Jumat, 06 Juli 2012

Tumbuhan papan


A.Pohon Kelapa ( Cocus nucifera)

Klasifikasi
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas  Arecidae
                         Ordo  Arecales
                             Famili  
Arecaceae (suku pinang-pinangan)
                                 Genus  
Cocos
                                     Spesies  Cocus nucifera L.
Kelapa (Cocus nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini.
Pohon dengan batang tunggal atau kadang-kadang bercabang. Akar serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk bangunan.
 Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; endokarp melindungi biji yang hanya dilindungi oleh membran yang melekat pada sisi dalam endokarp. Endospermium berupa cairan yang mengandung banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding endokarp ketika buah menua; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah (disebut kentos).
Kelapa secara alami tumbuh di pantai dan pohonnya mencapai ketinggian 30 m. Ia berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1000 m dari permukaan laut, namun akan mengalami pelambatan pertumbuhan.

MANFAAT
Batangnya, yang disebut glugu dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.
Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu.
Tandan bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi menjadi tuak.
Buah kelapa adalah bagian paling bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarp yang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung atau batok, yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar, pengganti gayung, wadah minuman, dan bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.





B.Jati (Tectona grandis)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas Asteridae
                         Ordo  Lamiales
                             Famili  
Lamiaceae
                                 Genus  
Tectona
                                     Spesies  Tectona grandis L.
Habitus
Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang.dan seringkali masyarakat indonesia salah mengartikan jati dengan tanaman jabon( antocephalus cadamba ) padahal mereka dari jenis yang berbeda.
Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.
Batang jauh di atas tanah baru bercabang.Bagian yang muda dan sisi bawah daun berbulu vilt rapat.Daun bertangkai pendek ,kadang-kadang duduk,elips,atau sedikit banyak bulat telur,dengan ujung yang berbentuk baji,dan bagian pangkal yang menyempit,pada cabang yang berbunga ,23-40 kali 11-21 cm .Daunyang muda sering coklat kemrah-merahan.
Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.
Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu.
Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil.
Manfaat
Kayu jati yang sangat tahan lama sangat tepat untuk bangunan rumah dan pembuatan mebel. Daunnya oleh penduduk biasanya digunakan sebagai bahan pembungkus. Dalam musim kemarau daunnya meranggas ( Daunnya rontok dan tidak tumbuh sampai berbulan – bulan pada musim kemarau).

C. Randu ( Ceiba pentandra)
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas  Dilleniidae
                         Ordo  Malvales
                             Famili  
Bombacaceae
                                 Genus  
Ceiba
                                     Spesies  Ceiba pentandra L.
Tumbuhan yang berupa pohon yang dapat menggugurkan bunga, tinggi 8-30m. Batang muda dengan duri temple besar yang berbentuk kerucut. Tajuk jarang, cabang dalam karangan tiga- tiga, menyimpang kesamping horizontal. Daun bertangkai panjang, berbilang 5-9. Anak daun berbentuk lanset, gundul, panjang 5-16 cm.
 Bunga terkumpul 2-15 di ketiak daun yang sudah rontok, dekat ujung ranting. Kelopak bentuk lonceng, berlekuk 5 pendek, tinggi 1-2cm, tetap.daun mahkota bulat telur terbalik memanjang, 2,5-4 cm panjangnya, pada pangkalnya bersatu, berwarna mentega, dari luar berambut rapat.  Benang sari 5, bersatu menjadi bentuk tabung pendek. Kepala sari berbelok – belok. Bakal buah beruang 5, bakal biji banyak. Tangkai putik bentuk benang. Buah memanjang, panjag 7,5-15 cm, menggantung, membuka dari bawah ke atas dengan katup, dimana sekat – sekat antara tetap terikat pada tiang tengah, katup dengan rambut wol yang panjang. Waktu berbunga tanpa daun, berbunga pada bulan mei sampai oktober.Tanaman berasal dari Amerika dapat ditanam dimana- mana pada daerah dengan ketinggian 1-800meter. Rambut buahnya dapat menghasilkan kapuk.

D. Sengon (Albizzia falcata)
Klasifikasi
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas  Rosidae
                         Ordo  Fabales
                             Famili  
Mimosaceae
                                 Genus  
Paraserianthes
                                     Spesies  Albizzia falcata

Deskripsi
Batang mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin,berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm,atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
Daun sengon tersusun majemuk menyirip gandapanjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yangberisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligussebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Akar Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam
tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol kepermu
kaan tanah.
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai.berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikitberbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,dan berlilin
.
BenihPipih, lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau,bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.
Kegunaan
Merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan,kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik,pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Kulit batang digunakan untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.

E.Bambu (Bambusa sp.)


Klasifikasi
Kingdom  Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas  Commelinidae
                         Ordo  Poales
                             Famili  
poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus  
Bambusa
                                     Spesies: Bambusa sp.
Di seluruh dunia terdapat 75 genus dan 1.500 spesies bambu. Di Indonesia sendiri dikenal ada 10 genus bambu, antara lain: Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melocanna, Nastus, Phyllostachys, Schizostachyum, dan Thyrsostachys. Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun.
Batang bambu berbentuk silindris memanjang, berbuku-buku,beruas-ruas berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang. Batang-batang bambu muncul dari akar-akar rimpang yang menjalar dibawah lantai. Batang-batang yang sudah tua keras dan umumnya berongga,  Tinggi tanaman bambu sekitar 0,3 m sampai 30 m. Diameter batangnya 0,25-25 cm dan ketebalan dindingnya sampai 25 mm. Pada bagian tanaman terdapat organ-organ daun yang menyelimuti batang yang disebut dengan pelepah batang. Biasanya pada batang yang sudah tua pelepah batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang terdapat perpanjangan tambahan yang berbetuk segi tiga dan disebut subang yang biasanya gugur lebih dulu
Akar rimpangnya yang terdapat dibawah tanah membentuk sistem percabangan, dimana dari ciri percabangan tersebut nantinya akan dapat membedakan asal dari kelopok bambu tersebut. Bagian pangkal akar ripangnya lebih sempit dari pada bagian ujungnya dan setiap ruas mempunyai kuncup dan akar. Kuncup pada akar rimpang ini akan berkembang menjadi rebung yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh.
Tunas atau batang-batang bambu muda yang baru muncul dari permukaan dasar rumpun dan rhizome disebut rebung. Rebung tumbuh dari kuncup akar rimpang didalam tanah atau dari pangkal buluh yang tua. Rebung dapat dibedakan untuk membedakan jenis dari bambu karena menunjukkan ciri khas warna pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pepepahnya. Bulu pelepah rebung umumnya hitam, tetapi ada pula yang coklat atau putih misalnya bambu cangkreh (Dinochloa scandens), sementara itu pada bambu betung (Dendrocalamus asper) rebungnya tertutup oleh bulu coklat
Pelepah Buah merupakan hasil modifikasi daun yang menempel pada setiap ruas, yang terdiri atas daun pelepah buluh, kuping pelepah buluh dan ligulanya terdapat antara sambungan antara pelepah daun daun pelepah buluh. Pelepah buluh sangat penting fungsinya yaitu buluh ketika masih muda. Ketika buluh tumbuh dewasa dan tinggi, pada beberapa jenis bambu pelepahnya luruh, tetapi pada jenis lain ada pula yang pelepahnya tetap menempel pada buluh tersebut, seperti pada jenis bambu talang (Schizostachyum brachycladum).
Helai daun bambu mempunyai tipe pertulangan yang sejajar seperti rumput, dan setiap daun mempunyai tulang daun utama yang menonjol. Daunnya biasanya lebar, tetapi ada juga yang kecil dan sempit seperti pada bambu cendani (Bambusa multiplex) dan bambu siam (Thyrsostachys siamensis). Helai daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan kuping pelepah daun dan juga ligula. Kuping pelepah daun umumnya besar tetapi ada juga yang kecil atau tidak tampak. Pada beberapa jenis bambu, kuping pelepah daunnya mempunyai bulu kejur panjang, tetapi ada juga yang gundul.
Manfaat
Bambu ini sering digunakan untuk bahan dasar kerajinan, dan dapat digunakan untuk membuat tempat tinggal (papan) baik hewan atau manusia.

F.Pohon Mindi( Melia azedarach L.)

Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi  Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas  Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas  Rosidae
                         Ordo  Sapindales
                             Famili 
Meliaceae
                                 Genus 
Melia
                                     Spesies  Melia azedarach L
Deskripsi
               Mindi (Melia azedarach L) merupakan pohon dengan tinggi dapat mencapai 45 m, diameter mencapai 60 cm-120 cm, termasuk ke dalam kelompok suku meliaceae.Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 10m - 20m, biasanya ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang juga merupakan poohon liar di daerah-daerah dekat pantai dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut.
 Kulit batang berwarna coklat tua, daunnya majemuk menyirip ganda yang tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm, sedangkan anak daunnya berbentuk bulat telur bergerigi dan berwarna hijau tua di bagian permukaan atas.

Buah mindi merupakan buah batu (drupe). Buah yang masak dicirikan oleh warna kulit buah kuning, berukuran 1,0-1,8 cm dan bersifat polyembrioni, dimana dalam satu benih terdapat empat hingga enam lokus yang masing-masing berisi satu benih berukuran kecil (Nurhasybi dan Danu, 1997). Jumlah buah kering 1.286 butir/kg atau ± 56.894 butir biji/kg.

            Karena benih memiliki sifat dormansi fisik yang tinggi (Kulit benih yang keras) maka untuk memecahkan dormansinya diperlukan perlakuan. Selain direndam dengan asam sulfat, perlakuan pemecahan dormansi yang mudah dilakukan adalah dengan meretakan benih dengan ragum dan atau palu. Arah retakan diusahakan memanjang ukuran benih.






















DAFTAR PUSTAKA

Danu, 2003. Atlas Benih Tanaman Hutan Jilid I. Publikasi khusus vol.3 n0.8. Balai Litbang Teknologi Perbenihan Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.
Nurhasybi dan Danu, 1997. Mengenal Budidaya Mindi (Melia azedarach L). Tekno Benih. Vol.II No.1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor.
Sulastiningsih, IM dan Nurwati Hadjib, 2001. Kegunaan Mindi (Melia Azedarach L). Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Wardani, M, 2001. Morfologi, Persebaran dan Tempat Tumbuh Mindi (Melia Azedarach L). Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
www.iptek.apjii.or.id, 2006. Melia azedarach L.http:iptek.apjii.or.id/artikel/ ttg_tanaman_obat/ depkes/ buku1/ 1-184.pdf. Diakses tanggal 28 Juni 2006 jam 11.25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar