LAPORAN KULIAH KERJA
LAPANGAN
TAKSONOMI
TUMBUHAN TINGGI
DI KEBUN RAYA PURWODADI
Disusun
oleh :
Kelompok
4 :
1.
Siti Fatimah (10620028)
2.
Alfi Hidayah (10620006)
3.
Ilfa Luthfiana (10620017)
4.
Sayyid Ulil Abshor (10620036)
5.
Rodliyatul Fitrianti (10620034)
6.
Eka Putri R. (10620035)
7.
Nurul Faizah (10620005)
8.
Nur Aini L. (10620030)
9.
Khilul Luthfiah P. (10620007)
10.
Rohana Imawati (10620013)
11.
Ulya Rufaida (10620020)
12.
Nafsi (10620037)
13.
Wilda shofia (10620027)
14.
Ihda Nadzif Maulida (10620026)
15.
Faridah Dewi Nur Aini (10620004)
16.
wahyu Retno (10620014)
Asisten
Pembimbing : Lucky Perdana
NIM : 09620034
JURUSAN
BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALAIK
IBRAHIM MALANG
2012
PENGESAHAN
Laporan Kuliah Kerja Lapangan dengan praktikan :
1. Siti Fatimah
2. Alfi Hidayah
3. Ilfa Luthfiana
4. Sayyid Ulil Abshor
5. Rodliyatul Fitrianti
6. Eka Putri R.
7. Nurul Faizah
8. Nur Aini L.
9.
Khilul Luthfiah Pambudi
10. Rohana Imawati
11. Ulya Rufaida
12. Nafsi
13. Wilda shofia
14. Ihda Nadzif Maulida
15. Faridah Dewi Nur Aini
16. wahyu Retno
telah
disahkan sebagai salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Taksonomi Tumbuhan pada
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang
Malang,14 April 2012
Koordinator Kuliah Kerja Lapangan Asisten Pembimbing
Lucky
Perdana
NIM.
09620034
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji
syukur penulis haturkan pada Ilahi Rabbi, atas segala nikmat, rahmat dan
hidayah-Nya yang mampu mengantarkan penulis dalam menyelesaikan penyusunan
skripsi ini. Sholawat serta salam semogasenantiasa tercurahkan kepada teladan
junjungan umat Islam sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing
kita dari masa kebodohan menuju masa yang gemilang.
Penulis menyadari bahwa setiap hal yang
tertuang dalam penulisan laporan observasi ini ini tidak akan terwujud tanpa
adanya bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis hanya bisa mengucapkan
terima kasih yang sebesar besarnya.
Semoga Allah memberikan balasan atas segala bantuan yang
telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini
bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi peneliti lain serta menambah
khasanah ilmu pengetahuan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Malang, 14 April 20112
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................... 2
KATA PENGANTAR............................................................................................... 3
DAFTAR ISI ............................................................................................................ 4
DAFTAR TABEL...................................................................................................... 5
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ 6
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................ 6
A.
Latar
Belakang....................................................................................... 6
B.
Tujuan.................................................................................................... 6
C.
Manfaat.................................................................................................. 6
BAB II. TINJAUAN
PUSTAKA................................................................................ 7
A. Sruktur Vegetasi Hutan Tropika Basah................................................. 3
B.
Iklim
Daerah Tropik............................................................................... 5
C.
Kebun
Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah........................................ 6
D.
Pengelolaan
Koleksi Herbarium............................................................ 9
BAB III. METODE PENELITIAN........................................................................... 16
A.
Waktu
dan Tempat Penelitian.............................................................. 16
B.
Alat
dan Bahan .................................................................................... 16
C.
Cara
Kerja............................................................................................ 16
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................................ 17
A.
Koleksi
Herbarium............................................................................... 17
B.
Kebun
Raya Purwodadi....................................................................... 18
C.
Koleksi
Tanaman di Kebun Raya Purwodadi...................................... 23
BAB V .
KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................. 59
A.
Kesimpulan.......................................................................................... 59
B.
Saran.................................................................................................... 60
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 61
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Koleksi Herbarium yang ada di Kebun Raya....................................... 17
Tabel 2. Daftar Koleksi Tumbuh-tumbuhan yang ada di Kebun
Raya ......................... 19
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Daftar Koleksi Herbarium yang ada di Kebun Raya....................................... 26
Tabel 2. Daftar Koleksi Tumbuh-tumbuhan yang ada di Kebun
Raya ......................... 41
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR
GAMBAR
1.
Kebun Raya Purwodadi
2.
Acacia mangium
3.
Averrhoa blimbi
4.
Hibiscus Schizopetalus
5.
Borreria
hispida Schum
6.
Gnetum gnemon L.
7.
Strobilanthes crispus Bl
8.
Kigelia Africana
9.
Lagerstroemia torelli L.)
10. Araucaria
heterophylla
11.
Echinodorus palaefolius
12. Excoecaria cochinchinensis
13.
Mimusops elengi L.
14.
Elephantopus scaber L.)
15.
Tevetia
peruviana
16.
Mimosa
pudica
17. Ageratum Conyzoides L.
18.
Agatis dammara Warb
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Tumbuhan tersebar di
belahan bumi mana saja dengan spesies yang berbeda-beda. Dimulai dari morfolgi,
anatomi, kegunaan dan bahkan kerugiannya juga berbeda-beda. Pada dasarnya
tumbuhan dikelompokkan menjadi beberapa golongan dari beberapa aspek,
diantaranya dikelompokkan kedalam tumbuhan tingkat tinggi dan tumbuhan tingkat
rendah. Dimana tumbuhan tingkat tinggi
ini dibagi lagi menjadi tiga aspek, yaitu Pteridophyta
(tumbuhanpaku/penghasilspora), Gymnospermae
(tumbuhanbijiterbuka), danAngiospermae
(tumbuhanbijitertutup). Sedangkan contoh dari tumbuhan tingkat rendah adalah Alga dan Fungi.
Pengamatan tentang
keanekaragaman hayati dari tumbuhan ini penting untuk dilakukan agar bisa
menambah wawasan keilmuan kita tentang tumbuhan. Sehingga kita bisa menyatu
dengan alam dan mengerti apa yang alam inginkan tanpa merusak lestari disekitar
kita. Karena akhir-akhir ini sering sekali manusia merasakan kesengsaraan oleh
adanya bencana alam, itu karena manusia sendiri tidak pernah mau memahami apa
kebutuhan dari alam yang selama ini telah bersahabat dengan kita.
B. TUJUAN
- Mengetahui
tata cara pembuatan, penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Kebun
Raya.
- Mengetahui
keanekaragaman tumbuhan tingkat tinggi di Kebun Raya Mengadakan pengamatan
terhadap spesies untuk mengetahui ciri khusus/karakteristik dari
masing-masing spesies.
C. MANFAAT
Manfaat
dilaksanakannya kuliah kerja lapangan tentang
tumbuhan tingkat tinggi ini yaitu
1.
kita
bisa secara langsung mengamati sekaligus mempelajari macam beserta manfaat dari
spesies-spesies beberapa famili tumbuhan paku, tumbuhan biji terbuka dan
tumbuhan biji tertutup yang ada di Kebun Raya Purwodadi. Adapun tumbuhan yang
ada di Kebun Raya Purwodadi ini berasal dari berbagai daerah dan bahkan dari luar
negeri, sehingga memudahkan kita untuk mengamati secara langsung
tumbuh-tumbuhan yang sulit dijangkau tempatnya.
2.
kita mendapatkan pengarahan langsung mengenai
cara pembuatan herbarium langsung dari pakarnya yang sudah terbiasamembuat
herbarium/awetan tumbuhan
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Sruktur
Vegetasi Hutan Tropika Basah
Hutan adalah satu kesatuan
ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber
daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999). Hutan adalah suatu
wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan, termasuk juga tanaman kecil lainnya
seperti, lumut, semak belukar, herba dan paku-pakuan. Pohon merupakan bagian
yang dominan diantara tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan. Berbeda letak dan
kondisi suatu hutan, berbeda pula jenis dan komposisi pohon yang terdapat pada
hutan tersebut. Sebagai contoh adalah hutan di daerah tropis memiliki jenis dan
komposisi pohon yang berbeda dibandingkan dengan hutan
pada daerah temprate
(Rahman, 1992).
Hutan
alami merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem
penggunaan lahan (SPL) pertanian, dikarenakan keragaman pohon yang tinggi
(Hairiah dan Rahayu, 2007).
Hutan-hutan Indonesia
menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi
hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi
daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh
hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3,5 milliar
ton karbon (FWI, 2003).
Hutan hujan tropis merupakan
ekosistem yang klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan ini tidak
pernah menggugurkan daunnya secara serentak, kondisinya sangat bervariasi
seperti ada yang sedang berbunga, ada yang sedang berbuah, ada yang dalam
perkecambahan atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai dengan sifat atau
kelakuan masing-masing jenis tumbuh-tumbuhan tersebut. Hutan hujan tropis
memiliki vegetasi yang khas daerah tropis basah dan menutupi semua permukaan
daratan yang memiliki iklim panas, curah hujan cukup banyak serta tersebar
secara merata (Irwan, 1992).
Daniel et al, (1992)
menyatakan bahwa hutan memiliki beberapa fungsi bagi
kehidupan manusia antara lain: (1) pengembangan
dan penyediaan atmosfir yang baik dengan komponen oksigen yang stabil, (2)
produksi bahan bakar fosil (batu bara), (3) pengembangan dan proteksi lapisan
tanah, (4) produksi air bersih dan proteksi daerah aliran sungai terhadap
erosi, (5) penyediaan habitat dan makanan untuk binatang, serangga, ikan, dan
burung, (6) penyediaan material bangunan, bahan bakar dan hasil hutan, (7)
manfaat penting lainnya seperti nilai estetis, rekreasi, kondisi alam asli, dan
taman. Semua manfaat tersebut kecuali produksi bahan bakar fosil, berhubungan
dengan pengolahan hutan. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) hutan adalah
masyarakat tetumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan
mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Kawasan
hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah
untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Keputusan Menteri
Kehutanan RI, No.70/Kpts- II/2001).
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) yang
dimaksud analisis vegetasi atau studi komunitas adalah suatu cara mempelajari
susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan
(1978) menyatakan bahwa penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik
berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis. Struktur
masyarakat hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik
tertentu diantaranya, kepadatan, frekuensi, dominansi dan nilai penting.
- Kebun
Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah
Wadah plasma nutfah secara alami berupa ekosistem, dari jenis yang liar
dapat berupa hutan, savana, semak, padang rumput, semi padang pasir dan
sebagainya.
Macam plasma nutfah, selain berupa jenis tumbuhan liar juga varietas primitif,
varietas pembawa sumber sifat yang khusus, varietas unggul yang sudah kuno dan
varietas unggul masa kini.
1. Jenis liar atas dasar sejarah pembudidayaan dan
penggunaan potensinya dapat digolong-kan menjadi tiga kelompok yaitu :
- Jenis-jenis yang mungkin mempunyai nilai ekonomi,
tetapi sama sekali belum mem-budidayakan atau dipetik hasilnya.
- Jenis-jenis yang sudah dipetik dan dimanfaatkan
hasilnya tetapi belum atau tidak di-budidayakan.
- Jenis-jenis yang tidak dipetik hasilnya, akan
tetapi setelah mengalami atau melalui hi-bridisasi baru kemudian dibudidayakan
dan dimanfaatkan.
2. Varietas
primitif
Semua jenis yang dibudidayakan secara langsung atau tidak berasal dari liar.
Varietas primitif adalah kultivar yang pembudidayaannya masih sederhana, belum
mengalami pemuliaan. Tumbuhannya yang termasuk kelompok ini biasanya di daerah
tumbuhnya mempunyai daya daptasi yang lebih baik, lebih tahan terhadap tekanan
lingkungan yang bersifat fisik maupun biologi.
Hal ini dimungkinkan karena sudah ada seleksi gen secara alamiah yang
tahan terhadap dingin, panas, hama ataupun penyakit di daerah tumbuh.
3. Varietas
sumber sifat yang khusus
Kultivar yang mempunyai kelebihan dalam sifat-sifat tertentu, misalnya kepekaannya
terhadap pemupukan. Sinar ketahanan terhadap hama atau penyakit tertentu atau
sifat khusus yang lain seperti produksi.
4. Varietas
unggul
Karena kemajuan di bidang pemuliaan, varietas unggul dapat diciptakan dengan
merakit sifat-sifat yang baik dari beberapa sumber plasma nutfah.
Semakin besar sifat keanekaragaman yang dimilikinya, akan semakin bebas
pemulia untuk merakit sifat-sifat yang baik. Dengan silih bergantinya
zaman, varietas unggul tidak dapat langgeng bertahan dipakai oleh petani.
Memang pada saat tertentu atau pada kondisi yang memadai varietas unggul mampu
mengatasi atau melebihi hasil varietas lain, akan tetapi pada kondisi yang lain
untuk lingkungan yang kurang menguntungkan misalnya munculnya kembali penyakit
atau hama di daerah penanamannya dapat memukul parah bahkan mengakibatkan
fatal.
Hal ini dapat disadari sebagai akibat kehogenan sifat gennya yang
tinggi, varietas unggul peka terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan.
Dengan
pergantian varietas unggul-unggul dari masa ke masa, maka dikenal varietas
unggul masa kini dan varietas unggul masa lampau atau yang sudah kuno.
Permasalahan
Kelestarian Plasma Nutfah Nabati
Sebagai salah satu sumber daya alam, pengelolaan pemanfaatan plasma nutfah
sekarang ini dirasakan kurang sempurna yaitu banyak mengalami erosi yang
menyebabkan berkurangnya dan hilangnya jenis-jenis tertentu.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya erosi plasma nutfah nabati
antara lain adalah :
1. Timbulnya peledakan penduduk yang sangat besar,
yang menyebabkan perlunya perluas-an daerah permukiman di daerah-daerah
pertanian yang mengakibatkan terjadinya penggusuran tempat tumbuh plasma
nutfah.
2. Terjadinya eksploitasi hutan yang kebanyakan
dilakukan dengan tidak memperhatikan kelestarian plasma nutfah yang
dikandungnya, sehingga banyak jenis-jenis pohon yang mengalami erosi genetika
seperti kayu olin, cendana, sawo, kecik. Di samping itu eksploitasi hutan juga
berakibat merusak habitat hewan dan tumbuhan lain seperti jenis-jenis anggrek,
paku-pakuan, rotan dan tanaman perdu yang lain.
3. Timbulnya tehnologi modern yang sering
mengakibatkan terdesaknya bahan alam oleh bahan sintesis, sehingga membahayakan
kelestarian plasma nutfah tertentu seperti tarum dan golongan serat-seratan.
4. Penggunaan tumbuhan untuk keperluan industri
yang sering dilakukan secara besar-besaran tanpa memperhatikan peremajaan,
misalnya golongan temu-temuan, kedawung, rotan, tengkawan.
Semua kegiatan di atas adalah merupakan beberapa contoh yang dapat menyebabkan
terjadinya erosi plasma nutfah nabati, sehingga apabila proses tersebut terus
berlangsung tanpa adanya usaha untuk mengatasinya, akan kehilangan beberapa
jeis-jenis tertentu yang berarti juga kehilangan sebagian sumbernya alam.
Sebagai akibat terjadinya erosi genetika mengakibatkan timbulnya kelangkaan
pada jenis-jenis tertentu, untuk mengetahui tingkat kelangkaan dari suatu jenis
plasma nutfah nabati, dikenal ada 5 macam katagori yaitu :
1. Extinct (punah) adalah sebutan yang diberikan
pada tumbuhan yang telah musnah atau hilang sama sekali dari permukiman bumi.
2. Endangeret (genting) adalah sebutan untuk jenis
yang sudah terancam kepunahan dan tidak akan dapat bertahan tanpa perlindungan
yang ketat untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Contoh : Rafflesia
arnoldii dan purwoceng (Pimpinella pruatjan).
3. Vulnerable (rawan) katagori ini untuk jenis yang
tidak segera terancam kepunahan tetapi terdapa dalam jumlah yang sedikit dan
eksploitasinya terus berjalan sehingga perlu dilindungi contohnya adalah :
cendana (Satalum album) kayubesi (Eusideroxylon ewageri) dan ki
koneng (Arcangelisis flava).
4. Rare (jarang) sebutan untuk jenis yang
populasinya besar tetapi terbesar secara lokal atau daerah penyebarannya luas
tapi tidak sering dijumpai, serta mengalami erosi yang berat. Contohnya : sawo
kecik (Munilkara kauki), kedawung (Parkia roxburghii) dan pulai
pandak (Rauvolfia serpentina).
5. Indeterminate (terkikis) sebutan untuk jenis
yang jelas mengalami proses pelangkaan tetapi informasi keadaan sebenarnya
belum mencukupi, sebagian besar jenis-jenis plasma nutfah nabati yang langka
termasuk katagori ini.
Metode
Pelestarian Plasma Nutfah Nabati
Dalam penggunan sumber daya genetika, eksplorasi dan pelestarian adalah
merupa-kan kegiatan pokok yang dwitunggal di dalam penyelamatan plasma nutfah.
Eksplorasi menyelamatkan sumber daya yang ada di lapangan, pelestarian
menyelamatkan koleksi yang baru dan yang sudah ada. Apabila dalam eksplorasi
diperlukan mekanisme kegiatan yang terarah di lapangan yang seluas mungkin,
sedangkan yang diperlukan dalam pelestarian adalah keefektifan organisasinya.
Dalam kegiatan mengadakan eksplorasi, pengumpulan, evaluasi dan pelestarian
plasma nutfah tersebut dimaksudkan untuk mencadangkan setiap nama koleksi yang
juga dapat digunakan dalam mencari dan menciptakan bibit unggul baru melalui
seleksi atau persilangan-pesilangan.
Strategi pelestaria plasma nutfah nabati dapat berciri :
1. Genotin
tunggal atau populasi.
2. Tumbuhan hidup,
biji, tepung sari, biakan jaringan atau meristem.
3. Satu,
beberapa atau banyak jenis ekonomi.
4. Bersifat
nasional, regional atau internasional.
5. Dalam
bentuk koleksi dasar (base collection) atau koleksi aktif.
Dalam pelaksanaan strategi pelestarian biasanya timbul
permasalahan-permasalahan sebagai akibat adanya faktor-faktor pembatas antara
lain meliputi :
1. Masalah
biasa yang menyangkut keuangan.
2. Hama dan
penyakit.
3.
Kemungkinan akan kehilangan kesempurnaan genetik.
4. Daur peremajaan.
5.
Keterbatasan tenaga dan tehnik.
Sehingga untuk mencapai keberhasilan dalam pelestarian, dalam
pelaksanaannya harus selalu diikuti dengan pemecahan masalah-masalah yang
timbul.
Metode pelestarian plasma nutfah nabati ada 2 bentuk yaitu yang disebut
pelestarian IN SITU dan EX SITU.
1.
Pelestarian in situ
Cara pelestarian ini adalah melestarikan plasma nutfah di dalam komunitasnya,
di dalam biotanya. Cara pelestarian ini pada umumnya cocok untuk jenis-jenis
liar, sebab untuk pelestarian jenis liar sering timbul adanya
kesukaran-kesukaran yang disebabkan :
- Faktor
adaptasi terhadap daerah dan iklim yang baru.
- Faktor hama
dan penyakit.
- Ukuran
perawakan dan daur hidupnya.
Pelestarian secara in situ yang umum dilakukan adalah dengan cagar alam
atau daerah lindung.
Pengawasan plasma nutfah di daerah lindung harus dilakukan secara
teratur dan berkesinambungan.
Pelestarian secara in situ dilaksanakan dalam hutan, semak, savana,
stepa atau biota yang lain, jadi cara pelestarian ini dalam bentuk koleksi
tumbuhan hidup. Sehubungan dengan tujuan pelestarian plasma nutfah yang ada,
maka pengelolaan hutan seharusnya : keseimbangan ekosistem dijaga sestabil
mungkin guna melindungi plasma nutfah yang belum diusahakan.
2. Pelestaria
ex situ
Pelaksanaan cara pelestarian ini adalah dengan mengeluarkan plasma nutfah dari
wadahnya, ekosistemnya atau biotanya, dan cara ini akan dapat dianggap berhasil
baik dan murah apabila yang dilestarikan dapat ditekan sampai tingkat yang
minimal.
Ada beberapa
bentuk dalam pelestarian secara ex situ :
- Koleksi
tumbuhan hidup
Cara ini dapat dilakukan pada kebun raya, Arboreta, kebun buah-buahan,
kebun tanaman luar (introduksi), stasiun/kebun pemuliaan dan kebun-kebun yang
lain.
- Bentuk
penyimpanan biji
Pelestarian dalam bentuk penyimpanan biji harus diperhatikan jenis biji
yang akan disimpan, sebab atas dasar sifatnya ada 2 kelompok jenis biji yaitu :
a. Jenis yang orthodog yaitu jenis biji yang
bereaksi positif terhadap pengeringan dan pendinginan atau juga disebut
mempunyai kepekaan positif terhadap suhu rendah, pelaksanaannya adalah sebagai
berikut :
- penurunan kadar air sampai 5%
- suhu penyimpanan 10C, atau lebih baik 0sampai
20C
- disimpan di tempat yang gelap, tidak terjadi
pertukaran uap air, gas dan kelembaban udara kurang dari 70%, tempat
penyimpanan dapat berupa kaleng, gelas atau kantong aluminium.
- tekanan O2 dijaga serendah mungkin dan
CO2 setinggi mungkin
b. Jenis yang rekalasitranya itu jenis biji yang
bereaksi negatif terhadap pengeringan dan mungkin juga dengan pendinginan.
Jenis ini banyak terdapat pada pertumbuhan tropis yang tumbuh di hutan atau
daerah basah. Contoh : Cola, Artocarpus, Coffea, Theobroma, Havea dan
macam-macam palmae, cara penyimpanan setiap jenis mempunyai persyaratan yang
berbeda dengan jenis yang lain. Sehingga perlu penelitian yang lebih intensif.
- Bentuk penyimpanan tepung sari
Seperti penyimpanan kebanyakan biji, dalam penyimpanan tepung sari, daya
hidupnya akan lebih panjang apabila diperlukan penurunan suhu penyimpanan,
kadar air dan tekanan O. Yang masih sulit dijumpai adalah untuk penyimpanan
dari jenis Gramineae, Alismataceae dan Cyperaceae.
- Bentuk penyimpanan persediaan meristem dan jaringan
Dalam bentuk penyimpanan ini daya berkembangnya ditekan sekecil mungkin
atau dihilangkan sama sekali tetapi daya hidupnya dipertahankan sebaik mungkin.
Keuntungan dari cara ini adalah :
- Ruang yang diperlukan relatif sempit.
- Pemeliharaan murah dan sederhana.
- Tidak ada erodi genetika.
- Potensi perbanyakan tinggi.
- Yang bebas dari pathogen dapat dipelihara dan diperbanyak.
Kesulitannya adalah :
- Tidak semua jenis dapat dilakukan dengan cara ini.
- Regenerasi tumbuhan dari jaringan tidak selalu berhasil.
- Potensi perkembangan bentuk dapat hilang pada jangka penyimpanan
tertentu.
Penyimpanan pada suhu rendah dimungkinkan lebih berhasil (suhu nitrogen
cair -196C). Pelestarian plasma nutfah yang tidak dalam bentuk tanaman hidup,
akan selalu disertai satu contoh herbarium yang sering disebut voecher atau
herbarium acuan. Herbarium tersebut diperlukan sebagai jalan untuk
mendeterminasi contoh yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian.
C.
Pengelolaan
koleksi herbarium
v Cara
herbarium kering :
1. Dibungkus
tumbuhan dengan menggunakan kertas koran dan atur posisi akar, batang, dan daunnya atur sebagian daun mengadah dan
sebagian lainnya tengkurap
2. Pada
tangakai atau tumbuhan yang diherbarium diberi label spesies
3. Ditali koran dengan ravia agar tidak lepas
4. Dimasukkan
koran yang sudah ada tanamannya ke dalam kantong plastik
5. Dicelupkan
tumbuhan atau semprotkan larutan pengawet(alkohol atau spirtus) hingga koran
basah- basah
6. Dirapikan
kantong plastik dan di rapatkan dengan selotip
7. Dibuka Setelah 1 – 2 hari dan dikeluarkan dari
kantong plastik
8. Dipanaskan
dengan oven atau menggunakan pasir
9. Setelah
kering , Diatur posisi tumbuhan pada kertas gambar
10. letakkan dengan menggunakan selotip
11. Berikan
label catatan
v Cara
Herbarium basah :
1. Dibersihkan
bahan yang akan di herbarium
2. Dimasukkan
tanaman kedalam botol atau toples yang sudah terisi alkohol
3. Ditutup
dengan malam
4. Ditutup
bahan plastik
5. Diberi
label catatan warna asli
BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Waktu dan Tempat
Penelitian
untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan ini, dilakukan pada hari Minggu,
tanggal 1 April 2012 di Kebun Raya Purwodadi kota Pasuruan, Jawa Timur.
B.
Alat dan Bahan
a. Alat
Alat – alat yang digunakan dalam penelitian
ini adalah :
1. alat
tulis (buku / kertas, pensil / bolpen)
2. buku
panduan / acuan
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
1. Jenis-jenis
tumbuhan yang ada di Kebun Raya Purwodadi
C.
Cara Kerja
1. Diamati
organ-organ (bunga, daun, dan batang) pada suatu jenis tumbuhan untuk
menentukan class, ordo dan familinya
2. Dibandingkan
dengan tumbuhan lain untuk mengetahui hubungan kekerabatannya
3. Dicatat
hasil pengamatan dalam buku / kertas, serta disusun klasifikasi dari
masing-masing tumbuhan yang telah diamati.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Koleksi Herbarium
Tabel
1
|
Koleksi
|
Deskripsi
|
|
Herbarium
|
Sampai dengan januari
2000, herbarium yang telah dikumpulkan sebanyak 199 suku,
669 marga, 1016 jenis, dan 3531 sheet,
Koleksi herbarium disimpan di ruang tersendiri dan dapat dimanfaatkan
untuk umum guna keperluan penelitian.
|
B.
Kebun Raya Purwodadi
Sejarah
singkat Kebun Raya Purwodadi
Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi didirikan
atas prakarsa Dr. D.F. Van Slooten
pada tanggal 30 Januari 1941 sebagai Pemekaran dari Stasiun Percobaan
S'Lands Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor.
Mula-mula
kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan. Kemudian
pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar per-kebunraya-an yaitu dengan
dimulainya pembuatan petak-petak tanaman koleksi. Sejak tahun 1980 sebagian
tanaman ditata kembali menurut kelompok suku yang
menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti. Dalam
perkembangannya diharapkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi akan
menjadi pusat konservasi dan penelitihan tumbuhan iklim kering di daerah
tropis.
Kebun ini merupakan salah satu dari 3 cabang
Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang masing-masing memiliki tugas dan
fungsi spesifik. Kedua cabang lainnya adalah Kebun
Raya Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Cabang Kebun Raya Indonesia
(Kebun Raya Bogor). Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana ( Kebun Raya
Bogor ), Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana Teknis yang bernaung
dibawah dan bertanggung jawab kepada Deputi Ketua LIPI Bidang IPA. Yang
pembinan sehari-hari dilakukan oleh Kepala Pusaat Penelitian dan Pengembangan (
Pulitbang Biologi ). Pengelolahan seluruh Kebun Raya ini berada dibawah
tanggung jawab LIPI ( Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia )
Lokasi
Kebun Raya ini terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten
Pasuruan Lokasi ini terletak di tepi jalan besar yang menghubungkan 3 kota,
yaitu Malang, Surabaya, dan Pasuruan. Jarak dari kota Malang adalah 24 km ke
arah utara, dan dari kota Pasuruan 30 km ke arah barat daya dan dari kota
Surabaya 65 km ke arah selatan. Luas
Kebun Raya Purwodadi sakitar 85 ha, pada ketinggian 300m dpl dengan topografi
datar sampai bergelombang. Curah hujan rata--rata per
tahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu
berkisar antara 22 - 32 C,
TUGAS
DAN FUNGSI
Tugas utama adalah melakukan inventarisasi, eksplorasi dun konservasi
tumbuh-tumbuhan dataran rendah kering yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan
ekonomi.
Fungsi Kebun Raya Purwodadi :
1. Melakukan inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan yang
mernpunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi, langka dan endemik. Terutama
untuk flora Indonesia dari dataran rendah kering.
2. Menyediakan fasilitas penelitian, pendidikan dan pemanduan, khususnya di
bidang botani.
3. Menyediakan fasilitas rekreasi di alam terbuka.
C.
Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi
Tabel
2
|
Koleksi
|
Deskriosi
|
|
Polon-polongan
|
Digolongkan
menjadi 3 suku yaitu Mimosaceae, Caesalpiniaceae, dan Papilionaceae.
Ada 157 jenis dari 70 marga yang termasuk dalam suku-suku tersebut. Berbagai
jenis polong-polongan dimanfaatkan sebagai tanaman hias seperti jenis-jenis
dari marga Amherstia, Brownea, Cassia, Senna, dan
Saraca. Selain itu, beberapa jenis dimanfaatkan juga kayunya untuk
bangunan seperti sonokeling (Dalbergia latifolia) dan wangkal (Albizia
procera), tanaman penghijauan dan tepi jalan seperti Angsana
(Pterocarpus indicus), Akasia (Acacia auriculiformis) dan Soga (Peltophorum
pterocarpum). Ada pula yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat seperti Johar (Senna
siamea), Kedawung
(Parkia timoriana), Dadap srep (Erythrina
subumbrans), dan Dadap ayam (Erythrina orientalis)
|
|
Anggrek
|
Ditempatkan
di rumah kaca yang kondisinya disesuaikan dengan habitat alaminya. Ada
sekitar 2.344 spesimen anggrek alam yang terdiri atas 319 jenis, 69 marga,
dan 277 masih sp.. Sekitar 7 jenis merupakan anggrek endemik Jawa Timur
seperti Appendicula imbricata, Dendrobium arcuatum, Paphiopedilum
glaucophyllum (Anggrek Selop), dan lain-lain. Sedangkan yang
terancam keberadaannya di alam antara lain Ascocentrum miniatum, Phalaenopsis
amabilis (anggrek bulan), Coelogyne pandurata (anggrek
hitam) asal Kalimantan dan lain-lainnya.
|
|
Palem
|
Palem
termasuk dalam famili Arecaceae dan merupakan jenis-jenis tertua
yang telah dijumpai sejak zaman Cretaceus, kurang lebih 120 juta tahun yang
lalu. Arecaceae sangat menarik dari segi botani, keindahan bentuknya,
keanekaragaman jenis dan kegunaannya. Famili Arecaceae di dunia diperkirakan
200-300 genus dan sekitar 2000-3000 jenis tersebar di daerah tropis dan sub
tropis. Indonesia merupakan pusat keanekaragaman palem dunia, dari jumlah
palem yang terdapat di dunia 46 genus di antaranya (576 jenis) terdapat di
Indonesia dan 29 genus merupakan palem endemik. (LBN-LIPI, 1978; Witono,
1998; Sharma, 2002; Chin, 2003).
Sebagai
salah satu lembaga konservasi tumbuhan ex-situ, Kebun Raya Purwodadi
mempunyai tugas melaksanakan inventarisasi, eksplorasi, penanaman koleksi dan
pemeliharaan tumbuhan dataran rendah kering yang memiliki nilai ilmu
pengetahuan dan berpotensi untuk dikoleksi (dikonservasi). Kebun Raya Purwodadi
seluas 845.148 m2 memiliki 174 famili, 904 marga dan 1.896 jenis dengan
koleksi Arecaceae sejumlah 60 marga 117 jenis dan 435 individu berdasarkan
katalog 2006 (Suprapto et al., 2006).
|
Bambu
|
Sekitar
30 jenis bambu telah dikoleksi Kebun Raya Purwodadi, 16 jenis berasal dari Jawa, 2 jenis dari Maluku,
2 jenis dari Sulawesi,
dan 10 jenis dari beberapa negara Asia (Cina, Jepang,
Thailand,
India,
dan Birma).
Gigantochloa manggong (Bambu Manggong) merupakan bambu endemik Jawa Timur , Gigantochloa
apus (pring apus) sering dipergunakan untuk mebel, kerajinan atau atap
rumah, Dendrocalamus asper (pring petung) rebungnya untuk dimakan, dan
Schizostachyum silicatum (bambu wuluh) untuk
seruling.
|
Paku
|
Koleksi
tumbuhan
paku ditata di bawah pepohonan besar dan rindang, karena kelompok
tumbuhan ini menyukai tempat rindang dan lembap. Koleksinya mencapai 60 jenis
dari 36 marga dan 21 suku. Di antaranya paku sarang burung (Asplenium nidus),
suplir
(Adiantum spp.), hata (Lygodium circinnatum), dan paku tanduk
rusa/simbar menjangan (Platycerium coronarium). Ada
beberapa koleksi tumbuhan paku bermanfaat lainnya, seperti paku sayur
(Athyrium esculentum) yang dapat dimakan tunasnya, Asplenium sp.
dan Adiantum sp. sebagai tanaman hias, paku ekor
kuda Equisetum debile sebagai bahan pengobatan, Cyathea
contaminans sebagai bahan media tumbuh anggrek, dan hata Lygodium
circinnatum sebagai bahan kerajinan.
|
Obat
|
Terletak
di petak XIV G dan V A, ditata sedemikian rupa hingga berfungsi sebagai taman
yang menarik untuk dinikmati. Di antara koleksinya adalah Pace (Morinda
citrifolia), buahnya untuk obat batuk dan tekanan darah tinggi, daun ungu (Graptophyllum
pictum), daunnya untuk obat wasir, Widoro upas (Merremia mammosa), umbinya untuk
obat kencing manis, Sembung (Blumea balsamifera)
daunnya untuk obat asma,
sakit
jantung, Wudani (Quisqualis
indica) daunnya untuk obat cacing dan lain-lainnya.
|
Mangga
|
Ada
4 jenis koleksi mangga di Kebun Raya Punwodadi yaitu Mangifera indica, M.
foetida, M. odorata yang berasal
dari Jawa, dan M. minor dan Sumbawa. Terdiri dari 37 kultivar seperti mangga
endog, rnangga gurih, rnangga madu, mangga kopyor, mangga putihan, dan lain-lain.
|
Pisang
|
Ada
5 jenis koleksi pisang di Kebun Raya Purwodadi yaitu Musa acuminata, M.
balbisiana (jenis liar yang berperan sebagal induk silangan pisang kultivar),
M. troglodytarum, M. orrnata (mempunyal tandan buah yang rnenghadap ke atas)
dan M. paradiksiaca yang merupakan pisang kultivar
Tercatat ada 148 pisang kultivar yang berada di XXIV A, B, D dan E. Salah
satu pisang kultivar kebanggaan Kebun Raya Purwodadi adalab Pisang Kates,
yang merupakan hasil silangan dari M, acuminata dan M. balbisiana, memiliki 3
- 5 buah per sisir dan ukurannya lebih besar dari pisang gajih.
|
Hasil
dan Pembahasan Tanaman Observasi Di Kebun Raya Purwodadi
Pohon
akasia (Acacia magnium )
KLASIFIKASI
Kerajaan
Plantae
Divisi Spermatophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Fabales
Famili Fabaceae (Mimosoideae)
Genus Acacia
Spesies Acacia mangium
DESKRIPSI
Pohon Acacia mangium, selalu hijau, tinggi
hingga 30 m. bebas bercabang dapat lebih dari setengah tinggi pohon kadang
-kadang silindris pada batang bawah dan diameter jarang lebih dari 50 cm. Kulit
kasar dan beralur, berwarna abu-abu atau coklat. Ranting kecil seperti sayap.
Daun besar, panjangnya mencapai 25 cm, lebar 3-10 cm, hijau gelap dengan empat
urat longitudinal (tiga pada A. auriculifor- mis); daun majemuk ketika bibit.
Bunga berganda, putih atau kekuningan, dalam rangkaian yang panjangnya 10 cm,
tunggal atau berpasangan di sudut daun pucuk.
Buahnya
polong kering merekah yang melingkar ketika masak, agak keras, panjang 7-8 cm,
lebar 3-5 mm. Sedangkan benihnya hitam mengkilat, lonjong, 3-5 x 2-3 mm, dengan
ari (funicle ) kuning cerah atau oranye yang terkait di benih. Terdapat
66,000-120,000 benih/kg.
Pohon
berukuran sedang hingga besar, tinggi dapat mencapai 35 m, batang bergaris
tengah 90 cm, kulit batang berwarna ciklat keabuan hingga coklat tua; daun
lurus di satu sisi dan melengkung di sisi lain (seperti bulan sabit dengan
cekungan dangkal), panjang 25 cm dan lebar 3.5-9 cm, memiliki 4 (atau 5) urat
daun utama yang memanjang; perbungaan bulir, panjang bunga 1.2-1.5 mm, terdiri
dari 5 daun bunga; buah kering lurus atau melingkar, panjang 10 cm dan lebar
0.3-0.5 cm, berkayu.
MANFAAT
Kayu
Acacia mangium merupakan sumber bahan untuk konstruksi, pembuatan perahu dan
lemari. Tumbuhan ini juga menghasilkan buburkayu yang telah memiliki warna
putih yang bersih sehingga menghasilkan kertas dengan kualitas yang tinggi.dan
kebakaran. Daunnya biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain itu, jenis
tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai tanaman reklamasi lahan bekas tambang
batubara atau untuk penghijauan lahan kritis. Dan juga sebagai kayu tiang, pengendali erosi, naungan dan
perlindungan.Nilai lebih lain adalah kemampuan untuk ber- saingi dengan
alang-alang (Imperata cylindrica).
Averrhoa
blimbi
Kingdom
Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi Spermatphyta
(tumbuhan berbiji)
Subdivisi
Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas Dicotyledonae
(biji berkeping dua)
Ordo Oxalidales
Famili Oxalidaceae
Genus Averrhoa
Spesies
Averrhoa blimbi
·
Habitus
Tanaman
belimbing manis merupakan semak, perdu atau pohon.
·
Morfologi Tanaman Belimbing
Ø Ciri-ciri
daun :
Daun belimbing manis adalah daun menyirip ganjil, daun
tersebar, majemuk, anak daun tepi rata, daun penumpu tidak ada, anak daun bulat
telur memanjang, meruncing, ke arah poros semakin besar, bawah hijau biru
Ø Ciri-ciri
bunga
bunga
belimbing manis adalah bunga dalam ketiak daun yang masih ada atau yang sudah
rontok atau pada kayu tua, beraturan, berkelamin 2, malai bunga pada ranting
yang langsing, kerap kali dalam ketiak daun yang telah rontok, malai bunga
kebanyakan terkumpul rapat, panjang 1,5-7,5 cm, bunga sebagian dengan benang
sari pendek dan tangkai putik panjang, sebagian dengan benang sari panjang dan
tankai putik pendek, benang sari 10, lepas atau bersatu pada pangkal, kepala
sari beruang 2, berkelopak 5, kelopak tingginya lebih kurang 4 mm, daun mahkota
5, daun mahkota di tengah bergandengan, bulat telur terbalik memanjang, dengan
pangkal dan tepi pucat, terpuntir waktu dalam kuncup, rontok, panjang daun
mahkota 6-8 mm dan bunga berwarna merah ungu
Ø Buah
Buah kotak atau buni, buah buni bulat
memanjang, dengan 5 rusuk yang tajam, kuning muda, panjang 4-13 cm, bakal buah
menumpang, persegi 5 atau berlekuk 5 dan tangkai putik 5. Buah belimbing
berwarna kuning kehijauan. Saat baru tumbuh, buahnya berwarna hijau. Jika
dipotong, buah ini mempunyai penampang yang berbentuk bintang. Berbiji kecil
dan berwarna coklat. Buah ini renyah saat dimakan, rasanya manis dan sedikit
asam. Buah ini mengandung banyak vitamin C.
Salah satu obat tradisional yang digunakan
secara turun temurun adalah buah belimbing manis. Kandungan kimia buah adalah
protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C. Sifat kimia buah
adalah rasa asam, manis, dan netral. Adapun efek farmakologi buah sebagai antiradang,
peluruh kemih (diuretik) dan peluruh liur. Buahnya dapat digunakan sebagai obat
sakit tenggorokan, tekanan darah tinggi, kencing manis, kencing batu dan
perbesaran limfe akibat penyakit malaria .Pemakaian di masyarakat Indonesia (50
kg/ orang) adalah dengan mencuci 2 buah belimbing manis matang lalu dimakan
setiap selesai sarapan dan makan malam.
Buah belimbing mempunyai kandungan gizi cukup
tinggi yang bermanfaat bagi tubuh. Dalam 100 gram buah belimbing yang matang
mengandung energi (35 kal), protein (50 gram), lemak (0,7 gram), karbohidrat
(7,70 gram), kalsium (8 mg), serat (0,90 gram), vitamin A (18 RE),
vitamin C (33Mg) dan niacin (0,40 gram)
Ø Manfaat
Manfaat
utama tanaman ini sebagai makan buah segar maupun makanan buah olahan ataupun
obat tadisional. Manfaat lainnya sebagai stabilisator & pemeliharaan
lingkungan, antara lain dapat menyerap gas-gas beracun buangan kendaraan
bermotor, dll, menyaring debu, meredam getaran suara, dan memelihara lingkungan
dari pencemaran karena berbagai kegiatan manusia. Belimbing wuluh berkhasiat
sebagai obat encok, obat penurun panas dan obat gondok. Buah belimbing yang
manis selain menyembuhkan batuk, demam, kencing manis dan kolesterol tinggi,
juga cocok untuk meredakan sakit tenggorokan. Tidak hanya buah Belimbing yang
berguna untuk obat, daunnya pun bahkan lebih banyak digunakan dalam penelitian
ilmiah. Hal ini bukan berdasarkan kandungan kimia yang berbeda atau kelebihan
dan kekurangan untur pada salah satunya, namun hanya alasan teknis semata.
Serbuk daun lebih mudah distandarkan dalam gram, sedangkan buah sulit
dikeringkan hingga tidak jelas parameternya. batang belimbing manis pun
merupakan obat gosok untuk biang keringat.
Bunga
Lampu (Hibiscus schizopetalus)
(Gambar
literature)
(Gambar pengamatan)
·
Klasifikasi:
Klasifikasi dari bunga lampu
yakni (Hibiscus schizopetalus ):
Kingdom Plantae
Sub
Kingdom Tracheobionta
Spesies Hibiscus
Schizopetalus
Deskripsi
Perdu,
menahun, tegak atau sedikit merunduk, tinggi 2-3 m
Bulat,
diameter 5-10 cm, percabangan rapat, permukaan kasar, warna coklat kehitaman
Tunggal,
duduk tersebar, berseling, mempunyai daun penumpu, tangkai silindris, panjang
3-5 cm, warna coklat keunguan, helaian daun bentuk oval sampe lonjong, panjang
5-8 cm, lebar 3-5 cm, ujung dan pangkal runcing, tepi bergelombang, berlekuk 2,
pertulangan daun menyirip, permukaan kasar, warna hijau
Bunganya
sangat khas meskipun bentuknya menyerupai bunga kembang sepatu. Posisi bunga
selalu menggantung ke bawah karena tangkainya panjang. Ujung ginofornya
membelok ke atas. Kelopak bunga berwarna merah dengan tepi bercuping ke dalam
tajam, sehingga seperti disobek-sobek. Tumbuhan ini belum dimuliakan sehingga
warna petalnya selalu merah
Bunganya
tunggal, diketiak daun, berkelamin ganda, kelopak bentuk tabung, ujung
bercangap 5, hijau, benangsari dan putik menjuntai, tersusun dalam tangkai yang
panjangnya 5-8 cm, warna merah, duduk di tengan cawan bunga, bakal buah
menumpang, mahkota berlepasan, bentuk tidak simetris, halus, panjang 5-10 cm,
warna merah,
Kendaga,
beruang 5, bentuk bulat telur dengan ujung yang runcing, permukaan kasar,
panjang 1-2 cm, warna hijau, Biji : Bentuk lanset, kecil, jumlah banyak,
berwarna coklat
- Akar
:
Tunggang, berwarna putih kehitaman
- v
Ekologi dan penyebaran :
Merupakan
tumbuhan yang umum di budidayakan dipinggir-pinggir jalan, kebun atau untuk
pagar. Tumbuh dari dataran rendah sampai menengah dati ketinggian 200 m sampai
800 m diatas permukaan laut. berbunga pada bulan juni - september. waktu panen
yang tepat bulan april - mei
Astringent, anti radang dan
pencahar
Khasiat
dan pemanfaatan, obat sakit perut : bunga wora wari gantung segar sebanyak 30
gram, dicudi, direbus dengan 200 ml air sampai mendidih selama 5 menit,
disaring, setelah dingin diminum sekaligus dilakukan sehari 2-3 kali, obat
demam : daun segar sebanyak 30 gram, dicuci, direbus dengan 400 ml air sampe
mendidih selama 10 menit, disaring setelah dingin diminum 2 kali sehari.
Kandungan
kimia : daun dan bunga gantung mengandung saponin, kardenolin dan flavonoid,
sedangkan daunya juga mengandung alkaloid.
Gempur batu (Borreria hispida Schum)
Klasifikasi
:
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Divisi
Manoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Mubiales
Famili Rubiaceae
Genus Borreria
Spesies Borreria hispida s.
Nama
daerah : gempur batu, kertas watu, bulu lutung, remuk sela.
Habitat:
Tumbuh liar di hutan, di ladang pada tanah agak lembab pada dataran rendah
sampai ketinggian 500 m dpl.
Deskripsi
tanaman:
Tumbuhan liar di hutan-hutan.
Daun berbentuk tombak dan berakar, daun agak kasar. Bunga kecil-kecil warnanya
putih. Tanaman gempur batu termasuk tanaman herbal yang banyak khasiatnya
yang dapat menyembuhkan batu ginjal,empedu,obat luar/luka, dan susah
buang air.
Perbanyakan gempur batu dapat dilakukan dengan anakan. Gempur batu dirawat
dengan disiram air yang cukup, dijaga kelembapan tanah, dan dipupuk dengan
pupuk organik. Tumbuhan gempur batu menghendaki tempat yang cukup matahari dan
dalam pencegahan penyakit sebaiknya tidak menggunakan pestisida.
BAGIAN TUMBUHAN YANG DIGUNAKAN DAN
PEMANFAATANNYA
Bagian daun dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit sebagai berikut.
- Menghancurkan
batu ginjal, kandung kemih, dan empedu :Cuci bersih 4 raining gempur
batu dan 7 batang tanaman meniran beserta akarnya. Rebus semua bahan
dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, lalu minum 2
kali sehari, masing-masing ½ gelas. Lakukan secara rutin selama 1 bulan.
- Obat
luar untuk diare:Cuci bersih batang dan daun gempur batu segar,
masing-masing secukupnya, lalu giling halus bersama buah adas secukupnya.
Tapalkan hasil gilingan yang telah halus pada bagian perut.
- Susah
kencing :Cuci bersih 15 g daun segar lalu rebus dengan 2 gelas air
selama 15 menit sampai mendidih. Setelah dingin, saring, lalu minum
sekaligus 1 kali sehari
- Batu
empedu: Herba gempur batu segar 2 genggam; Air 110 ml, Dibuat infus
atau pipisan, Diminum 2 kali sehari tiap kali minum 100 ml; Apabila dibuat
pipisan diminum 2 kali sehari; tiap kali minum 1/4 cangkir.
- Batu
ginjal: Herba gempur batu segar 2 genggam; Herba meniran segar 7
pohon; Air 110 ml, Dibuat infus, Diminum 2 kali sehari; pagi dan sore;
tiap kali minum 100 ml.
Melinjo
(Gnetum gnemon)
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
SubkingdomTracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
Gnetophyta
Kelas Gnetopsida
Ordo Gnetales
Famili
Gnetaceae
Genus Gnetum
Spesies Gnetum gnemon L.
Ø Deskripsi :
Pohon berumah dua yang selalu hijau dan
berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5-10 m. Daun berhadapan, berbentuk
jorong, panjang 7.5-20 cm dan lebar 2.5-10 cm; urat daun sekunder saling
bersambungan. Perbungaan majemuk soliter dan aksiler, melingkar di tiap nodus,
panjang bunga 3-6 cm. Terdapat 5 - 8 bunga betina di tiap nodus, berbentuk
bola. Buah seperti buah keras (nutlike), berbentuk jorong , panjang buah 1-3.5
cm, bagian ujungnya runcing pendek, ketika masak warna buah berangsur-angsur
akan berubah dari kuning, merah hingga keunguan. Satu biji dalam satu buah,
buah besar dan kulit tengahnya keras berkayu (horny).
Ø Distribusi/Penyebaran :
Melinjo ditemukan di seluruh kawasan Asia Tenggara (meskipun merupakan tumbuhan
asli dari Jawa dan Sumatra) dan tersebar hingga mencapai sebelah utara Assam
dan sebelah timur Fiji.
Ø Habitat : Melinjo tumbuh liar di
hutan-hutan hujan pada ketinggian hingga 1200 m. Tempat-tempat beriklim kering
umumnya membudidayakan tanaman ini. Tidak ada syarat tertentu terhadap faktor
kualitas dan kedalaman tanah, namun kadar ikat air pada tanah atau irigasi
perlu dilakukan selama musim kering. Spesies ini telah direkomendasikan sebagai
tanaman penghijauan.
Ø Manfaat tumbuhan : Daun-daun muda,
bunga dan buah (muda dan tua) biasa diolah menjadi sayur. Bagian paling penting
dari Melinjo adalah biji. Biji Melinjo dapat dimakan kering, dimasak, atau
diawetkan menjadi kerupuk (Emping). Emping merupakan panganan hasil industri
rumahtangga dan berperan penting bagi perekonomian masyarakat di Jawa. Selain
itu, pohon Melinjo yang memiliki perakaran kuat ini juga baik ditanam untuk
pemulihan kembali areal kritis. Di Jawa Tengah, Melinjo ditanam untuk
merehabilitasi lahan dan konservasi tanah di sepanjang Daerah Aliran Sungai
Gobeh.
Keji
Beling
Strobilanthes crispus Bl
·
Sinonim: Sericocalyx crispus (L.)
Bremek.
·
Nama umum:
- Indonesia:
keji beling
- Melayu:
pecah batu, batu jin
·
Klasifikasi:
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub
Kelas Asteridae
Ordo
Scrophulariales
Famili
Acanthaceae
Genus
Strobilanthes
Spesies
Strobilanthes crispus Bl
·
Ciri Umum
1.
Habitus
: Perdu, tinggi 1-2 meter
2.
Batang
: Beruas, bentuk bulat, berbulu kasar
3.
Percabangan
: Simpodial, warna hijau
·
Daun
1. Jenis
Daun : Daun tunggal
2.
Filotaksis
: Folia opposita (berhadapan)
3. Bentuk dan
Ukuran
: Ovalis, panjang 9-18 cm dan lebar 3-8 cm
4. Margo
Folii
: Serratus
5. Basis
Folii : Accutus
6. Apex
Folii : Accuminatus
7. Permukaan Daun
a.
Warna
:atas : hijau tua
bawah : hijau muda
b.
Tekstur
:atas : kasar
bawah : kasar dan berbulu
8.
Nervatio
: Penninervis
9.
Stipule
: -
10. Catatan
tambahan
: Tangkai daun pendek
·
Bunga
1. Bentuk
bunga
: Mahkota bentuk corong dan berambut, kelopak berambut, aktinomorf
2. Jumlah dan warna
sepal
: hijau / 4 - 5
3. Jumlah dan warna
petal
: kuning / 4 – 5 (gabung)
4. Jumlah
stamen
: 4
5. Kedudukan
ovarium : superior
6.
Infloresensi
: bulir
7.
Braktea/Brakteola : +
8. Rumus
Bunga : * Ca 4-5, [Co(4-5), A4] G(2)
·
Buah
1. Tipe
Buah
:
2. Bentuk dan
ukuran : bulat
3.
Warna
: coklat
·
Lain-lain
1. Getah dan warna
getah :
-
2. Bau ( aromatik dll
) : -
3.
Sulur
: -
4.
Duri
: -
5.
Umbi
: -
6.
Rhizoma
: -
Buah gada ( Kigelia africana )
Klasifikasi :
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Asteridae
Ordo Scrophulariales
Famili Bignoniaceae
Genus Kigelia
Spesies Kigelia africana (Lam.) Benth.
Habitat
di daerah tropis
Akar : Akar tunggang jenis
banir
Batang :
Batang berkayu tumbuh authotrop. Cabang simpodial plagiotrop
Daun : Bangun daun jorong (
2 : 1 ). Ujung daun runcing . Pangkal daun membulat. Tulang daun menyirip. Tepi
daun rata . Termasuk daun majemuk menyirip ganjil
Bunga :
Bunga majemuk tangkai ibu perbungaan hampir dua (2) meter menggantung kebawah.
Termaksud bunga aksilar atau bunga ketiak
Buah : Lapisan eksokarp
mengeras. Panjang buah kurang lebih 50 cm. Lingkar buah 35,5 cm. Filotaksis
atau tata letak daun berhadap berkarang semu.
Manfaat :
Untuk mengobati problem penyakit kulit, seperti infeksi
jamur,eksim,kebakar,lepra,syphilis kanker dll.
Malaria,disentri,diabetes,pneumonia dll Juga untuk obat kecantikan,menghaluskan
kulit bijinya untuk pembuatan Bir dan Obat Perangsang nafsu birahi (
afrodisiak)
Bungur
Kecil (Lagerstroemia torelli L.)
Klasifikasi :
Regnum Plantae
Divisio
Spermatophyta
Sub Divisio Angiospermae
Kelas
Dicotyledoneae
Sub Kelas Dialypetalae
Bangsa Myrtales
Famili Lythraceae
Genus Lagerstroemia
Spesies Lagerstroemia torelli
Nama umum
Indonesia: Bungur kecil, ketangi
Inggris: crape myrtle
Nama
daerah :
Sumatera : Bungur (Melayu) Bungur kuwal (Lampung) Bungur
tekuyung (Palembang)
Jawa : Bungur (Sunda) Kelangi {Jawa Tengah) Bhungor
(Madura).
Deskripsi
:
Habitus Pohon, tinggi 10-20 m.
Batang Bulat, bercabang, coklat muda.
Daun Tunggal, bulat telur, panjang 9-28 cm, lebar 4-12 cm,
hijau.
Bunga Majemuk,
bentuk malai. panjang 10-50 cm, di ketiak daun dan ujung batang, putik dan
tangkai benang sari putih, kepala sari kuning, daun mahkota bulat telur,
panjang ± 5 mm, ungu
Buah Kotak,
beruang tiga sampai tujuh, panjang ± 3,5cm, masih muda hijau setelah tua
coklat.
Biji Pipin,
ujung bersayap, coklat kehitaman.
Akar Tunggang, coklat muda.
Khasiat
Bij
i Lagerstroemia speciosa berkhasiat sebagai obat eksim dan obat penurun tekanan
darah tinggi.
Untuk
obat eksim dipakai ± 5 gram serbuk bij i Lagerstroemia speciosa, biji dibakar
hingga hangus lalu ditumbuk sampai halus, ditambah 1/2 sendok teh minyak kelapa
diaduk sampai rata, dioleskan pada eksirn.
Kandungan
kimia
Daun
Lagerstroemia speciosa mengandung saponin, flavonoida dan tanin.
Araucaria heterophylla
Nama umum
Indonesia: Cemara norfolk
Inggris: Norfolk island pine
Asal
/ Habitat : Pulau Norfolk, wilayah Australia
KLASIFIKASI
:
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Coniferophyta
Kelas Pinopsida
Ordo Pinales
Famili
Araucariaceae
Genu Araucaria
Spesie Araucaria heterophylla (Salisb.) Franco
Cemara Norfolk atau dalam bahasa Latin
dikenal dengan nama Araucaria heteropylla (Salisb.) Franco.,
termasuk famili Araucariaceae; berasal dari kepulauan Norfolk, New Zealand. Di
Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Cemara Norfolk.
Tetumbuhan
runjung atau Pinophyta, atau lebih dikenal
dengan nama konifer (Coniferae), merupakan
sekelompok tumbuhan berbiji terbuka(Gymnospermae)
dengan ciri yang paling jelas yaitu memiliki runjung ("cone") sebagai pembawa biji. Kelompok ini dulu
dalam klasifikasi berada padatakson "kelas" namun sekarang
menjadi divisio tersendiri setelah diketahui bahwa
pemisahan Gymnospermae dan Angiospermae secara kladistikadalah polifiletik. Kurang lebih ada
550 spesies anggota divisio ini, berbentuk berupa semak, perdu atau pohon.Kebanyakan
anggotanya memiliki tajuk berbentuk kerucutdan
memiliki daun yang memanjang.(lanset) atau berbentuk jarum (sehingga dikenal
juga sebagai tumbuhan berdaun
jarum). Bentuk daun semacam ini dianggap sebagai adaptasi terhadap habitat hampir semua
anggotanya yang banyak dijumpai di wilayah bersuhu relatif sejuk, seperti
sekeliling kutub (circumpolar) atau di dataran tinggi.
Penyebaran
:
Tumbuhan runjung kebanyakan tersebar di daerah beriklim sedang.
Bentuk daunnya yang sempit sangat adaptif dengan suhu yang rendah yang menjadi
ciri khas daerah tersebut.
DESKRIPSI :
BATANG
:
Batang tanaman kasar, mencapai ketinggian 5 m
lebih dengan cabang-cabang melintang atau tumbuh horizontal mengelilingi pohon. Setiap
tahun tanaman ini pertumbuhannya bertambah 7,5 – 15 cm. Cabang-cabangnya
kuat dan besar,Kulit silinder, berkelupas.Terdapat lentisel pada
batang.Percabangan bertingkat.
BUNGA
:
Bunga serumah tapi kelamin tetap satu.
Perkembangbiakannya melalui biji, cangkok,
dan stek.
Bunganya memiliki benang sari banyak.
DAUN
:
Memiliki daun yang memanjang (lanset) atau berbentuk jarum
(sehingga dikenal juga sebagai tumbuhan
berdaun jarum).Bentuk daun semacam ini dianggap sebagai adaptasi terhadap
habitat hampir semua anggotanya yang banyak dijumpai di wilayah bersuhu relatif
sejuk, seperti sekeliling kutub (circumpolar) atau di dataran tinggi.Tulang
daun sejajar,Daunnya selalu hijau dan tidak pernah gugur (evergreen). Strobilus
terminal.
BUAH
:
Buahnya berbentuk rajang buah yang
sudah tua, besar dengan diameternya 10 – 13 cm
POHON
:
Pohon
tanaman ini membentuk mahkota berbentuk pyramidal
Pemanfaatan
Jenis-jenis tanaman Araucaria termasuk spesies Araucaria
heterophylla merupakan tanaman yang sering dipergunakan untuk
keperluan tanaman hias. Jenis-jenis tanaman Araucaria juga
menghasilkan resin (Tjitrosoepomo, 2002). Tanaman yang menghasilkan resin dapat
dipergunakan untuk keperluhan bahan-bahan kosmetika. Kayu-kayu tua dapat
dimanfaatkan sebagai kayu bakar, tetapi jenis ini sangat cepat terbakar
sehingga bara api akan menjadi lebih cepat habis.
Tanaman ini berfungsi
sebagai tanaman outdoor dan pembatas antara tanaman dengan gedung bangunan atau
rumah.
Perbanyakan
Tanaman.
Perbanyakan
tanaman yang biasa dilakukan ialah dengan cara pencangkokan batangnya. Batang
yang dicangkok harus dipilih yang tidak terlalu muda atau terlalu muda.
Beberapa lama setelah dilakukan pencangkokan biasanya di sekitar bekas sayatan
akan keluar akar-akarnya. Bila jumlah akar-akar cangkokan ini sudah cukup
banyak dan diperkirakan sudah dapat hidup untuk ditanam, bibit cangkokan ini
sudah dapat dipotong dan ditanam di tempat yang telah disiapkan untuk penanaman
Melati
Air (Echinodorus palaefolius )
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Subkingdom
Tracheobionta
Super
Divisi Spermatophyta
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Liliopsida
Sub
Kelas Alismatidae
Ordo
Alismatales
Famili Alismataceae
Genus Echinodorus
Spesies Echinodorus palaefolius
Deskripsi :
Echinodorus palaefolius adalah nama latin dari tanaman Melati Air yang dalam bahasa
Inggris sering disebut dengan Mexican-Sword Plant.
Tanaman ini
punya banyak kelebihan. Selain rajin berbunga tak kenal musim, melati
air (Echinodorus palaefolius) juga punya bentuk daun yang eksotis, makin
ke atas makin melebar. Ada3 jenis melati air yang dikenal secara
awam. Menurut Muslim dari Duta Lotus Sawangan, Depok,ada yang biasa
disebut dengan melati air nomor 1, nomor 2 dan nomor 3. Masing-masing
memilikiciri berbeda.Yang paling laku adalah melati air nomor 3. Perbedaannya,
melati air nomor 1 memiliki bentuk daun lebih tebal dan lebar seperti mangkuk, tanpa gelombang di sekeliling daunnya.Bunganya
dobel, satu kuncup bisa muncul beberapa bunga.Bentuk daun melati air nomor 2 mirip dengan nomor 1. Bedanya, sekeliling daunnya bergelombang.
Bunganya juga dobel. Sementara melati air nomor 3 daunnya lebih kecil
dengancorak kehitaman semacam tompel, dan batang lebih panjang.Tompel ini bukan
penyakit atau kelainan pada tanaman, melainkan ciri melati air nomor 3.Ada lagi
melati air variegata dan melati air daun merah. Daun dan batangnya berwarna
merah,sementara bunganya putih besar.Bunga melati air berwarna putih dan
muncul sepanjang waktu. Bunga inilah yang
digunakanuntuk perbanyakan. Setelah mekar
dan keluar tunasnya, kemudian keluar daun. Nah, daun
ini laludipotong dan ditancapkan ke media tanam. Satu pucuk
bisa berisi 3 tunas. Bisa langsung ditanamsekaligus, bisa pula
dipecah satu-satu.Yang harus diingat, kadar stres melati air cukup tinggi.
Jadi, kalau mau memecah
bunga,sebaiknya hati-hati. Kalau dipecah, pasti stres, meskipun nggak sampai mati. Paling daunnyahangus
atau kering dan kita berharap ke daun baru untuk keluar tunas baru.Daun yang
stres ini sebaiknya dipotong, sementara tunasnya langsung ditanam, tidak
perludipecah-pecah. Ini supaya ketika satu rusak, daun lainnya masih bisa berkembang dan bagustampilannya.Perawatan melati air relatif gampang. Yang penting cukup air, tidak kering kerontang.Sebetulnya
kondisi lembap pun sudah cukup. Bahkan, dilempar pun bisa hidup. Cuma,
tergantungkebiasaan. Kalau sudah terbiasa tergenang air, sebaiknya harus selalu
tergenang. Begitu tumbuh
akar,
melati air akan mencari sendiri tanah yang sesuai untuknya. Yang penting
tanaman air bisa berdiri tegak, setelah itu ia akan menyesuaikan sendiri.
Hama dan Gangguan
Ada beberapa gangguan yang sering mampir ke melati air. Yang pertama adalah
karat pada daun. Muncul bercak kekuningan di daun akibat terkena air hujan,
khususnya pada jenis melati air nomor 1. Agar tak terkena penyakit karatan,
hindari terkena air hujan secara langsung. Penyakit lain adalah serangan kutu hitam
dan belalang. Untuk mengatasinya cukup menggunakan insektisida seperti Furadan
atau Decis.
Cara Pengembangbiakan
Bunga melati air
berwarna putih dan muncul sepanjang waktu. Bunga inilah yang digunakan untuk
perbanyakan. Setelah mekar dan keluar tunasnya, kemudian keluar daun. Daun ini
lalu dipotong dan ditancapkan ke media tanam. Satu pucuk bisa berisi 3 tunas.
Bisa langsung ditanam sekaligus, bisa pula dipecah satu-satu.
Yang harus diingat, kadar stres melati air cukup tinggi. Bila ingin memecah
bunga, sebaiknya hati-hati. Kalau dipecah, pasti stres, meskipun tidak sampai
mati. Paling daunnya hangus atau kering dan kita berharap ke daun baru untuk
keluar tunas baru.
Daun yang stres ini sebaiknya dipotong, sementara tunasnya langsung ditanam, tidak
perlu dipecah-pecah. Hal ini supaya ketika satu rusak, daun lainnya masih bisa
berkembang dan bagus tampilannya.
Cara Perawatan
Perawatan melati air relatif gampang. Yang penting cukup air, tidak kering
kerontang. Sebetulnya kondisi lembap pun sudah cukup. Bahkan, dilempar pun bisa
hidup. Cuma, tergantung kebiasaan. Kalau sudah terbiasa tergenang air,
sebaiknya harus selalu tergenang.Begitu tumbuh akar, melati air akan mencari
sendiri tanah yang sesuai untuknya. Yang penting tanaman air bisa berdiri tegak,
setelah itu ia akan menyesuaikan sendiri.
Perawatan sehari-hari yang lain adalah rajin-rajin mengecek apakah ada belalang
atau kutu hitam. Kutu hitam akan menyebabkan daun tak bisa membesar. Kutu hitam
juga cepat menular dan beranak.
Tak Boleh Sembarang Bongkar
Banyak juga yang
mengeluhkan tanaman air cepat rusak. Sebetulnya itu tergantung perawatannya.
Kuncinya hanya dua, yaitu cukup air dan pemberian pupuk NPK. Pada saat daun
mulai mengecil atau menguning, saatnya memberi beri NPK. Biasanya daun akan
normal kembali.
Setelah tanaman cukup besar, sebaiknya dipindah ke wadah yang lebih besar. Bisa
ke bak atau pot. Melati air sangat bagus tumbuh di media yang lebar. Makin
lebar dan besar wadah, makin bagus tampilannya. Bisa menggunakan pot tanah,
sementara media tanamnya lumpur, pupuk kandang, ditambah pupuk NPK.
Yang harus diperhatikan, sebaiknya berhati-hati ketika memindahkan melati air
dari ember ke wadah yang lebih besar, pot misalnya. Tak boleh sembarang bongkar
agar akar tanaman tidak putus.
Cara yang tepat, dengan menuangkan melati air beserta media tanamnya dari wadah
asal dan biarkan ia keluar dengan sendirinya. Setelah keluar, baru diangkat dan
dipindah ke pot.
Sambang
Darah (Excoecaria cochinchinensis)
Nama
Umum
Indonesia : Sambang darah, daun lamban, daun
remek daging, ki sambaing.
China : ji wei mu
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Subkingdom Tracheobionta
Super Divisi
Spermatophyta
Divisi
Magnoliophyta
Kelas
Magnoliopsida
Tanaman ini lebih di kenal sebagai tanaman obat.
Tumbuh di alam liar atau di tanam sebagai pagar hidup karena
tajuknya yang rimbun. Sambang Darah yang nama latinnya adalah Excoecaria
cochinchinensis, termasuk dalam keluarga Euphorbiaceae. Di Indonesia,
Sambang Darah dikenal juga dengan nama Daun Remek Daging / Ki Sambang.
HABITAT:
Umumnya, sambang darah di tanam di pekarangan sebagai pagar
hidup atau tanaman obat, di taman-taman sebagai tanaman hias, atau tumbuh liar
di hutan dan di ladang pada tempat yang terbuka atau sedikit terlindung.
Tanaman yang berasal dari Indocina ini tidak menyukai tanah yang tergenang air.
HABITUS:
Perdu yang tumbuh tegak ini mempunyai tinggi 0,5--1,5 m,
percabangan banyak, getahnya berwarna putih dan berracun.
DAUN: Daun Sambang Darah sangat unik karena terdiri dari dua warna,
hijau di bagian atas dan merah di bagian bawah.
Daun tunggal, bertangkai, helaian daun bentuknya jorong
sampai lanset memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi, tulang daun
menyirip dan menonjol pada permukaan bawah, panjang 4--15 cm, lebar 1,5--4,5
cm, warna daun pada permukaan atas hijau tua, dan permukaan bawah merah gelap.
Daun muda warnanya lebih mengilap.
BUNGA: Bunga keluar dari ujung
percabangan, bentuknya kecilkecil, warnanya kuning, tersusun dalam rangkaian
berupa tandan, bunga jantan lebih banyak daripada bunga betina.
BUAH: Buah tiga keping,
bundar, dengan diameter sekitar 1 cm.
MANFAAT: Daun, akar dan ranting sambang darah dapat dimanfaatkan sebagai
obat. Sambang Darah banyak digunakan untuk mengatasi disentri, menghentikan
pendarahan (batuk darah, muntah darah, dan pendarahan waktu melahirkan/haid).
Daunnya dapat digunakan untuk mengatasi gatal karena penyakit kulit.
PERBANYAKAN TANAMAN: Cara memperbanyak tanaman ini adalah dengan stek
batang atau cangkok. Media tanam sangat penting. Ia lebih menyukai media yang
kering atau tidak tergenang air
PEMANFAATAN:
Bagian
tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, ranting, dan akarnya.
INDIKASI
Sambang
darah digunakan untuk mengatasi:
banyak
mengeluarkan darah sewaktu haid dan melahirkan,
batuk
darah, muntah darah, luka berdarah, dan
disentri.
CARA
PEMAKAIAN
Untuk
obat yang diminum, lihat contoh pemakaian. Pemakaian luar digunakan untuk
pengobatan gatal-gatal dan penyakit kulit kronis, seperti psoriasis, ekzema
kronis, neurodermatitis, dan luka berdarah. Caranya, cuci daun segar
secukupnya, lalu giling sampai halus. Bubuhkan ke tempat yang sakit, lalu
balut.
CONTOH
PEMAKAIAN
·
Disentri
Cuci daun sambang darah (15 lembar),
lalu rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa dua gelas. Setelah dingin,
saring airnya untuk dua kali minum, pagi dan sore hari.
·
Muntah darah
Cuci daun sambang darah (10 lembar ),
lalu giling halus. Tambahkan garam seujung sendok teh dan air masak sebanyak
setengah cangkir. Aduk merata, lalu saring dan peras dengan sepotong kain.
Minum sekaligus.
·
Perdarahan haid
Cuci ranting kering sambang darah
sebesar jari kelingking, lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan tiga gelas
air sampai tersisa separuhnya. Minum air rebusannya sehari tiga kali,
masing-masing setengah gelas.
·
Perdarahan setelah bersalin, keguguran
Cuci akar kering sambang darah sebesar
satu setengah jari kelingking, lalu potong-potong seperlunya. Rebus dengan dua
gelas air minum sampai tersisa separuhnya. Setelah dingin saring dan minum
sehari dua kali, masing-masing setengah gelas.
Tanjung
(Mimusops elengi L.)
Lokasi : Kebun Raya Purwodadi
Tanggal: 1 April 2012
·
Klasifikas:
Kingdom
Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub
Kelas Dilleniidae
Ordo
Ebenales
Famili
Sapotaceae
Genus:
Mimusops
Spesies
Mimusops elengi L.
·
Nama umum:
- Indonesia:
Tanjung
- Inggris : Spanish Cherry
·
Habitus:
berupa
pohon yang tingginya bisa mencapai 15 m.
·
Perakaran: tunggang
·
Batang:
berbentuk
bulat dengan arah tumbuh yang tegak lurus, permukaan batangnya kasar, dengan
percabangan yang monopodial.
·
Daun:
berbentuk jorong atau bulat telur memanjang.
Mempunyai pangkal daun yang bulat dan ujung tumpul, dan tepi daunnya berombak.
Urat daunnya menyirip dengan tekstur daun licin berwarna hijau tua.
·
Bunga:
merupakan bunga tunggal atau dua dalam ketiak
daun, menggantung, berkelamin dua dan berbau enak. Daun kelopak dalam 2
karangan empat yang perlahan-lahan menyempit. Mahkota sama panjangnya dengan
kelopak, berwarna putih kotor dengan tabung lebar yang pendek dan sedikit
banyak terletak dalam 2 karangan. Benang sari tertancap dalam leher yang
berambut, berseling dengan staminodia yang ujungnya bergigi dan pipih. Tangkai
putik tidak atau hampir tidak dapat menjulang di luar bunga. Buah memanjang,
berwarna merah oranye dengan kelopak yang tidak rontok.
·
Biji:
Bijinya satu dengan sisi yang pipih, berwarna
hitam coklat dan terdapat dalam daging buah yang berwarna muda.
·
Manfaat:
- Bunganya
yang wangi mudah rontok dan dikumpulkan di pagi hari untuk mengharumkan
pakaian, ruangan atau untuk hiasan
- Buahnya
berwarna hijau kalau masih muda, kalau sudah masak berwarna kuning kemerahan,
bisa dimakan dengan rasa manis agak sepat
- Air
rebusan kulit batang digunakan sebagai obat penguat dan obat demam. Rebusan
kulit batang beserta bunganya digunakan untuk mengatasi murus yang disertai
demam
- Daun
segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala
- Daun
segar yang digerus halus digunakan sebagai tapal obat sakit kepala
Tapak
Liman (Elephantopus scaber L.)
Tanggal Pengambilan : 1 April 2012
Tempat : Kebun Raya Purwodadi
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkanbiji)
Divisi Magnoliophyta
(Tumbuhanberbunga)
Kelas
Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Sub
Kelas Asteridae
Ordo
Asterales
Famili
Asteraceae
Genus
Elephantopus
Spesies
Elephantopus scaber L.
Tapak liman disebut Elephantopus scaber L. atau Asterocephalus cochinchinensis
Soreng termasuk kedalam famili tumbuhan Compositae. Tanaman ini dikenal dengan
nama daerah tutup bumi, balagaduk, tapak tangan atau talpak tana.
,batang kaku, berambut panjang dan rapat,
bercabang. Bunga majemuk berwarna putih, ungu kekuningan.
1. HABITUS
Tapak Liman ini merupakan tanaman semak
2. HABITAT
3. Tapak
Liman ini dapat tumbuh mencapai tinggi 10-80 cm.Tapak liman termasuk tanaman
liar yang tumbuh dilapangan-lapangan atau tanah kosong.
4. DESKRIPSI
a. Daun
Daun tunggal berkumpul di bawah
membentuk roset, berbulu, bentuk daun jorong, bundar telur memanjang, tepi
melekuk dan bergerigi tumpul. Panjang daun 10 cm - 18 cm, lebar 3 cm - 5 cm.
Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm - 9 cm, lebar 1 cm
- 3 cm.
b. Bunga
Bunga bentuk bonggol,
banyak, warna ungu.
c. Buah
Buah berupa buah longkah.
Masih satu marga tetapi dari jenis lain, yaitu Elephantopus tomentosa L.,
mempunyai bunga wama putih, bentuk daun bulat telur agak licin
d. Manfaat
Manfaat dari Tapak Liman ini
sangat beragam yakni :
Dapat menyembuh kan
1. Influenza, demam,
peradangan amandel, radang tenggorok, radang
mata.
2. Dysentery, diare, gigitan
ular.
3. Epidemic encephalitis B.,
batuk seratus hari (Pertusis).
4. Sakit kuning, memperbaiki
fungsi hati, busung air (ascites).
5. Radang ginjal yang akut
dan kronik.
6. Bisul, eksema.
7. Kurang darah (anemia),
radang rahim, keputihan.
8. Mempermudah proses
kelahiran, pengobatan sesudah bersalin.
9. Pelembut kaki, peluruh
dahak, peluruh haid, pembersih darah,
pengelat.
10. Hepatitis
11.Perut kembung.
12. Radang rahim, keputihan.
13. Meningkatkan gairah pria
yang terganggu sakit pinggang
Thevetia peruviana
(pers.) K. Schum.
|
KoleksiKebun Raya
|
Literatur
|
|
|
|
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Super Divisi
Spermatophyta (Menghasilkanbiji)
Divisi
Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
Kelas
Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Sub
Kelas Asteridae
Ordo
Gentianales
Famili
Apocynaceae
Genus Thevetia
SpesiesThevetiaperuviana
(Pers.) K.Schum
Botani
Sinonim : ThevetianerrifoliaJuss
Nama umum : Oleander
Nama daerah
Jawa : Oleander
Deskripsi
Habitus : Semak, tinggi ± 4 m.
Batang : Tegak, bulat, berkayu,
percabangansimpodial,
bergetah, putih kotor.
Daun : Tunggal, lonjong, tersebar,
pertulangan menyirip,
Pangkal runcing, ujung meruncing, tepi rata,
panjang
8-14 cm, lebar 1-2 cm, hijaumuda.
Bunga : Majemuk, lonjong, di ujung batang,
tangkai gundul,
panjang 2,5-5 cm, hijau muda, kelopak bentuk
lonceng, panjang 1-1,5 cm, mahkota lonjong,
bentuk
corong, panjang 2-2,5 crn, putih, kepala putik
kuning
pucat, bentuk kerucut, putih.
Buah : Polong, bulat pipih, hitam mengkilat.
Biji : Bulat, coklat kehitaman.
Akar : Tunggang, coklat,
Khasiat
Daun Theveti aperuviana berkhasiat untuk urus-urus
dan kulit batangnya
Untuk mencegah muntah.
Untuk urus-urus dipakai± 5 gram, daun segar
Theveti aperuviana, dicuci,
Direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dingin
disaring.
Hasil saringan diminum sekaligus.
Kandungankimia
DaunThevetia peruviana mengandung alkaloida,
saponin dan tanin, sedangkan
Batangnya mengandung saponin dan polifenol.
Putri
Malu (Mimosa pudica)
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi:
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi:
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas:
Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub
Kelas: Rosidae
Ordo:
Fabales
Famili:
Fabaceae
(suku polong-polongan)
Genus:
Mimosa
Spesies:
Mimosa pudica Duchass. & Walp
DESKRIPSI
·
Habitat
: tumbuh liar di pinggir jalan, tempat – tempat terbuka yang terkena sinar
matahari.
·
Habitus :
merupakan herba memanjat atau berbaring atau setengah perdu dengan tinggi
antara 0,3 – 1,5 m
·
Akar :
berupa akar pena yang kuat.
·
Batang :
Batang bulat, berambut, dan berduri tempel. Batang dengan rambut sikat yang
mengarah miring ke bawah.
·
Daun :
Daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun
setiap sirip 5 – 26 pasang. Helaian anak daun berbentuk memanjang sampai
lanset, ujung runcing, pangkal membundar, tepi rata, permukaan atas dan bawah
licin, panjang 6 – 16 mm, lebar 1 – 3 mm, berwarna hijau, umumnya tepi daun
berwarna ungu. Jika daun tersentuh akan melipatkan diri, menyirip rangkap.
Sirip terkumpul rapat dengan panjang 4 – 5, 5 cm.
·
Bunga :
berbentuk bulat seperti bola (bulir), bertangkai, berwarna ungu/merah. Kelopak
sangat kecil, bergigi 4, seperti selaput putih. Tabung mahkota kecil, bertaju
4, seperti selaput putih.
·
Buah :
Buah berbentuk polong, pipih, seperti garis.
·
Biji :
Biji bulat dan pipih.
·
Manfaat : Ada beberapa penyakit yang dapat
diobati dari tanaman ini, yaitu:
·
Susah tidur (Insomnia),
·
Panas tinggi,
·
Reumatik,
·
Cacingan.
Pemanfaatan dari
tanaman putri malu beragam. Bagian yang dipakai adalah daun, akar, seluruh tanaman,
segar atau yang dikeringkan. Aturan pemakaiannya adalah 15 hingga 60 gram, direbus.
Sedangkan untuk
pemakaian luar: Luka, radang kulit bemanah (piodermi), herpes adalah
tanaman segar dilumatkan, ditempelkan di tempat yang sakit.
Berikut
contoh pemakaian tanaman ini untuk pengobatan:
1.
Insomnia:
a. Untuk mengobati insomnia, sebanyak 30-60 gram daun putri malu
direbus lalu airnya diminum.
b. Bisa juga dengan mencampur 15 gram daun putri malu dengan 15 gram daun sawi
langit (vemonia cinerea) dan 30 gram daun calincing lalu direbus. Airnya
kemudian diminum.
2.
Chronic bronchitis:
a. Untuk mengobati penyakit bronchitis, 60 gram akar putri malu
dicampur 600 cc air, lalu direbus dengan api kecil sehingga menjadi 200 cc.
Lalu airnya dibagi untuk dua kali minum.
b. Mimosa pudica 30 gram, Akar peristrophe roxburghiana 10 gram, keduanya
direbus, dibagi menjadi 2 dosis/hari.
3.
Batuk dengan dahak banyak:
Sedangkan bagi penderita batuk dengan dahak banyak, akar putri malu sebanyak 10-15 gram
direbus lalu airnya diminum.
4.
Ascariasis:
Mimosa pudica 15 - 30 gram direbus, lalu airnya diminum.
5.
Rheumatik:
15 gram akar Mimosa pudica direndam dalam arak putih 500 cc selama 2 minggu.
Kemudian ditempelkan di tempat yang sakit.
Masih ada lagi
manfaat putri malu, diantaranya berkhasiat untuk mengatasi penyakit malaria.
Akar dan bijinya berkhasiat untuk merangsang muntah.
Para ahli pengobatan
Cina dan penelitian AS serta Indonesia
mengindikasikan, tanaman ini bisa dipakai untuk mengobati berbagai penyakit
lain, seperti radang mata akut, kencing batu, panas tinggi pada anak-anak, dan
herpes.
Hanya saja pemakaian
akar putri malu dalam dosis yang tinggi bisa mengakibatkan keracunan
dan muntah-muntah. Wanita hamil juga dilarang minum ramuan tersebut karena bisa
membahayakan janin.
Sifat kimiawi dan
efek farmakologis adalah Manis, astringen, agak dingin. Penenang
(tranquiliser), sedative, peluruh dahak (expectorant), anti batuk (antitusive),
penurun panas (antipiretic), anti radang
(anti-inflammatory), peluruh air seni (diuretic). Kandungan kimia tanaman ini
adalah Mimosine.
Ageratum Conyzoides L.
Klasifikasi :
Divisi Magnoliophyta
Classis Magnoliopsida
Ordo Asterales
Famili Asteraceae
Genus Ageratum
Spesies Ageratum conyzoides L.
Deskripsi
Nama
umum / dagang : Babandotan
Sumatera : Bandotan (Melayu)
Jawa : Babandotan (Sunda)
Bandotan {Jawa) Dus bedusan (Madura)
1. Habitus
: Herba, 1 tahun, tinggi 10-120
cm.
2.
Akar :
Tunggang, putih kotor.
3.
Batang :Tegak
atau terbaring.
4.
Daun :Tunggal,
bulat telur, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi beringgit, panjang 3-4 cm, lebar 1-2,5 cm,
pertulangan menyirip, tangKai pendek, hijau.
5.
Bunga :
Majemuk, di ketiak daun, bongkol menyatu menjadi karangan, bentuk malai rata,
panjang 6-8 mm, tangkai berambut, ke'opak berbulu, hijau, mahkota bentuk
lonceng, putih atau ungu.
6.
Buah :
Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, hitam.
7.
Biji : Kecil, hitam.
8.
Khasiat :
Daun Ageratum conyzoides berkhasiat sebagai obat luka baru dan obat wasir, untuk obat luka baru dipakai + 5
gram daun segar Ageratum conyzoides, dicuci dan ditumbuk sampai lumat,
ditempelkan pada luka dan dibalut. Kandungan kimiadaun dan bunga Ageratum
conyzoides mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, di samping itu daunnya
juga mengandung minyak atsiri.
Agatis dammara Warb
(Gambar 1) (Gambar 2)
Klasifikasi Agathis dammara
Sinonim : Agathis
alba Foxw.
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Divisi
Spermatophyta
Sub divisi Angiospermae
Kelas Dicotyledoneae
Bangsa Araucarlales
Suku Ararucarlaceae
Marga Agathis
Jenis Agathis dammara
Nama umum/dagang
: Damar
Nama daerah :
Sumatera : Damar
minyak (melayu) Bebulu (bangka)
Jawa : Ki damar
(sunda) Damar (jawa)
Sulawesi : Pohon
Damar (manado) Kayu Damara (makasar)
Maluku : Kamar (Ambon) Hate salo bobudo (ternate)
1. Deskripsi Agathis Dammara
Habitat : Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran
rendah,Namun di Jawa, tumbuhan ini terutama ditanam di pegunungan.
Habitus : Pohon, tahunan, tinggi 30-40 m.
2. Morfologi Agathis dammara
Batang : Tegak, berkayu, bulat, lurus,
berlentisel, bergetah,
abu-abu.
Daun : Tunggal, berhadapan, lonjong,
tebal, tepi rata, ujung
dan pangkal runcing, panjang ± 10 cm, lebar ± 5
cm, pertulangan menyirip, tangkai panjang ± 2 cm,
hijau mengkilat. Permukaan daun berlapis lilin, mengeluarkan
dammar, daun lebar dan biji telanjang.
Akar : Tunggang, kuat , dan berwarna
cokelat.
Contoh akar tunggang :
(Gambar 3)
Buah : Lonjong, berperisai pipih
seperti sisik, panjang ± 6
mm, putih kekuningan.
Biji : Pipih, putih.
3. Khasiat
Daun dan akar
Agathis dammara berkhasiat sebagai obat luka baru.
Untuk obat luka
baru dipakai daun Agathis dammara secukupnya, dicuci,
ditumbuk sampai
lumat, kemudian diternpelkan pada luka dan dibalut dengan
kain yang
bersih.
4. Kandungan kimia
Daun dan kulit
batang Agathis dammara mengandung saponin, kulit batangnya
|uga mengandung
(lavonoida dan tanin dan daunnya juga mengandung
polifenol.
5. Agathis damara tergolong
Angiospermae (tumbuhan biji tertutup)
6.1. Ciri umum tumbuhan berbiji tertutup
·
Tumbuhan berbiji tertutup
menghasikan biji di dalam bakal buah,
·
akar serabut dan tunggang,
·
batang bercabang dan beruas,
·
alat perkembangbiakan berupa
bunga,
·
daun bertulang dan berhelai dan
organ-organ tubuh dapat dibedakan dengan
jela
BAB V
SIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian KKL di kebun raya purwodadi dapat disimpulkan bahwa :
1.
Kebun raya Purwodadi didirikan pada tanggal 30 Januari 1941
oleh Dr. Lourens
Gerhard Marinus Baas Becking atas prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten pada tanggal 30
Januari 1941, memiliki keragaman jenis tumbuhan yang sangat banyak jenisnya,
kebun raya ini tergolong salah 1 kebun raya yang ada di Indonesia,yang berada
di dataran rendah kering, yang luasnya kurang kebih 88 hektar
2.
Koleksi Pohon dan Tumbuhan
Kebun
raya purwodadi memiliki keragaman jenis tumbuhan yang sangat banyak jenisnya,
kebun raya ini tergolong salah 1 kebun raya yang ada di Indonesia,yang berada
di dataran rendah kering, yang luasnya kurang kebih 88 hektar yang didalamnya
terdapat sekian banyak tumbuhan Angiospermae dan Gymnospermae diantaranya ialah
:
- Acacia
mangium
- Averrhoa
blimbi
- Hibiscus
Schizopetalus
- Borreria hispida Schum
- Gnetum
gnemon L.
- Strobilanthes
crispus Bl
- Kigelia
Africana
- Lagerstroemia
torelli L.)
9.
Araucaria heterophylla
- Echinodorus palaefolius
- Excoecaria cochinchinensis
- Mimusops
elengi L.
- Elephantopus
scaber L.)
- Tevetia peruviana
- Mimosa pudica
- Ageratum
Conyzoides L.
- Agatis dammara Warb
3.
Langah pembuatan herbarium yakni :
a)
Herbarium kering :
- Dipotong
tumbuhan yang akan diherbarium
- Disemprot tanaman dengan alkohol
- Di letakkan tanaman yang akan di
herbarium pada guntingan Koran yang disediakan
- Di tutp hingga rapat dan tidak ada udara
keluar masuk selama semalaman
- Dikeluarkan bahan herbarium yang sudah
dialkohol
- Dijemur hingga kering
- Dipotong tumbuhan yang akan diherbarium
- Disemprot
tanaman dengan alkohol
- Dimasukkan
kedalam toples bersih yang berisi alkohol kemudian ditutup rapat rapat
agar tidak ada udara yang bisa keluar masuk
5.2 Saran
Berdasarkan
penelitian KKL di kebun raya purwodadi, sangat banyak keragaman jenis tanaman
disana,dan ada beberapa species tanaman yang mulai punah, agar kepunahan
tersebut tidak terjadi sebaiknya kita sebagai mahasiswa biologi yang
katanya menyatu dengan alam aalagkah baiknya jika kita ikut serta menjaga tanam
tersebut meski tidak langsung di kebun raya purwodadi disekitar kita pun sangat
banyak tanaman yang hambir punah.
DAFTAR
PUSTAKA
Soerianegara, I, & A. Indrawan, 1978. Ekologi
Hutan Indonesia. Bogor:
Departemen Managemen Hutan. Fakultas Kehutanan.
Syahbudin. 1987. Dasar-Dasar Ekologi
Tumbuhan. Padang: Universitas Andalas
Press.
Rifai, A.M. 1993. Peri Kehidupan Alam
Sepanjang Jalan Pegunungan. Jakarta:
Panitia Program Nasional UNESCO-MAB Indonesia.
Damanik, J.S., J. Anwar., N. Hisyam., A.
Whitten. 1992. Ekologi Ekosistem
Sumatera. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Daniel, T.W., J.A. Helms, F.S. Baker. 1992. Prinsip-Prinsip
Silvinatural.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hafild & Aniger. 1984. Lingkungan
Hidup di Hutan Hujan Tropika. Cet 1.
Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Wirakusuma, R.S. 1990. Citra dan Fenomena
Hutan Tropika Humida Kalimantan
Timur. Jakarta: Pradya Paramita.
Rahman, M. 1992. Jenis dan Kerapatan Pohon
Dipterocarpacea di Bukit
Gajabuih
Padang. Jurnal Matematika dan Pengetahuan Alam. Vol.2.
No.1.
Hairiah,
K dan Rahayu, S. 2007. Pengukuran .Karbon Tersimpan. Di BerbagaiMacam
Penggunaan Lahan. Bogor: World Agroforestry Centre.
FWI/GFW. 2003. Potret Keadaan Hutan
Indonesia. Bogor, Indonesia: Fores
Watch Indonesia dan Washington D.C, Global
Forest Watch, Edisi 3.
Irwan, Z.D. 1992. Prinsip-Prinsip Ekologi
dan OrganismeEkosistem Komunitas
dan
Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Keputusan Menteri Kehutanan Republik
Indonesia No. 70/Kpts-II/2001. Jakarta.