, disaring, setelah dingin diminum sekaligus dilakukan sehari 2-3 kali, obat demam : daun segar sebanyak 30 gram, dicuci, direbus dengan 400 ml air sampe mendidih selama 10 menit, disaring setelah dingin diminum 2 kali sehari.
Kandungan kimia : daun dan bunga gantung mengandung saponin, kardenolin dan flavonoid, sedangkan daunya juga mengandung alkaloid.



Gempur batu (Borreria hispida Schum)


Klasifikasi :

Kingdom          Plantae
  Subkingdom  Tracheobionta
    Divisi             Manoliophyta
      Kelas            Magnoliopsida
        Ordo            Mubiales
          Famili          Rubiaceae
           Genus         Borreria
             Spesies      Borreria hispida s.

Nama daerah : gempur batu, kertas watu, bulu lutung, remuk sela.

Habitat: Tumbuh liar di hutan, di ladang pada tanah agak lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl.

Deskripsi tanaman:
Tumbuhan liar di hutan-hutan. Daun berbentuk tombak dan berakar, daun agak kasar. Bunga kecil-kecil warnanya putih. Tanaman gempur batu termasuk tanaman herbal yang banyak khasiatnya  yang dapat  menyembuhkan batu ginjal,empedu,obat luar/luka, dan susah buang air.
Perbanyakan gempur batu dapat dilakukan dengan anakan. Gempur batu dirawat dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembapan tanah, dan dipupuk dengan pupuk organik. Tumbuhan gempur batu menghendaki tempat yang cukup matahari dan dalam pencegahan penyakit sebaiknya tidak menggunakan pestisida.

BAGIAN TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN DAN PEMANFAATANNYA
Bagian daun dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit sebagai berikut.
  1.  Menghancurkan batu ginjal, kandung kemih, dan empedu  :Cuci bersih 4 raining gempur batu dan 7 batang tanaman meniran beserta akarnya. Rebus semua bahan dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, lalu minum 2 kali sehari, masing-masing ½ gelas. Lakukan secara rutin selama 1 bulan.
  2. Obat luar untuk diare:Cuci bersih batang dan daun gempur batu segar, masing-masing secukupnya, lalu giling halus bersama buah adas secukupnya. Tapalkan hasil gilingan yang telah halus pada bagian perut.
  3. Susah kencing  :Cuci bersih 15 g daun segar lalu rebus dengan 2 gelas air selama 15 menit sampai mendidih. Setelah dingin, saring, lalu minum sekaligus 1 kali sehari
  4.  Batu empedu:  Herba gempur batu segar 2 genggam; Air 110 ml, Dibuat infus atau pipisan, Diminum 2 kali sehari tiap kali minum 100 ml; Apabila dibuat pipisan diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 1/4 cangkir.
  5. Batu ginjal:  Herba gempur batu segar 2 genggam; Herba meniran segar 7 pohon; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 2 kali sehari; pagi dan sore; tiap kali minum 100 ml.















Melinjo (Gnetum gnemon)


Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     SubkingdomTracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi Gnetophyta
                 Kelas  Gnetopsida
                     Ordo  Gnetales
                         Famili Gnetaceae
                             Genus  Gnetum
                                 Spesies  Gnetum gnemon L.
Ø  Deskripsi :
 Pohon berumah dua yang selalu hijau dan berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5-10 m. Daun berhadapan, berbentuk jorong, panjang 7.5-20 cm dan lebar 2.5-10 cm; urat daun sekunder saling bersambungan. Perbungaan majemuk soliter dan aksiler, melingkar di tiap nodus, panjang bunga 3-6 cm. Terdapat 5 - 8 bunga betina di tiap nodus, berbentuk bola. Buah seperti buah keras (nutlike), berbentuk jorong , panjang buah 1-3.5 cm, bagian ujungnya runcing pendek, ketika masak warna buah berangsur-angsur akan berubah dari kuning, merah hingga keunguan. Satu biji dalam satu buah, buah besar dan kulit tengahnya keras berkayu (horny).
Ø  Distribusi/Penyebaran : Melinjo ditemukan di seluruh kawasan Asia Tenggara (meskipun merupakan tumbuhan asli dari Jawa dan Sumatra) dan tersebar hingga mencapai sebelah utara Assam dan sebelah timur Fiji.
Ø   Habitat : Melinjo tumbuh liar di hutan-hutan hujan pada ketinggian hingga 1200 m. Tempat-tempat beriklim kering umumnya membudidayakan tanaman ini. Tidak ada syarat tertentu terhadap faktor kualitas dan kedalaman tanah, namun kadar ikat air pada tanah atau irigasi perlu dilakukan selama musim kering. Spesies ini telah direkomendasikan sebagai tanaman penghijauan.
Ø   Manfaat tumbuhan : Daun-daun muda, bunga dan buah (muda dan tua) biasa diolah menjadi sayur. Bagian paling penting dari Melinjo adalah biji. Biji Melinjo dapat dimakan kering, dimasak, atau diawetkan menjadi kerupuk (Emping). Emping merupakan panganan hasil industri rumahtangga dan berperan penting bagi perekonomian masyarakat di Jawa. Selain itu, pohon Melinjo yang memiliki perakaran kuat ini juga baik ditanam untuk pemulihan kembali areal kritis. Di Jawa Tengah, Melinjo ditanam untuk merehabilitasi lahan dan konservasi tanah di sepanjang Daerah Aliran Sungai Gobeh.

      

Keji Beling
Strobilanthes crispus Bl



·         Sinonim: Sericocalyx crispus (L.) Bremek.
·         Nama umum:
-       Indonesia: keji beling
-       Melayu: pecah batu, batu jin



·         Klasifikasi:
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas Asteridae
                         Ordo Scrophulariales
                             Famili Acanthaceae
                                 Genus Strobilanthes
                                     Spesies Strobilanthes crispus Bl
·         Ciri Umum
1.    Habitus                                          : Perdu, tinggi 1-2 meter
2.    Batang                                           : Beruas, bentuk bulat, berbulu kasar
3.    Percabangan                                  : Simpodial, warna hijau
·          Daun
1.    Jenis Daun                                   : Daun tunggal
2.    Filotaksis                                       : Folia opposita (berhadapan)
3.    Bentuk dan Ukuran                        : Ovalis, panjang 9-18 cm dan lebar 3-8 cm
4.    Margo Folii                                   : Serratus
5.    Basis Folii                                     : Accutus
6.    Apex Folii                                     : Accuminatus
7.    Permukaan Daun  
            a. Warna                      :atas     : hijau tua
                                                 bawah : hijau muda
            b. Tekstur                     :atas     : kasar 
                                                 bawah : kasar dan berbulu
8.    Nervatio                                        : Penninervis
9.    Stipule                                           : -
10.  Catatan tambahan                          : Tangkai daun pendek

·          Bunga
1.   Bentuk bunga                                 : Mahkota bentuk corong dan berambut, kelopak berambut, aktinomorf
2.   Jumlah dan warna sepal                  : hijau / 4 - 5
3.   Jumlah dan warna petal                   : kuning / 4 – 5 (gabung)
4.   Jumlah stamen                                : 4
5.   Kedudukan ovarium                         : superior
6.   Infloresensi                                        : bulir
7.   Braktea/Brakteola                            : +
8.   Rumus Bunga                                  : * Ca 4-5, [Co(4-5), A4] G(2)

·          Buah
1.   Tipe Buah                                       :
2.   Bentuk dan ukuran                        : bulat
3.   Warna                                            : coklat


·          Lain-lain
1.   Getah dan warna getah                 : -
2.   Bau ( aromatik dll )                        : -
3.   Sulur                                              : -
4.   Duri                                                : -
5.   Umbi                                              : -
6.   Rhizoma                                         : -
















Buah gada ( Kigelia africana )
Klasifikasi :
Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
    Subkingdom   Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
        Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi   Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas   Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                    Sub Kelas   Asteridae
                       Ordo   Scrophulariales
                           Famili   Bignoniaceae
                              Genus   Kigelia
                                  Spesies  Kigelia africana (Lam.) Benth.
Habitat di daerah tropis
Akar : Akar tunggang jenis banir
Batang : Batang berkayu tumbuh authotrop. Cabang simpodial plagiotrop
Daun : Bangun daun jorong ( 2 : 1 ). Ujung daun runcing . Pangkal daun membulat. Tulang daun menyirip. Tepi daun rata . Termasuk daun majemuk menyirip ganjil
Bunga : Bunga majemuk tangkai ibu perbungaan hampir dua (2) meter menggantung kebawah. Termaksud bunga aksilar atau bunga ketiak
Buah : Lapisan eksokarp mengeras. Panjang buah kurang lebih 50 cm. Lingkar buah 35,5 cm. Filotaksis atau tata letak daun berhadap berkarang semu.

Manfaat :
Untuk mengobati problem penyakit kulit, seperti infeksi jamur,eksim,kebakar,lepra,syphilis kanker dll. Malaria,disentri,diabetes,pneumonia dll Juga untuk obat kecantikan,menghaluskan kulit bijinya untuk pembuatan Bir dan Obat Perangsang nafsu birahi ( afrodisiak)













Bungur Kecil (Lagerstroemia torelli L.)
Klasifikasi  :
Regnum   Plantae
   Divisio   Spermatophyta
      Sub Divisio   Angiospermae
         Kelas   Dicotyledoneae
            Sub Kelas   Dialypetalae
               Bangsa   Myrtales
                  Famili   Lythraceae
                     Genus   Lagerstroemia
                          Spesies   Lagerstroemia torelli

Nama umum
Indonesia: Bungur kecil, ketangi
Inggris: crape myrtle

Nama daerah :
Sumatera :  Bungur (Melayu) Bungur kuwal (Lampung) Bungur tekuyung (Palembang)
Jawa :  Bungur (Sunda) Kelangi {Jawa Tengah) Bhungor (Madura).

Deskripsi :
Habitus            Pohon, tinggi 10-20 m.

Batang             Bulat, bercabang, coklat muda.

Daun               Tunggal, bulat telur, panjang 9-28 cm, lebar 4-12 cm, hijau.

Bunga              Majemuk, bentuk malai. panjang 10-50 cm, di ketiak daun dan ujung batang, putik dan tangkai benang sari putih, kepala sari kuning, daun mahkota bulat telur, panjang ± 5 mm, ungu

Buah                Kotak, beruang tiga sampai tujuh, panjang ± 3,5cm, masih muda hijau setelah tua coklat.

Biji                   Pipin, ujung bersayap, coklat kehitaman.

Akar                Tunggang, coklat muda.

Khasiat
Bij i Lagerstroemia speciosa berkhasiat sebagai obat eksim dan obat penurun tekanan darah tinggi.
Untuk obat eksim dipakai ± 5 gram serbuk bij i Lagerstroemia speciosa, biji dibakar hingga hangus lalu ditumbuk sampai halus, ditambah 1/2 sendok teh minyak kelapa diaduk sampai rata, dioleskan pada eksirn.

Kandungan kimia
Daun Lagerstroemia speciosa mengandung saponin, flavonoida dan tanin.














Araucaria heterophylla
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEUEqU7uJYWBZDJFm6zYozAtzTxCfNiMB5e_N77bTomw5DuZAYyGD7YZqKvMAda0w_qVGKgT6nIonomNKzJqdhyv8R8zsFFo6QurtHTLv8gJ9NypjpSBRTOBQpTSNJAsSqYwZwxxVby2iV/s320/cemara-norfolk.jpg     http://www.plantsupply.com.my/MyImages/tree/Araucaria%20Heterophylla.jpg
Nama umum
Indonesia
: Cemara norfolk
Inggris: Norfolk island pine
Asal / Habitat  :  Pulau  Norfolk, wilayah Australia

KLASIFIKASI :
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
      Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
            Divisi  Coniferophyta
                Kelas  Pinopsida
                     Ordo  Pinales
                           Famili  Araucariaceae
                              Genu  Araucaria
                                    Spesie  Araucaria heterophylla (Salisb.) Franco
Cemara Norfolk atau dalam bahasa Latin dikenal dengan nama Araucaria heteropylla (Salisb.) Franco., termasuk famili Araucariaceae; berasal dari kepulauan Norfolk, New Zealand. Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Cemara Norfolk.
Tetumbuhan runjung atau Pinophyta, atau lebih dikenal dengan nama konifer (Coniferae), merupakan sekelompok tumbuhan berbiji terbuka(Gymnospermae) dengan ciri yang paling jelas yaitu memiliki runjung ("cone") sebagai pembawa biji. Kelompok ini dulu dalam klasifikasi berada padatakson "kelas" namun sekarang menjadi divisio tersendiri setelah diketahui bahwa pemisahan Gymnospermae dan Angiospermae secara kladistikadalah polifiletik. Kurang lebih ada 550 spesies anggota divisio ini, berbentuk berupa semak, perdu atau pohon.Kebanyakan anggotanya memiliki tajuk berbentuk kerucutdan memiliki daun yang memanjang.(lanset) atau berbentuk jarum (sehingga dikenal juga sebagai tumbuhan berdaun jarum). Bentuk daun semacam ini dianggap sebagai adaptasi terhadap habitat hampir semua anggotanya yang banyak dijumpai di wilayah bersuhu relatif sejuk, seperti sekeliling kutub (circumpolar) atau di dataran tinggi.
Penyebaran :
Tumbuhan runjung kebanyakan tersebar di daerah beriklim sedang. Bentuk daunnya yang sempit sangat adaptif dengan suhu yang rendah yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

DESKRIPSI :
BATANG :
 Batang tanaman kasar, mencapai ketinggian 5 m lebih dengan cabang-cabang melintang atau tumbuh horizontal mengelilingi pohon.  Setiap tahun tanaman ini pertumbuhannya bertambah 7,5 – 15 cm. Cabang-cabangnya kuat dan besar,Kulit silinder, berkelupas.Terdapat lentisel pada batang.Percabangan bertingkat.

BUNGA :
Bunga serumah tapi kelamin tetap satu.
Perkembangbiakannya melalui biji, cangkok, dan stek.
Bunganya memiliki benang sari banyak.
DAUN :
Memiliki daun yang memanjang (lanset) atau berbentuk jarum (sehingga dikenal juga sebagai tumbuhan berdaun jarum).Bentuk daun semacam ini dianggap sebagai adaptasi terhadap habitat hampir semua anggotanya yang banyak dijumpai di wilayah bersuhu relatif sejuk, seperti sekeliling kutub (circumpolar) atau di dataran tinggi.Tulang daun sejajar,Daunnya selalu hijau dan tidak pernah gugur (evergreen). Strobilus terminal.
BUAH :
            Buahnya berbentuk rajang buah yang sudah tua, besar dengan diameternya 10 – 13 cm
POHON :
Pohon tanaman ini membentuk mahkota berbentuk pyramidal
Pemanfaatan
Jenis-jenis tanaman Araucaria termasuk spesies Araucaria heterophylla merupakan tanaman yang sering dipergunakan untuk keperluan tanaman hias. Jenis-jenis tanaman Araucaria juga menghasilkan resin (Tjitrosoepomo, 2002). Tanaman yang menghasilkan resin dapat dipergunakan untuk keperluhan bahan-bahan kosmetika. Kayu-kayu tua dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, tetapi jenis ini sangat cepat terbakar sehingga bara api akan menjadi lebih cepat habis.
 Tanaman ini berfungsi sebagai tanaman outdoor dan pembatas antara tanaman dengan gedung bangunan atau rumah.

Perbanyakan Tanaman.
Perbanyakan tanaman yang biasa dilakukan ialah dengan cara pencangkokan batangnya. Batang yang dicangkok harus dipilih yang tidak terlalu muda atau terlalu muda. Beberapa lama setelah dilakukan pencangkokan biasanya di sekitar bekas sayatan akan keluar akar-akarnya. Bila jumlah akar-akar cangkokan ini sudah cukup banyak dan diperkirakan sudah dapat hidup untuk ditanam, bibit cangkokan ini sudah dapat dipotong dan ditanam di tempat yang telah disiapkan untuk penanaman








Melati Air (Echinodorus palaefolius )

http://www.plantamor.com/thumbnails/echlatus04n.jpg Echinodorus palaefolius




Klasifikasi
Kingdom Plantae
     Subkingdom Tracheobionta
         Super Divisi Spermatophyta
             Divisi Magnoliophyta
                 Kelas Liliopsida
                     Sub Kelas Alismatidae
                         Ordo Alismatales
                             Famili Alismataceae 
                                 Genus Echinodorus
                                     Spesies Echinodorus palaefolius 

Deskripsi :
Echinodorus palaefolius adalah nama latin dari tanaman Melati Air yang dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Mexican-Sword Plant.
Tanaman ini punya banyak kelebihan. Selain rajin berbunga tak kenal musim, melati air (Echinodorus palaefolius) juga punya bentuk daun yang eksotis, makin ke atas makin melebar. Ada3 jenis melati air yang dikenal secara awam. Menurut Muslim dari Duta Lotus Sawangan, Depok,ada yang biasa disebut dengan melati air nomor 1, nomor 2 dan nomor 3. Masing-masing memilikiciri berbeda.Yang paling laku adalah melati air nomor 3. Perbedaannya, melati air nomor 1 memiliki bentuk daun lebih tebal dan lebar seperti mangkuk, tanpa gelombang di sekeliling daunnya.Bunganya dobel, satu kuncup bisa muncul beberapa bunga.Bentuk daun melati air nomor 2 mirip dengan nomor 1. Bedanya, sekeliling daunnya bergelombang. Bunganya juga dobel. Sementara melati air nomor 3 daunnya lebih kecil dengancorak kehitaman semacam tompel, dan batang lebih panjang.Tompel ini bukan penyakit atau kelainan pada tanaman, melainkan ciri melati air nomor 3.Ada lagi melati air variegata dan melati air daun merah. Daun dan batangnya berwarna merah,sementara bunganya putih besar.Bunga melati air berwarna putih dan muncul sepanjang waktu. Bunga inilah yang digunakanuntuk perbanyakan. Setelah mekar dan keluar tunasnya, kemudian keluar daun. Nah, daun ini laludipotong dan ditancapkan ke media tanam. Satu pucuk bisa berisi 3 tunas. Bisa langsung ditanamsekaligus, bisa pula dipecah satu-satu.Yang harus diingat, kadar stres melati air cukup tinggi. Jadi, kalau mau memecah bunga,sebaiknya hati-hati. Kalau dipecah, pasti stres, meskipun nggak sampai mati. Paling daunnyahangus atau kering dan kita berharap ke daun baru untuk keluar tunas baru.Daun yang stres ini sebaiknya dipotong, sementara tunasnya langsung ditanam, tidak perludipecah-pecah. Ini supaya ketika satu rusak, daun lainnya masih bisa berkembang dan bagustampilannya.Perawatan melati air relatif gampang. Yang penting cukup air, tidak kering kerontang.Sebetulnya kondisi lembap pun sudah cukup. Bahkan, dilempar pun bisa hidup. Cuma, tergantungkebiasaan. Kalau sudah terbiasa tergenang air, sebaiknya harus selalu tergenang. Begitu tumbuh

akar, melati air akan mencari sendiri tanah yang sesuai untuknya. Yang penting tanaman air bisa berdiri tegak, setelah itu ia akan menyesuaikan sendiri.

Hama dan Gangguan

Ada beberapa gangguan yang sering mampir ke melati air. Yang pertama adalah karat pada daun. Muncul bercak kekuningan di daun akibat terkena air hujan, khususnya pada jenis melati air nomor 1. Agar tak terkena penyakit karatan, hindari terkena air hujan secara langsung. Penyakit lain adalah serangan kutu hitam dan belalang. Untuk mengatasinya cukup menggunakan insektisida seperti Furadan atau Decis.

Cara Pengembangbiakan

Bunga melati air berwarna putih dan muncul sepanjang waktu. Bunga inilah yang digunakan untuk perbanyakan. Setelah mekar dan keluar tunasnya, kemudian keluar daun. Daun ini lalu dipotong dan ditancapkan ke media tanam. Satu pucuk bisa berisi 3 tunas. Bisa langsung ditanam sekaligus, bisa pula dipecah satu-satu.
Yang harus diingat, kadar stres melati air cukup tinggi. Bila ingin memecah bunga, sebaiknya hati-hati. Kalau dipecah, pasti stres, meskipun tidak sampai mati. Paling daunnya hangus atau kering dan kita berharap ke daun baru ­untuk keluar tunas baru.
Daun yang stres ini sebaiknya dipotong, sementara tunasnya langsung ditanam, ­tidak perlu dipecah-pecah. Hal ini supaya ketika satu rusak, daun lainnya masih bisa ber­kembang dan bagus tampilannya.

Cara Perawatan

Perawatan melati air ­relatif gampang. Yang penting cukup air, tidak kering kerontang. Sebetulnya kondisi lembap pun sudah cukup. Bahkan, dilempar pun bisa hidup. Cuma, tergantung kebiasaan. Kalau sudah terbiasa tergenang air, sebaiknya harus selalu ter­genang.Begitu tumbuh akar, melati air akan mencari sendiri tanah yang sesuai untuknya. Yang penting tanaman air bisa berdiri tegak, se­telah itu ia akan menyesuaikan sen­diri.
Perawatan sehari-hari yang lain adalah rajin-rajin mengecek apakah ada belalang atau kutu hitam. Kutu hitam akan menyebabkan daun tak bisa membesar. Kutu hitam juga cepat menular dan beranak.

Tak Boleh Sembarang Bongkar

Banyak juga yang mengeluhkan tanaman air cepat rusak. Sebetulnya itu tergantung perawatannya. Kuncinya hanya dua, yaitu cukup air dan pemberian pupuk NPK. Pada saat daun mulai mengecil atau menguning, saatnya memberi beri NPK. Biasanya daun akan normal kembali.
Setelah tanaman cukup besar, sebaiknya dipindah ke wadah yang lebih besar. Bisa ke bak atau pot. Melati air sangat bagus tumbuh di media yang lebar. Makin lebar dan besar wadah, makin bagus tampilannya. Bisa menggunakan pot tanah, sementara media tanamnya lumpur, pupuk kandang, ditambah pupuk NPK.
Yang harus diperhatikan, sebaiknya berhati-hati ketika memindahkan melati air dari ember ke wadah yang lebih besar, pot misalnya. Tak boleh sembarang bongkar agar akar tanaman tidak putus.
Cara yang tepat, dengan menuangkan melati air beserta media tanamnya dari wadah asal dan biarkan ia keluar dengan sendirinya. Setelah keluar, baru diangkat dan dipindah ke pot.


















Sambang Darah (Excoecaria cochinchinensis)

              http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/gambar/sambang_darah.jpg                   http://www.plantamor.com/thumbnails/exccocis03n.jpg
Nama Umum
Indonesia         : Sambang darah, daun lamban, daun remek daging, ki sambaing.
China               : ji wei mu

Klasifikasi
Kingdom Plantae
     Subkingdom Tracheobionta
         Super Divisi Spermatophyta
             Divisi Magnoliophyta
                 Kelas Magnoliopsida
                     Sub Kelas Rosidae
                         Ordo Euphorbiales
                             Famili Euphorbiaceae
                                 Genus Excoecaria
                                     Spesie: Excoecaria cochinchinensis

Tanaman ini lebih di kenal sebagai tanaman obat. Tumbuh  di alam liar atau  di tanam sebagai pagar hidup karena tajuknya yang rimbun. Sambang Darah yang nama latinnya adalah Excoecaria cochinchinensis,  termasuk dalam keluarga Euphorbiaceae. Di Indonesia, Sambang Darah dikenal juga dengan nama Daun Remek Daging / Ki  Sambang.

HABITAT: Umumnya, sambang darah di tanam di pekarangan sebagai pagar hidup atau tanaman obat, di taman-taman sebagai tanaman hias, atau tumbuh liar di hutan dan di ladang pada tempat yang terbuka atau sedikit terlindung. Tanaman yang berasal dari Indocina ini tidak menyukai tanah yang tergenang air.
HABITUS:
Perdu yang tumbuh tegak ini mempunyai tinggi 0,5--1,5 m, percabangan banyak, getahnya berwarna putih dan berracun.
DAUN: Daun Sambang Darah sangat unik karena terdiri dari dua warna, hijau di bagian atas dan merah di bagian bawah. 
Daun tunggal, bertangkai, helaian daun bentuknya jorong sampai lanset memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi, tulang daun menyirip dan menonjol pada permukaan bawah, panjang 4--15 cm, lebar 1,5--4,5 cm, warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap. Daun muda warnanya lebih mengilap.

BUNGA: Bunga keluar dari ujung percabangan, bentuknya kecilkecil, warnanya kuning, tersusun dalam rangkaian berupa tandan, bunga jantan lebih banyak daripada bunga betina.

BUAH: Buah tiga keping, bundar, dengan diameter sekitar 1 cm.

MANFAAT: Daun, akar dan ranting sambang darah dapat dimanfaatkan sebagai obat. Sambang Darah banyak digunakan untuk mengatasi disentri, menghentikan pendarahan (batuk darah, muntah darah, dan pendarahan waktu melahirkan/haid). Daunnya dapat digunakan untuk mengatasi gatal karena penyakit kulit.

PERBANYAKAN TANAMAN: Cara memperbanyak tanaman ini adalah dengan stek batang atau cangkok. Media tanam sangat penting. Ia lebih menyukai media yang kering atau tidak tergenang air

PEMANFAATAN:
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, ranting, dan akarnya.

INDIKASI
Sambang darah digunakan untuk mengatasi:
banyak mengeluarkan darah sewaktu haid dan melahirkan,
batuk darah, muntah darah, luka berdarah, dan
disentri.

CARA PEMAKAIAN
Untuk obat yang diminum, lihat contoh pemakaian. Pemakaian luar digunakan untuk pengobatan gatal-gatal dan penyakit kulit kronis, seperti psoriasis, ekzema kronis, neurodermatitis, dan luka berdarah. Caranya, cuci daun segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Bubuhkan ke tempat yang sakit, lalu balut.

CONTOH PEMAKAIAN
·         Disentri
Cuci daun sambang darah (15 lembar), lalu rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa dua gelas. Setelah dingin, saring airnya untuk dua kali minum, pagi dan sore hari.

·         Muntah darah
Cuci daun sambang darah (10 lembar ), lalu giling halus. Tambahkan garam seujung sendok teh dan air masak sebanyak setengah cangkir. Aduk merata, lalu saring dan peras dengan sepotong kain. Minum sekaligus.

·         Perdarahan haid
Cuci ranting kering sambang darah sebesar jari kelingking, lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa separuhnya. Minum air rebusannya sehari tiga kali, masing-masing setengah gelas.

·         Perdarahan setelah bersalin, keguguran
Cuci akar kering sambang darah sebesar satu setengah jari kelingking, lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan dua gelas air minum sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin saring dan minum sehari dua kali, masing-masing setengah gelas.

















Tanjung (Mimusops elengi L.)

Lokasi  : Kebun Raya Purwodadi
Tanggal: 1 April 2012
·         Klasifikas:
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas Dilleniidae
                         Ordo Ebenales
                             Famili Sapotaceae
                                 Genus: Mimusops
                                     Spesies Mimusops elengi L.
·         Nama umum:
-       Indonesia: Tanjung
-       Inggris     : Spanish Cherry

·         Habitus:
berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 15 m.
·         Perakaran: tunggang
·         Batang:
berbentuk bulat dengan arah tumbuh yang tegak lurus, permukaan batangnya kasar, dengan percabangan yang monopodial.
·         Daun:
berbentuk jorong atau bulat telur memanjang. Mempunyai pangkal daun yang bulat dan ujung tumpul, dan tepi daunnya berombak. Urat daunnya menyirip dengan tekstur daun licin berwarna hijau tua.
·         Bunga:
merupakan bunga tunggal atau dua dalam ketiak daun, menggantung, berkelamin dua dan berbau enak. Daun kelopak dalam 2 karangan empat yang perlahan-lahan menyempit. Mahkota sama panjangnya dengan kelopak, berwarna putih kotor dengan tabung lebar yang pendek dan sedikit banyak terletak dalam 2 karangan. Benang sari tertancap dalam leher yang berambut, berseling dengan staminodia yang ujungnya bergigi dan pipih. Tangkai putik tidak atau hampir tidak dapat menjulang di luar bunga. Buah memanjang, berwarna merah oranye dengan kelopak yang tidak rontok.
·         Biji:
Bijinya satu dengan sisi yang pipih, berwarna hitam coklat dan terdapat dalam daging buah yang berwarna muda.
·         Manfaat:
-       Bunganya yang wangi mudah rontok dan dikumpulkan di pagi hari untuk mengharumkan pakaian, ruangan atau untuk hiasan
-       Buahnya berwarna hijau kalau masih muda, kalau sudah masak berwarna kuning kemerahan, bisa dimakan dengan rasa manis agak sepat
-       Air rebusan kulit batang digunakan sebagai obat penguat dan obat demam. Rebusan kulit batang beserta bunganya digunakan untuk mengatasi murus yang disertai demam
-       Daun segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala
-       Daun segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala




Tapak Liman (Elephantopus scaber L.)

tapak-liman2.jpg

Tanggal Pengambilan : 1 April 2012
Tempat                      : Kebun Raya Purwodadi


Klasifikasi

Kingdom Plantae (Tumbuhan)
     Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkanbiji)
         Divisi Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
             Kelas Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
                 Sub Kelas Asteridae
                     Ordo Asterales
                         Famili Asteraceae
                             Genus Elephantopus
                                 Spesies Elephantopus scaber L.

Tapak liman disebut  Elephantopus scaber  L. atau Asterocephalus cochinchinensis Soreng termasuk kedalam famili tumbuhan Compositae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah tutup bumi, balagaduk, tapak tangan atau talpak tana.

,batang kaku, berambut panjang dan rapat, bercabang. Bunga majemuk berwarna putih, ungu kekuningan.


1.    HABITUS
Tapak Liman ini merupakan tanaman semak
2.    HABITAT
3.    Tapak Liman ini dapat tumbuh mencapai tinggi 10-80 cm.Tapak liman termasuk tanaman liar yang tumbuh dilapangan-lapangan atau tanah kosong.
4.    DESKRIPSI
a.    Daun
Daun tunggal berkumpul di bawah membentuk roset, berbulu, bentuk daun jorong, bundar telur memanjang, tepi melekuk dan bergerigi tumpul. Panjang daun 10 cm - 18 cm, lebar 3 cm - 5 cm. Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm - 9 cm, lebar 1 cm - 3 cm.

b.    Bunga
Bunga bentuk bonggol, banyak, warna ungu.
c.    Buah
Buah berupa buah longkah. Masih satu marga tetapi dari jenis lain, yaitu Elephantopus tomentosa L., mempunyai bunga wama putih, bentuk daun bulat telur agak licin
d.    Manfaat
Manfaat dari Tapak Liman ini sangat beragam yakni :
Dapat menyembuh kan
1. Influenza, demam, peradangan amandel, radang tenggorok, radang
    mata.
2. Dysentery, diare, gigitan ular.
3. Epidemic encephalitis B., batuk seratus hari (Pertusis).
4. Sakit kuning, memperbaiki fungsi hati, busung air (ascites).
5. Radang ginjal yang akut dan kronik.
6. Bisul, eksema.
7. Kurang darah (anemia), radang rahim, keputihan.
8. Mempermudah proses kelahiran, pengobatan sesudah bersalin.
9. Pelembut kaki, peluruh dahak, peluruh haid, pembersih darah,
    pengelat.
10. Hepatitis
11.Perut kembung.
12. Radang rahim, keputihan.
13. Meningkatkan gairah pria yang terganggu sakit pinggang



Thevetia peruviana (pers.) K. Schum.

KoleksiKebun Raya
Literatur



Klasifikasi
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
         Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkanbiji)
             Divisi Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
                 Kelas Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
                     Sub Kelas Asteridae
                         Ordo Gentianales
                             Famili Apocynaceae
                                 Genus  Thevetia
                                     SpesiesThevetiaperuviana (Pers.) K.Schum

Botani
Sinonim           :           ThevetianerrifoliaJuss
Nama umum   :           Oleander
Nama daerah
Jawa               :           Oleander

Deskripsi
Habitus                        :           Semak, tinggi ± 4 m.
Batang             :           Tegak, bulat, berkayu, percabangansimpodial,
bergetah, putih kotor.
Daun               :           Tunggal, lonjong, tersebar, pertulangan menyirip,
Pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata, panjang
8-14 cm, lebar 1-2 cm, hijaumuda.
Bunga              :           Majemuk, lonjong, di ujung batang, tangkai gundul,
panjang 2,5-5 cm, hijau muda, kelopak bentuk
lonceng, panjang 1-1,5 cm, mahkota lonjong, bentuk
corong, panjang 2-2,5 crn, putih, kepala putik kuning
pucat, bentuk kerucut, putih.
Buah                :           Polong, bulat pipih, hitam mengkilat.
Biji                   :           Bulat, coklat kehitaman.
Akar                :           Tunggang, coklat,

Khasiat
Daun Theveti aperuviana berkhasiat untuk urus-urus dan kulit batangnya
Untuk mencegah muntah.
Untuk urus-urus dipakai± 5 gram, daun segar Theveti aperuviana, dicuci,
Direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring.
Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungankimia
DaunThevetia peruviana mengandung alkaloida, saponin dan tanin, sedangkan
Batangnya mengandung saponin dan polifenol.











Putri Malu (Mimosa pudica)








 
           






Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Fabales
                             Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
                                 Genus: Mimosa
                                     Spesies: Mimosa pudica Duchass. & Walp
DESKRIPSI
·           Habitat      : tumbuh liar di pinggir jalan, tempat – tempat terbuka yang terkena sinar matahari.
·           Habitus     : merupakan herba memanjat atau berbaring atau setengah perdu dengan tinggi antara 0,3 – 1,5 m
·           Akar         : berupa akar pena yang kuat.
·           Batang      : Batang bulat, berambut, dan berduri tempel. Batang dengan rambut sikat yang mengarah miring ke bawah.
·           Daun        : Daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun setiap sirip 5 – 26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah licin, panjang 6 – 16 mm, lebar 1 – 3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap. Sirip terkumpul rapat dengan panjang 4 – 5, 5 cm.
·           Bunga       : berbentuk bulat seperti bola (bulir), bertangkai, berwarna ungu/merah. Kelopak sangat kecil, bergigi 4, seperti selaput putih. Tabung mahkota kecil, bertaju 4, seperti selaput putih.
·           Buah         : Buah berbentuk polong, pipih, seperti garis.
·           Biji            : Biji bulat dan pipih.

·           Manfaat : Ada beberapa penyakit yang dapat diobati dari tanaman ini, yaitu:
·           Susah tidur (Insomnia),
·           Bronkhitis,
·           Panas tinggi,
·           Herpes,
·           Reumatik,
·           Cacingan.
Pemanfaatan dari tanaman putri malu beragam. Bagian yang dipakai adalah daun, akar, seluruh tanaman, segar atau yang dikeringkan. Aturan pemakaiannya adalah 15 hingga 60 gram, direbus.
Sedangkan untuk pemakaian luar: Luka, radang kulit bemanah (piodermi), herpes adalah tanaman segar dilumatkan, ditempelkan di tempat yang sakit.
Berikut contoh pemakaian tanaman ini untuk pengobatan:
1.      Insomnia:
a. Untuk mengobati insomnia, sebanyak 30-60 gram daun putri malu direbus lalu airnya diminum.
b. Bisa juga dengan mencampur 15 gram daun putri malu dengan 15 gram daun sawi langit (vemonia cinerea) dan 30 gram daun calincing lalu direbus. Airnya kemudian diminum.
2.      Chronic bronchitis:
a. Untuk mengobati penyakit bronchitis, 60 gram akar putri malu dicampur 600 cc air, lalu direbus dengan api kecil sehingga menjadi 200 cc. Lalu airnya dibagi untuk dua kali minum.
b. Mimosa pudica 30 gram, Akar peristrophe roxburghiana 10 gram, keduanya direbus, dibagi menjadi 2 dosis/hari.
3.      Batuk dengan dahak banyak:
Sedangkan bagi penderita batuk dengan dahak banyak, akar putri malu sebanyak 10-15 gram direbus lalu airnya diminum.
4.      Ascariasis:
Mimosa pudica 15 - 30 gram direbus, lalu airnya diminum.
5.      Rheumatik:
15 gram akar Mimosa pudica direndam dalam arak putih 500 cc selama 2 minggu. Kemudian ditempelkan di tempat yang sakit.
Masih ada lagi manfaat putri malu, diantaranya berkhasiat untuk mengatasi penyakit malaria. Akar dan bijinya berkhasiat untuk merangsang muntah.
Para ahli pengobatan Cina dan penelitian AS serta Indonesia mengindikasikan, tanaman ini bisa dipakai untuk mengobati berbagai penyakit lain, seperti radang mata akut, kencing batu, panas tinggi pada anak-anak, dan herpes.
Hanya saja pemakaian akar putri malu dalam dosis yang tinggi bisa mengakibatkan keracunan dan muntah-muntah. Wanita hamil juga dilarang minum ramuan tersebut karena bisa membahayakan janin.
Sifat kimiawi dan efek farmakologis adalah Manis, astringen, agak dingin. Penenang (tranquiliser), sedative, peluruh dahak (expectorant), anti batuk (antitusive), penurun panas (antipiretic), anti radang (anti-inflammatory), peluruh air seni (diuretic). Kandungan kimia tanaman ini adalah Mimosine.












Ageratum Conyzoides L.



Klasifikasi :
Divisi  Magnoliophyta
Classis  Magnoliopsida
Ordo  Asterales
Famili  Asteraceae
Genus  Ageratum
Spesies  Ageratum conyzoides L.

Deskripsi
Nama umum / dagang : Babandotan
Sumatera                      : Bandotan (Melayu)
Jawa                             : Babandotan (Sunda) Bandotan {Jawa) Dus bedusan (Madura)

1.    Habitus            : Herba, 1 tahun, tinggi 10-120 cm.
2.    Akar                : Tunggang, putih kotor.
3.    Batang             :Tegak atau terbaring.
4.    Daun               :Tunggal, bulat telur, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi beringgit,     panjang 3-4 cm, lebar 1-2,5 cm, pertulangan menyirip, tangKai pendek, hijau.
5.    Bunga              : Majemuk, di ketiak daun, bongkol menyatu menjadi karangan, bentuk malai rata, panjang 6-8 mm, tangkai berambut, ke'opak berbulu, hijau, mahkota bentuk lonceng, putih atau ungu.
6.    Buah                : Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, hitam.
7.    Biji : Kecil, hitam.
8.    Khasiat            : Daun Ageratum conyzoides berkhasiat sebagai obat luka baru dan obat    wasir, untuk obat luka baru dipakai + 5 gram daun segar Ageratum conyzoides, dicuci dan ditumbuk sampai lumat, ditempelkan pada luka dan dibalut. Kandungan kimiadaun dan bunga Ageratum conyzoides mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, di samping itu daunnya juga mengandung minyak atsiri.





Agatis dammara Warb

                   
                  (Gambar 1)                                                                (Gambar 2)
Klasifikasi Agathis dammara
Sinonim : Agathis alba Foxw.
Klasifikasi
Kingdom Plantae
  Divisi        Spermatophyta
    Sub divisi    Angiospermae
       Kelas               Dicotyledoneae
         Bangsa              Araucarlales
           Suku                     Ararucarlaceae
              Marga                    Agathis
                 Jenis                        Agathis dammara
Nama umum/dagang : Damar
Nama daerah :
Sumatera : Damar minyak (melayu) Bebulu (bangka)
Jawa : Ki damar (sunda) Damar (jawa)
Sulawesi : Pohon Damar (manado) Kayu Damara (makasar)
Maluku  : Kamar (Ambon) Hate salo bobudo (ternate)

1.    Deskripsi Agathis Dammara

Habitat : Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah,Namun di Jawa, tumbuhan ini terutama ditanam di pegunungan.

Habitus : Pohon, tahunan, tinggi 30-40 m.

2.    Morfologi Agathis dammara

Batang : Tegak, berkayu, bulat, lurus, berlentisel, bergetah,
abu-abu.

Daun : Tunggal, berhadapan, lonjong, tebal, tepi rata, ujung
dan pangkal runcing, panjang ± 10 cm, lebar ± 5
cm, pertulangan menyirip, tangkai panjang ± 2 cm,
hijau mengkilat. Permukaan daun berlapis lilin, mengeluarkan dammar, daun lebar dan biji telanjang.


Akar : Tunggang, kuat , dan berwarna cokelat.
Contoh akar tunggang :
(Gambar 3)

Buah : Lonjong, berperisai pipih seperti sisik, panjang ± 6
mm, putih kekuningan.
Biji : Pipih, putih.


3.    Khasiat
Daun dan akar Agathis dammara berkhasiat sebagai obat luka baru.
Untuk obat luka baru dipakai daun Agathis dammara secukupnya, dicuci,
ditumbuk sampai lumat, kemudian diternpelkan pada luka dan dibalut dengan
kain yang bersih.
4.    Kandungan kimia
Daun dan kulit batang Agathis dammara mengandung saponin, kulit batangnya
|uga mengandung (lavonoida dan tanin dan daunnya juga mengandung
polifenol.
5.    Agathis damara tergolong Angiospermae (tumbuhan biji tertutup)
6.1. Ciri umum tumbuhan berbiji tertutup
·         Tumbuhan berbiji tertutup menghasikan biji di dalam bakal buah,
·         akar serabut dan tunggang,
·         batang bercabang dan beruas,
·         alat perkembangbiakan berupa bunga,
·         daun bertulang dan berhelai dan organ-organ tubuh dapat dibedakan dengan
            jela



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian KKL di kebun raya purwodadi dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kebun raya Purwodadi didirikan pada tanggal 30 Januari 1941 oleh Dr. Lourens Gerhard Marinus Baas Becking atas prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten pada tanggal 30 Januari 1941, memiliki keragaman jenis tumbuhan yang sangat banyak jenisnya, kebun raya ini tergolong salah 1 kebun raya yang ada di Indonesia,yang berada di dataran rendah kering, yang luasnya kurang kebih 88 hektar
2.      Koleksi Pohon dan Tumbuhan
Kebun raya purwodadi memiliki keragaman jenis tumbuhan yang sangat banyak jenisnya, kebun raya ini tergolong salah 1 kebun raya yang ada di Indonesia,yang berada di dataran rendah kering, yang luasnya kurang kebih 88 hektar yang didalamnya terdapat sekian banyak tumbuhan Angiospermae dan Gymnospermae diantaranya ialah :
  1. Acacia mangium
  2. Averrhoa blimbi
  3. Hibiscus Schizopetalus
  4. Borreria hispida Schum
  5. Gnetum gnemon L.
  6. Strobilanthes crispus Bl
  7. Kigelia Africana
  8. Lagerstroemia torelli L.)
9.    Araucaria heterophylla 
  1. Echinodorus palaefolius
  2. Excoecaria cochinchinensis 
  3. Mimusops elengi L.
  4. Elephantopus scaber L.)
  5.  Tevetia peruviana
  6.  Mimosa pudica
  7. Ageratum Conyzoides L.
  8. Agatis dammara Warb

3.      Langah pembuatan herbarium yakni :
a)      Herbarium kering :
  • Dipotong tumbuhan yang akan diherbarium
  •  Disemprot tanaman dengan alkohol
  •  Di letakkan tanaman yang akan di herbarium pada guntingan Koran yang disediakan
  •  Di tutp hingga rapat dan tidak ada udara keluar masuk selama semalaman
  •  Dikeluarkan bahan herbarium yang sudah dialkohol
  •  Dijemur hingga kering
    • b)      Herbarium basah  :
  •  Dipotong tumbuhan yang akan diherbarium
  •  Disemprot tanaman dengan alkohol
  • Dimasukkan kedalam toples bersih yang berisi alkohol kemudian ditutup rapat rapat agar tidak ada udara yang bisa keluar masuk
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian KKL di kebun raya purwodadi, sangat banyak keragaman jenis tanaman disana,dan ada beberapa species tanaman yang mulai punah, agar kepunahan tersebut  tidak terjadi sebaiknya kita sebagai mahasiswa biologi yang katanya menyatu dengan alam aalagkah baiknya jika kita ikut serta menjaga tanam tersebut meski tidak langsung di kebun raya purwodadi disekitar kita pun sangat banyak tanaman yang hambir punah.




















DAFTAR PUSTAKA
Soerianegara, I, & A. Indrawan, 1978. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor:
Departemen Managemen Hutan. Fakultas Kehutanan.
Syahbudin. 1987. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Padang: Universitas Andalas
Press.
Rifai, A.M. 1993. Peri Kehidupan Alam Sepanjang Jalan Pegunungan. Jakarta:
Panitia Program Nasional UNESCO-MAB Indonesia.
Damanik, J.S., J. Anwar., N. Hisyam., A. Whitten. 1992. Ekologi Ekosistem
Sumatera. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Daniel, T.W., J.A. Helms, F.S. Baker. 1992. Prinsip-Prinsip Silvinatural.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hafild & Aniger. 1984. Lingkungan Hidup di Hutan Hujan Tropika. Cet 1.
Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Wirakusuma, R.S. 1990. Citra dan Fenomena Hutan Tropika Humida Kalimantan
Timur. Jakarta: Pradya Paramita.
Rahman, M. 1992. Jenis dan Kerapatan Pohon Dipterocarpacea di Bukit
Gajabuih Padang. Jurnal Matematika dan Pengetahuan Alam. Vol.2.
No.1.
Hairiah, K dan Rahayu, S. 2007. Pengukuran .Karbon Tersimpan. Di BerbagaiMacam Penggunaan Lahan. Bogor: World Agroforestry Centre.
FWI/GFW. 2003. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia: Fores
Watch Indonesia dan Washington D.C, Global Forest Watch, Edisi 3.
Irwan, Z.D. 1992. Prinsip-Prinsip Ekologi dan OrganismeEkosistem Komunitas
dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. 70/Kpts-II/2001. Jakarta.