Jumat, 06 Juli 2012

Integrasi buah mentimun dengan ayat alqur'an


Cucumis sativus
( Mentimun )
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas  Dilleniidae
                         Ordo  Violales
                             Famili
Cucurbitaceae (suku labu-labuan)
                                 Genus  
Cucumis
                                     Spesies Cucumis sativus
Deskripsi
Mentimun, timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.); suku labu-labuan atau Cucurbitaceae merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk membantu melembabkan wajah serta banyak dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
Karakteristik :

a.    akar
memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akartetapi daya tembusnya relatif dangkal, sekitar kedalaman 30-60 cm. Oleh karena itu,tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air (Rukmana,1994).
b.       Batang
Batang mentimun berupa batang lunak dan berair, berbentuk pipih, berambuthalus, berbuku-buku, dan berwarna hijau segar. Batang utama dapat menumbuhkancabang anakan. Ruas batang atau buku- buku batang berukuran 7―10 cm dan berdiameter 10―15 mm.
c.    Daun
Daun mentimun terdiri atas helaian daun (lamina), tangkai daun, dan ibutulang daun. Helaian daun mempunyai bangun dasar bulat atau bangun ginjal, bagianujung daun runcing berganda. Pangkal daun berlekuk, tepi daun bergerigi ganda.Daun mentimun dewasa mempunyai ukuran panjang dan lebar yang dapat mencapai20 cm, berwarna hijau tua hingga hijau muda, permukaan daun berbulu halus danberkerut .
d.       Bunga

Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik.  Bunganya berbentuk terompet dan berwarna kuning bila sudah mekar.
 
e. Buah
Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam.

 



f. Habitus
Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati.
Selama ini, mungkin, kita hanya tahu mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan. Padahal, banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan maupun kesehatan.
Ø  Tinjauan Islam
Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah Cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Allah SWT menyebut sayuran ini dalam surat Al Baqarah: 61.
 وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ                                                                                                                                   
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.
1)    Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kesembilan. Yaitu tentang pilihan-pilihan hidup. Manusia adalah makhluk yang memilih. Dan setiap saat harus memilih. Memilih artinya berfikir. Bagi manusia, berfikir adalah identitas hidupnya. Maka kualitas hidup seseorang dilihat dari kualitas berfikirnya. Sementara kualitas berfikirnya dilihat dari pilihan-pilihannya. Melalui ayat ini, Allah bermaksud meletakkan Bani Israil di panggung sejarah agar setiap manusia bisa melihatnya dengan jelas. Agar setiap orang melakukan penilaian atasnya seobjektif mungkin. Agar setiap orang bisa melihat pilihan-pilihan hidupnya di sepanjang rentang sejarah mereka, demi menghindari penilaian yang bersifat rasis dan fanatis. Dan apa yang diceritakan oleh al-Qur’an ini juga diceritakan di dalam Injil Perjanjian Lama (Ulangan 11:1-27) dan Perjanjian Baru (Matius 23: 30-35). Puncak dari kejahatan mereka adalah ketika mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan bahkan sampai hati membunuh para nabi. Kejahatan kemanusiaan mereka yang luar biasa ini mereka lakukan dengan ringan, dengan tanpa beban, karena bermula dari pilihan-pilihan hidup mereka yang sangat materialistik dan sesaat. Dan (ingatlah), ketika kalian berkata: "Hai Musa, kami sungguh tidak sabar dengan satu macam makanan (saja). Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya". Mereka seakan lupa kalau mereka itu sedang berada dalam pelarian dan sekaligus pembebasan dari perbudakan dan penindasan Fir’aun di Mesir. Dalam kondisi seperti itu, tidak mungkin makan seperti makannya orang yang mukim, dengan memakan berbagai jenis makanan. Sebagai musafir dan pelarian tentu makanannya hanya ala kadarnya. Tetapi itupun sebetulnya sudah luar biasa, sudah harus disyukuri karena makanan mereka selama ini ‘disuplai’ langsung oleh Allah dari langit dalam bentuk “manna” dan “salwa”, perjalanan mereka sejauh ini selalu dinanungi oleh awan sehingga selamat dari terik matahari (lihat kembali ayat 57); dan kepada mereka dipancarkan mata air dari batu sebanyak jumlah marga mereka. Tetapi, kendati begitu, di hadapan Musa, mereka mengakui ketidaksabarannya. Hai Musa, kami sungguh tidak sabar dengan satu macam makanan (saja). Padahal kesabaran adalah syarat penting untuk terus disertai dan dicintai oleh Tuhan. “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (3:146)
2)Nabi Musa as kemudian menjawab tuntutan Bani Israil ini dengan jawaban rasional dan  mendidik. Makanan memang penting. Itu tidak bisa dipungkiri. Makanan bahkan masuk kategori basic needs (kebutuhan pokok), yang tanpanya kehidupan tidak mungkin berlanjut. Tetapi makanan yang alakadarnya saja sudah bisa membuat seseorang menjadi survive. Toh tujuan makanan hanya agar tubuh menjadi kuat. Tidak lebih. Agar tubuh bisa mengabdi kepada tujuan hidup yang lebih mulia. Dan bukankah tujuan hidup yang paling mulia adalah meraih kemerdekaan hakiki? Yaitu kemerdekaan dari pelbagai bentuk perbudakan. Keunikan manusia dibanding makhluk-makhluk yang lain adalah terletak pada kemerdekaan ini. Karena dengan kemerdekaan inilah sehingga manusia memiliki (dan sekaligus bisa mengaktualkan) free-will dan free-choice-nya tanpa ditekan oleh pihak manapun.  Dan terapan  free-will dan free-choice inilah satu-satunya yang bisa membuat manusia berfikir bebas, mempertunjukkan kemampuan kreativitasnya yang menyebabkannya bisa melampaui makhluk-makhluk yang lain, yang menyebabkannya bisa membangun budaya dan peradabannya dari waktu ke waktu. Bahkan, terapan free-will dan free-choice inilah yang membuat manusia bisa ‘terbang’ melampaui seluruh realitas, menapaki gradasi-gradasi, menyusuri rahasia-rahasia, menembus entitas-entitas, untuk kemudian bergabung ‘bersama’ Khaliq-nya. Maka memilih makanan yang mewah dengan menggadaikan kemerdekaan diri adalah suatu kebodohan yang sulit dimengerti. Musa berkata: Apakah kalian mau mengganti (sesuatu) yang sifatnya sesaat dengan (sesuatu) yang lebih baik? Nabi Suci kita, Nabi Muhammad saw, mengatakan: “qulŭw lā ilāɦa illallah tuflihŭwn” (katakanlah “tiada tuhan selain Allah” niscaya kaliah akan menang).
3) Dan Nabi Musa as tidak menutup pintu pilihan sebaliknya. Karena kalau dia tutup, berarti dia sendiri turut punya andil dalam membungkam kemerdekaan itu. Dia tetap menawarkan kepada Bani Israil bahwa kalau mereka memang memilih makanan mewah, memeilih kepentingan perut, silahkan turun ke Mesir karena semua kebutuhan material itu pasti ada di sana; cuma dengan resiko kembali diperbudak dan dihinakan. (Kalau mau, maka) turunlah kalian ke Mesir, pasti (disana) kalian memperoleh apa yang kalian minta. Yang menarik ialah pada saat Nabi Musa menyuruh mereka turun ke Mesir, al-Qur’an menggunakan kata perintah اهْبِطُواْ (iɦbithŭw, turunlah), sama persis dengan kata perintah yang al-Qur’an gunakan pada saat Allah ‘mengusir’ manusia dari ‘surga’ (lihat kembali ayat 35 dan 36) akibat penolakannya kepada Pohon Pemerintahan Ilahi. Secara lengkapnya Nabi Musa mengatakan kepada Bani Israil: اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ [iɦbithŭw mishrā fainna lakum mā saˆaltum, turunlah kalian ke Mesir, pasti (disana) kalian memperoleh apa yang kalian minta (yaitu berbagai jenis makanan yang kalian inginkan)]. Hampir sama maknanya dengan ayat 36, saat Allah berfirman: اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ [iɦbithŭw ba’dlukum li ba’dlin ‘aduwwun wa lakum fĭyl-ardli mustaqarrun wa matā’un ilā hĭyn, Turunlah kalian! sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kalian ada tempat menetap di bumi, dan kesenangan hidup sampai suatu saat (yang ditentukan)]. Artinya, siapa yang memilih kesenangan hidup duniawi yang material dan sesaat niscaya juga akan memilih bernaung di bawah panji Pemerintahan Duniawi yang dipimpin oleh Khalifah Duniawi. Sebaliknya, siapa yang memilih kemerdekaan hakiki yang bersifat spiritual dan kekal niscaya juga akan memilih bernaung di bawah panji Pemerintahan Ilahi yang dipimpin oleh Khalifah Ilahi
4). Dan ternyata Bani Israil—di sepanjang sejarahnya—lebih memilih perutnya, lebih memilih kehidupan yang serba wah,  ketimbang nabinya. Sehingga walaupun nabi-nabi tersebut jelas-jelas berasal dari kalangan internal kerabat mereka sendiri, mereka memilih untuk mendustakannya dan bahkan membunuhnya. “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kalian angkuh; maka beberapa orang (di antara rasul-rasul tersebut) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (2:87) Karena setiap pilihan ada resikonya, maka konsekuensi dari plihan mereka ialah ditimpakannya kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.
Awal dari kehinaan adalah mendustakan ayat-ayat Allah dan para nabi-Nya. Awal dari mendustakan ayat-ayat Allah dan para nabi-Nya adalah senang berbuat durhaka (takabbur) dan melampaui batas. Awal dari berbuat durhaka dan melampaui batas adalah materialisme dan hedonisme. Awal dari materialisme dan hedonisme adalah karena menganut ideologi perut (berfikir dan bercita-cita untuk kepentingan perut belaka). Orang yang menganut ideologi perut adalah orang yang hidup semata untuk memperturutkan hawa nafsunya. Orang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah orang yang nista dan hina, lebih hina dari hewan ternak. “... Dan orang-orang kafir itu (hanya) bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang ternak. Dan neraka adalah tempat tinggal (yang pantas bagi) mereka.” (47:12)
Di zaman Rasulullah SAW, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga kesehatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering melakukannya.
Dari Aisyah bahwasanya, “Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma basah.” (Riwayat Tirmidzi)
Selain untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha (RA) ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah SAW, rutin mengonsumsi mentimun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan kurus.
Aisyah berkata, “Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal.” (Riwayat Ibnu Majah)
Kharakteristik mentimun:
Mentimun adalah buah yang dingin, lembab dan dapat meredam suhu panas ketika menderita radang perut besar. Sebagian timun, jika dingin akan berbahaya bagi perut. Maka kalau mau makan, sebaiknya dibarengi dengan sesuatu yang menghilangkan rasa dingin dan kelembabannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.; “Jika beliau hendak memakannya, dibarengi dengan buah kurma." Karena, jika memakan mentimun dibarengi dengan buah kurma atau kismis atau madu, hal tersebut dapat menetralkan kelembaban dan rasa dingin timun. Selain itu, mengonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita.

Ø  Tinjauan sains
Hasil penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.
Kandungan Nutrisi Mentimun.
Tabel berikut ini menjelaskan nilai nutrisi yang dikandung 100 gram mentimun segar:
Unsur
Kadarnya
Unsur
Kadarnya
Air                    
95,6 gr
Protein
0,8 gr
Lemak
0,1 gr
Karbohidrat
3 gr
Asam serabut
0,6 gr
Vitamin
200 SI
Vitamin B1
0,04 mgm
Vitamin B2
0.05 mgm
Nicotinic Acid
0,18 mgm
Vitamin C
10 mgm
Potassium
140 mgm
Kalsium
10 mgm
Besi
              0,3 mgm
Fosfor
              21 mgm
Kandungan cairan yang tinggi hidrat tubuh dan membuat kulit tampak berseri. Asupan mentimun Reguler yang baik untuk arthritis, asam urat dan eksim. Mentimun yang baik dapat mengendalikan diabetes.
Karena banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai tonik (menjaga kesehatan). Selain itu, ia juga bisa digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas pada saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, serta menyehatkan saluran pencernaan.

Ia juga merupakan peluruh kencing yang baik, sementara irisan mentimun yang dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam, dapat menghilangkan noda hitam pada kantung mata akibat kurang tidur.

Masker wajah dengan mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Sementara bila secara teratur dioleskan/dibalurkan pada pangkal paha atau bagian pantat, bisa berkhasiat menghilangkan selulit.
Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam Al Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran, dan kecantikan.

Manfaat mentimun:
Mentimun adalah buah berwarna hijau. Mentimun mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, fosfor, kalium, kalsium, seng, magnesium dan besi. Untuk kandungan gizinya dapat digunakan untuk diet dan produk kecantikan.
1. Dapat digunakan untuk mengobati penyakit kandung kemih.
2. Baunya dapat mengobati orang pingsan,
3. Akarnya dapat memperlancar saluran kencing,
Jus timun merupakan salah satu diuresis terbaik untuk melancarkan air seni dan juga menurunkan darah tinggi. Selain itu jenis sayuran ini enak dimakan mentah serta menyehatkan
4. Dan daunnya jika dijadikan seperti perban dapat mengobati bekas gigitan anjing.
5. Seorang dokter ahli berbangsa Arab memprediksikan bahwa mentimun dapat  menghilangkan rasa haus dan dahaga, pergolakan darah, menenangkan rasa pusing yang kronis, membuka penyumbat hati, memperlancar saluran kencing dan membasmi kerikil. Jika air mentimun diperas dan diminum dengan gula dapat mengobati penyakit kuning.
6. Dapat membantu sekresi dalam urin dan dengan demikian bertindak sebagai diuretik alami
7. Memberi irisan ketimun pada mata memiliki efek menenangkan.
Tempelkan irisan timun sebesar mata setiap tiga menit selama 20 menit pada kelopak untuk mengatasi mata yang sering lelah dan mengantuk.
8. Obat sariawan
Buah yang sering digunakan sebagai pelengkap hidangan rujak ini ternyata bermanfaat untuk meredakan sariawan atau seriawan. Dengan memakannya setiap hari dalam jumlah cukup banyak, niscaya buah yang memberi rasa dingin di rongga mulut ini mampu meredam "panas" sariawan. 

 






















Daftar Pustaka

Ad-Damsyiqi, Abu al-Fida Ismail ibn Katsir.1997. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim. Beirut: Darul Fikr.
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein.1961. At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Juz I. Kairo: Dar al-Kutub
Cahyono, B . 2003. Timun Aneka Ilmu. Semaramg:Budidaya Mentimun
Heri Purwanto dan Nawangsih, Abdjad Asih. 2001. Sayuran Jepang.Jakarta: PT. Penebar Swadaya.
Rukmana, R. 1995. Budidaya Mentimun. Yogyakarta : Kanisius
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun. Jakarta : Penebar swadaya











Tidak ada komentar:

Posting Komentar