Cucumis
sativus
(
Mentimun )
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Violales
Famili Cucurbitaceae (suku labu-labuan)
Genus Cucumis
Spesies Cucumis sativus
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Violales
Famili Cucurbitaceae (suku labu-labuan)
Genus Cucumis
Spesies Cucumis sativus
Deskripsi
Mentimun,
timun, atau ketimun (Cucumis sativus L.); suku labu-labuan atau Cucurbitaceae merupakan tumbuhan yang
menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika belum
masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar, tergantung
jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh dunia dan
memiliki kandungan air yang cukup banyak di dalamnya
sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan untuk
membantu melembabkan wajah serta banyak dipercaya dapat menurunkan
tekanan darah tinggi.
Karakteristik
:
a.
akar
memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akartetapi
daya tembusnya relatif dangkal, sekitar kedalaman 30-60 cm. Oleh karena
itu,tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air
(Rukmana,1994).
b. Batang
Batang
mentimun berupa batang lunak dan berair, berbentuk pipih, berambuthalus,
berbuku-buku, dan berwarna hijau segar. Batang utama dapat menumbuhkancabang
anakan. Ruas batang atau buku- buku batang berukuran 7―10 cm dan berdiameter 10―15 mm.
c.
Daun
Daun mentimun terdiri
atas helaian daun (lamina),
tangkai daun, dan ibutulang daun. Helaian daun mempunyai bangun dasar bulat
atau bangun ginjal, bagianujung daun runcing berganda. Pangkal daun berlekuk,
tepi daun bergerigi ganda.Daun mentimun dewasa mempunyai ukuran panjang dan
lebar yang dapat mencapai20 cm, berwarna hijau tua hingga hijau muda, permukaan
daun berbulu halus danberkerut .
d. Bunga
Perbungaannya berumah satu (monoecious)
dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama
yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan.
Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu
tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah
dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik. Bunganya berbentuk terompet dan berwarna kuning bila sudah mekar.
e. Buah
Buah berwarna hijau ketika muda dengan
larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari
bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah
dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya
hitam.
Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau setengah merambat dan merupakan
tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah tanaman mati.
Selama
ini, mungkin, kita hanya tahu mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan.
Padahal, banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan
maupun kesehatan.
Ø
Tinjauan Islam
Dalam ilmu
pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah Cucumis sativus
ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Allah SWT menyebut sayuran ini
dalam surat Al Baqarah: 61.
وَإِذْ
قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ
يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا
وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي
هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُواْ مِصْراً فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ
عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَآؤُوْاْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ ذَلِكَ
بِأَنَّهُمْ كَانُواْ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ
بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ
“Dan (ingatlah), ketika kamu
berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan
saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan
bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya,
bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah
kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke
suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”.
1)
Ini adalah kata إِذْ
(idz, ketika) yang kesembilan. Yaitu
tentang pilihan-pilihan hidup. Manusia adalah makhluk yang memilih. Dan setiap
saat harus memilih. Memilih artinya berfikir. Bagi manusia, berfikir adalah
identitas hidupnya. Maka kualitas hidup seseorang dilihat dari kualitas
berfikirnya. Sementara kualitas berfikirnya dilihat dari pilihan-pilihannya.
Melalui ayat ini, Allah bermaksud meletakkan Bani Israil di panggung sejarah
agar setiap manusia bisa melihatnya dengan jelas. Agar setiap orang melakukan
penilaian atasnya seobjektif mungkin. Agar setiap orang bisa melihat
pilihan-pilihan hidupnya di sepanjang rentang sejarah mereka, demi menghindari
penilaian yang bersifat rasis dan fanatis. Dan apa yang diceritakan oleh
al-Qur’an ini juga diceritakan di dalam Injil Perjanjian Lama (Ulangan 11:1-27)
dan Perjanjian Baru (Matius 23: 30-35). Puncak dari kejahatan mereka adalah
ketika mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan bahkan sampai hati membunuh para
nabi. Kejahatan kemanusiaan mereka yang luar biasa ini mereka lakukan dengan
ringan, dengan tanpa beban, karena bermula dari pilihan-pilihan hidup mereka
yang sangat materialistik dan sesaat. Dan (ingatlah), ketika kalian berkata: "Hai Musa, kami sungguh
tidak sabar dengan satu macam makanan (saja). Sebab itu mohonkanlah untuk kami
kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi,
yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang
merahnya". Mereka seakan lupa kalau mereka itu sedang berada
dalam pelarian dan sekaligus pembebasan dari perbudakan dan penindasan Fir’aun
di Mesir. Dalam kondisi seperti itu, tidak mungkin makan seperti makannya orang
yang mukim, dengan memakan berbagai jenis makanan. Sebagai musafir dan pelarian
tentu makanannya hanya ala kadarnya. Tetapi itupun sebetulnya sudah luar biasa,
sudah harus disyukuri karena makanan mereka selama ini ‘disuplai’ langsung oleh
Allah dari langit dalam bentuk “manna” dan “salwa”, perjalanan mereka sejauh ini selalu dinanungi
oleh awan sehingga selamat dari terik matahari (lihat kembali ayat 57); dan kepada
mereka dipancarkan mata air dari batu sebanyak jumlah marga mereka. Tetapi,
kendati begitu, di hadapan Musa, mereka mengakui ketidaksabarannya. Hai Musa, kami
sungguh tidak sabar dengan satu macam makanan (saja). Padahal
kesabaran adalah syarat penting untuk terus disertai dan dicintai oleh Tuhan. “Dan berapa
banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut
(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa
mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).
Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (3:146)
2)Nabi Musa as kemudian menjawab
tuntutan Bani Israil ini dengan jawaban rasional dan mendidik. Makanan
memang penting. Itu tidak bisa dipungkiri. Makanan bahkan masuk kategori basic needs
(kebutuhan pokok), yang tanpanya kehidupan tidak mungkin berlanjut. Tetapi
makanan yang alakadarnya saja sudah bisa membuat seseorang menjadi survive.
Toh tujuan makanan hanya agar tubuh menjadi kuat. Tidak lebih. Agar tubuh bisa
mengabdi kepada tujuan hidup yang lebih mulia. Dan bukankah tujuan hidup yang
paling mulia adalah meraih kemerdekaan hakiki? Yaitu kemerdekaan dari pelbagai
bentuk perbudakan. Keunikan manusia dibanding makhluk-makhluk yang lain adalah
terletak pada kemerdekaan ini. Karena dengan kemerdekaan inilah sehingga
manusia memiliki (dan sekaligus bisa mengaktualkan) free-will dan free-choice-nya
tanpa ditekan oleh pihak manapun. Dan terapan free-will
dan free-choice
inilah satu-satunya yang bisa membuat manusia berfikir bebas, mempertunjukkan
kemampuan kreativitasnya yang menyebabkannya bisa melampaui makhluk-makhluk
yang lain, yang menyebabkannya bisa membangun budaya dan peradabannya dari
waktu ke waktu. Bahkan, terapan free-will dan free-choice inilah yang membuat manusia bisa ‘terbang’
melampaui seluruh realitas, menapaki gradasi-gradasi, menyusuri
rahasia-rahasia, menembus entitas-entitas, untuk kemudian bergabung ‘bersama’
Khaliq-nya. Maka memilih makanan yang mewah dengan menggadaikan kemerdekaan
diri adalah suatu kebodohan yang sulit dimengerti. Musa berkata: Apakah kalian mau mengganti
(sesuatu) yang sifatnya sesaat dengan (sesuatu) yang lebih baik?
Nabi Suci kita, Nabi Muhammad saw, mengatakan: “qulŭw lā ilāɦa illallah tuflihŭwn”
(katakanlah
“tiada tuhan selain Allah” niscaya kaliah akan menang).
3) Dan Nabi Musa as tidak menutup
pintu pilihan sebaliknya. Karena kalau dia tutup, berarti dia sendiri turut
punya andil dalam membungkam kemerdekaan itu. Dia tetap menawarkan kepada Bani
Israil bahwa kalau mereka memang memilih makanan mewah, memeilih kepentingan
perut, silahkan turun ke Mesir karena semua kebutuhan material itu pasti ada di
sana; cuma dengan resiko kembali diperbudak dan dihinakan. (Kalau mau,
maka) turunlah kalian ke Mesir, pasti (disana) kalian memperoleh apa yang
kalian minta. Yang menarik ialah pada saat Nabi Musa menyuruh
mereka turun ke Mesir, al-Qur’an menggunakan kata perintah اهْبِطُواْ (iɦbithŭw, turunlah),
sama persis dengan kata perintah yang al-Qur’an gunakan pada saat Allah
‘mengusir’ manusia dari ‘surga’ (lihat kembali ayat 35 dan 36) akibat
penolakannya kepada Pohon Pemerintahan Ilahi. Secara lengkapnya Nabi Musa
mengatakan kepada Bani Israil: اهْبِطُواْ مِصْراً
فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ [iɦbithŭw mishrā
fainna lakum mā saˆaltum, turunlah kalian ke Mesir, pasti (disana) kalian memperoleh apa yang
kalian minta (yaitu berbagai jenis makanan yang kalian inginkan)].
Hampir sama maknanya dengan ayat 36, saat Allah berfirman: اهْبِطُواْ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ
وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ [iɦbithŭw
ba’dlukum li ba’dlin ‘aduwwun wa lakum fĭyl-ardli mustaqarrun wa matā’un ilā
hĭyn, Turunlah kalian! sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang
lain, dan bagi kalian ada tempat menetap di bumi, dan kesenangan hidup sampai
suatu saat (yang ditentukan)]. Artinya, siapa yang memilih
kesenangan hidup duniawi yang material dan sesaat niscaya juga akan memilih
bernaung di bawah panji Pemerintahan Duniawi yang dipimpin oleh Khalifah
Duniawi. Sebaliknya, siapa yang memilih kemerdekaan hakiki yang
bersifat spiritual dan kekal niscaya juga akan memilih bernaung di bawah panji
Pemerintahan Ilahi yang dipimpin oleh Khalifah Ilahi.
4). Dan ternyata Bani Israil—di
sepanjang sejarahnya—lebih memilih perutnya, lebih memilih kehidupan yang serba
wah, ketimbang nabinya. Sehingga walaupun nabi-nabi tersebut jelas-jelas
berasal dari kalangan internal kerabat mereka sendiri, mereka memilih untuk
mendustakannya dan bahkan membunuhnya. “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada
Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan
rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu`jizat) kepada
`Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap
datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai
dengan keinginanmu lalu kalian angkuh; maka beberapa orang (di antara
rasul-rasul tersebut) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian
bunuh?” (2:87) Karena setiap pilihan ada resikonya, maka
konsekuensi dari plihan mereka ialah ditimpakannya kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka
mendapat kemurkaan dari Allah.
Awal dari kehinaan adalah
mendustakan ayat-ayat Allah dan para nabi-Nya. Awal dari mendustakan ayat-ayat
Allah dan para nabi-Nya adalah senang berbuat durhaka (takabbur) dan melampaui
batas. Awal dari berbuat durhaka dan melampaui batas adalah materialisme dan
hedonisme. Awal dari materialisme dan hedonisme adalah karena menganut ideologi
perut (berfikir dan bercita-cita untuk kepentingan perut belaka). Orang yang
menganut ideologi perut adalah orang yang hidup semata untuk memperturutkan
hawa nafsunya. Orang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah orang yang nista
dan hina, lebih hina dari hewan ternak. “... Dan orang-orang kafir itu (hanya) bersenang-senang (di dunia) dan
mereka makan seperti makannya binatang-binatang ternak. Dan neraka adalah
tempat tinggal (yang pantas bagi) mereka.” (47:12)
Di zaman
Rasulullah SAW, sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk
kesehatan. Biasanya, mentimun dikombinasi dengan kurma segar untuk menjaga
kesehatan. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering
melakukannya.
Dari
Aisyah bahwasanya, “Rasulullah sering makan mentimun dicampur dengan kurma
basah.” (Riwayat Tirmidzi)
Selain
untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan
dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam
sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha (RA) ketika hendak
dipertemukan dengan Rasulullah SAW, rutin mengonsumsi mentimun dan kurma basah
untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Maklum, ketika itu tubuhnya kecil dan
kurus.
Aisyah
berkata, “Ibuku mengobatiku agar aku kelihatan gemuk, saat dia hendak
mempertemukan aku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil
sehingga aku memakan mentimun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk
dengan bentuk yang ideal.” (Riwayat Ibnu Majah)
Kharakteristik
mentimun:
Mentimun
adalah buah yang dingin, lembab dan dapat meredam suhu panas ketika menderita
radang perut besar. Sebagian timun, jika dingin akan berbahaya bagi perut. Maka
kalau mau makan, sebaiknya dibarengi dengan sesuatu yang menghilangkan rasa
dingin dan kelembabannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.;
“Jika beliau hendak memakannya, dibarengi dengan buah kurma." Karena, jika
memakan mentimun dibarengi dengan buah kurma atau kismis atau madu, hal
tersebut dapat menetralkan kelembaban dan rasa dingin timun. Selain itu,
mengonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum
wanita.
Ø
Tinjauan sains
Hasil
penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1%
lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain,
seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin
B2 dan vitamin C.
Kandungan Nutrisi Mentimun.
Tabel berikut ini menjelaskan nilai nutrisi
yang dikandung 100 gram mentimun segar:
|
Unsur
|
Kadarnya
|
Unsur
|
Kadarnya
|
|
Air
|
95,6 gr
|
Protein
|
0,8 gr
|
|
Lemak
|
0,1 gr
|
Karbohidrat
|
3 gr
|
|
Asam serabut
|
0,6 gr
|
Vitamin
|
200 SI
|
|
Vitamin B1
|
0,04 mgm
|
Vitamin B2
|
0.05 mgm
|
|
Nicotinic Acid
|
0,18 mgm
|
Vitamin C
|
10 mgm
|
|
Potassium
|
140 mgm
|
Kalsium
|
10 mgm
|
|
Besi
|
0,3 mgm
|
Fosfor
|
21 mgm
|
Kandungan cairan yang tinggi hidrat tubuh dan membuat kulit tampak berseri. Asupan mentimun Reguler yang baik untuk arthritis, asam urat dan eksim. Mentimun
yang baik dapat mengendalikan diabetes.
Karena
banyak mengandung bahan penting itu, mentimun sangat baik digunakan sebagai
tonik (menjaga kesehatan). Selain itu, ia juga bisa digunakan untuk mengobati
beberapa penyakit. Jus mentimun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan
panas pada saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi,
serta menyehatkan saluran pencernaan.
Ia juga
merupakan peluruh kencing yang baik, sementara irisan mentimun yang
dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam, dapat menghilangkan noda hitam
pada kantung mata akibat kurang tidur.
Masker
wajah dengan mentimun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan
sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Sementara bila
secara teratur dioleskan/dibalurkan pada pangkal paha atau bagian pantat, bisa
berkhasiat menghilangkan selulit.
Beberapa
khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa Hadist Nabi maupun dalam
Al Qur`an yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran, dan
kecantikan.
Manfaat mentimun:
Mentimun
adalah buah berwarna hijau. Mentimun mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin
C, fosfor, kalium, kalsium, seng, magnesium dan besi. Untuk kandungan gizinya
dapat digunakan untuk diet dan produk kecantikan.
1. Dapat digunakan
untuk mengobati penyakit kandung kemih.
2. Baunya dapat mengobati orang pingsan,
3. Akarnya dapat memperlancar saluran
kencing,
Jus timun merupakan salah satu diuresis terbaik untuk melancarkan
air seni dan juga menurunkan darah tinggi. Selain itu jenis sayuran ini enak
dimakan mentah serta menyehatkan
4. Dan daunnya jika dijadikan seperti
perban dapat mengobati bekas gigitan anjing.
5. Seorang dokter ahli berbangsa Arab memprediksikan bahwa mentimun
dapat menghilangkan rasa haus dan
dahaga, pergolakan darah, menenangkan rasa pusing yang kronis, membuka
penyumbat hati, memperlancar saluran kencing dan membasmi kerikil. Jika air
mentimun diperas dan diminum dengan gula dapat mengobati penyakit kuning.
6. Dapat membantu sekresi dalam urin dan dengan demikian bertindak sebagai
diuretik alami
7. Memberi irisan ketimun pada mata
memiliki efek menenangkan.
Tempelkan irisan timun sebesar mata setiap tiga menit selama 20
menit pada kelopak untuk mengatasi mata yang sering lelah dan mengantuk.
8. Obat sariawan
Buah yang sering digunakan sebagai pelengkap hidangan rujak ini ternyata bermanfaat untuk meredakan sariawan atau seriawan. Dengan memakannya setiap hari dalam jumlah cukup banyak, niscaya buah yang memberi rasa dingin di rongga mulut ini mampu meredam "panas" sariawan.
Buah yang sering digunakan sebagai pelengkap hidangan rujak ini ternyata bermanfaat untuk meredakan sariawan atau seriawan. Dengan memakannya setiap hari dalam jumlah cukup banyak, niscaya buah yang memberi rasa dingin di rongga mulut ini mampu meredam "panas" sariawan.
Daftar Pustaka
Ad-Damsyiqi, Abu al-Fida Ismail ibn Katsir.1997. Tafsir
al-Qur’an al-‘Adzim. Beirut: Darul Fikr.
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein.1961. At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Juz I. Kairo: Dar al-Kutub
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein.1961. At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Juz I. Kairo: Dar al-Kutub
Cahyono, B . 2003. Timun Aneka Ilmu.
Semaramg:Budidaya Mentimun
Heri Purwanto dan
Nawangsih, Abdjad Asih. 2001. Sayuran Jepang.Jakarta: PT. Penebar
Swadaya.
Rukmana, R. 1995. Budidaya Mentimun. Yogyakarta
: Kanisius
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun. Jakarta :
Penebar swadaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar