A.Pohon Kelapa ( Cocus
nucifera)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas Arecidae
Ordo Arecales
Famili Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus Cocos
Spesies Cocus nucifera L.
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas Arecidae
Ordo Arecales
Famili Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus Cocos
Spesies Cocus nucifera L.
Kelapa (Cocus nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku
aren-arenan atau Arecaceae dan
adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini
dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai
tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir. Kelapa
juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini.
Pohon dengan batang tunggal atau kadang-kadang
bercabang. Akar serabut, tebal
dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang
beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil
dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk
bangunan.
Daun tersusun secara majemuk, menyirip
sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna
daun hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian
yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu,
bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian
yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20
cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin,
disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok) dan kedap air; endokarp
melindungi biji yang
hanya dilindungi oleh membran yang melekat pada sisi dalam endokarp. Endospermium berupa cairan yang mengandung
banyak enzim, dan fase padatannya mengendap pada dinding endokarp ketika buah
menua; embrio kecil dan baru membesar ketika buah siap untuk berkecambah
(disebut kentos).
Kelapa
secara alami tumbuh di pantai dan
pohonnya mencapai ketinggian 30 m. Ia berasal dari pesisir Samudera Hindia, namun
kini telah tersebar di seluruh daerah tropika. Tumbuhan
ini dapat tumbuh hingga ketinggian 1000 m dari permukaan laut, namun akan
mengalami pelambatan pertumbuhan.
MANFAAT
Batangnya,
yang disebut glugu dipakai orang sebagai kayu dengan mutu menengah, dan
dapat dipakai sebagai papan untuk rumah.
Daunnya
dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa, disebut janur,
dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat atau
berbagai bentuk hiasan yang sangat menarik, terutama oleh masyarakat Jawa dan Bali dalam berbagai upacara, dan
menjadi bentuk kerajinan tangan yang berdiri sendiri (seni merangkai janur). Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun
menjadi satu menjadi sapu.
Tandan
bunganya, yang disebut mayang (sebetulnya nama ini umum bagi semua bunga
palma), dipakai orang untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan simbol
tertentu. Bunga betinanya, disebut bluluk (bahasa Jawa), dapat
dimakan. Cairan manis yang keluar dari tangkai bunga, disebut (air) nira
atau legèn (bhs. Jawa), dapat diminum sebagai penyegar atau difermentasi
menjadi tuak.
Buah kelapa adalah bagian paling
bernilai ekonomi. Sabut, bagian mesokarp yang berupa serat-serat kasar,
diperdagangkan sebagai bahan bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek. Tempurung
atau batok, yang sebetulnya adalah bagian endokarp, dipakai sebagai bahan bakar,
pengganti gayung, wadah
minuman, dan bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.
B.Jati (Tectona grandis)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Asteridae
Ordo Lamiales
Famili Lamiaceae
Genus Tectona
Spesies Tectona grandis L.
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Asteridae
Ordo Lamiales
Famili Lamiaceae
Genus Tectona
Spesies Tectona grandis L.
Habitus
Pohon besar dengan batang yang bulat lurus,
tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat
mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu
jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing
memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti
bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur
memanjang batang.dan seringkali masyarakat indonesia salah mengartikan jati
dengan tanaman jabon( antocephalus cadamba ) padahal mereka dari jenis yang berbeda.
Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon
yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati
terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.
Batang jauh di atas tanah
baru bercabang.Bagian yang muda dan sisi bawah daun berbulu vilt rapat.Daun
bertangkai pendek ,kadang-kadang duduk,elips,atau sedikit banyak bulat
telur,dengan ujung yang berbentuk baji,dan bagian pangkal yang menyempit,pada
cabang yang berbunga ,23-40 kali 11-21 cm .Daunyang muda sering coklat
kemrah-merahan.
Daun umumnya besar, bulat
telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan
pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua
menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut
kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan
mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda
berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.
Bunga majemuk terletak dalam
malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga
tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di
puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu.
Buah berbentuk bulat agak
gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi
umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga
yang melembung menyerupai balon kecil.
Manfaat
Kayu jati yang sangat tahan lama sangat
tepat untuk bangunan rumah dan pembuatan mebel. Daunnya oleh penduduk biasanya
digunakan sebagai bahan pembungkus. Dalam musim kemarau daunnya meranggas (
Daunnya rontok dan tidak tumbuh sampai berbulan – bulan pada musim kemarau).
C. Randu ( Ceiba pentandra)
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Malvales
Famili Bombacaceae
Genus Ceiba
Spesies Ceiba pentandra L.
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Malvales
Famili Bombacaceae
Genus Ceiba
Spesies Ceiba pentandra L.
Tumbuhan yang berupa pohon yang dapat
menggugurkan bunga, tinggi 8-30m. Batang muda dengan duri temple besar
yang berbentuk kerucut. Tajuk jarang, cabang dalam karangan tiga- tiga,
menyimpang kesamping horizontal. Daun bertangkai panjang, berbilang 5-9. Anak
daun berbentuk lanset, gundul, panjang 5-16 cm.
Bunga
terkumpul 2-15 di ketiak daun yang sudah rontok, dekat ujung ranting. Kelopak
bentuk lonceng, berlekuk 5 pendek, tinggi 1-2cm, tetap.daun mahkota bulat telur
terbalik memanjang, 2,5-4 cm panjangnya, pada pangkalnya bersatu, berwarna
mentega, dari luar berambut rapat.
Benang sari 5, bersatu menjadi bentuk tabung pendek. Kepala sari
berbelok – belok. Bakal buah beruang 5, bakal biji banyak. Tangkai putik bentuk
benang. Buah memanjang, panjag 7,5-15 cm, menggantung, membuka dari bawah ke
atas dengan katup, dimana sekat – sekat antara tetap terikat pada tiang tengah,
katup dengan rambut wol yang panjang. Waktu berbunga tanpa daun, berbunga pada
bulan mei sampai oktober.Tanaman berasal dari Amerika dapat ditanam dimana-
mana pada daerah dengan ketinggian 1-800meter. Rambut buahnya dapat
menghasilkan kapuk.
D. Sengon (Albizzia falcata)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Fabales
Famili Mimosaceae
Genus Paraserianthes
Spesies Albizzia falcata
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Fabales
Famili Mimosaceae
Genus Paraserianthes
Spesies Albizzia falcata
Deskripsi
Batang mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m.
Tidak berbanir, kulit licin,berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon
dewasa bisa mencapai 100 cm,atau
lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
Daun sengon tersusun majemuk menyirip gandapanjang
dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yangberisi
15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.Warna daun
sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligussebagai
penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Akar Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam
tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermu
kaan tanah.
tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermu
kaan tanah.
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai.berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih
kekuning-kuningan dan sedikitberbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari
bunga jantan dan bunga betina,dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.
oleh angin atau serangga.
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,dan berlilin.
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,dan berlilin.
BenihPipih,
lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau,bagian tengah coklat. Jumlah benih
40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.
Kegunaan
Merupakan
kayu serba guna untuk konstruksi ringan,kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer,
kayu lapis, korek api, alat musik,pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Kulit batang digunakan untuk penyamak jaring, kadang-kadang
sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias,
reboisasi dan penghijauan.
E.Bambu (Bambusa
sp.)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas Commelinidae
Ordo Poales
Famili poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus Bambusa
Spesies: Bambusa sp.
Di seluruh dunia terdapat 75 genus dan
1.500 spesies bambu. Di Indonesia sendiri dikenal ada 10 genus bambu, antara
lain: Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa,
Melocanna, Nastus, Phyllostachys, Schizostachyum, dan Thyrsostachys. Bambu
tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Hiant Grass (rumput
raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang tumbuh secara
bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada umur 3-4 tahun.
Batang bambu berbentuk silindris memanjang, berbuku-buku,beruas-ruas
berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau cabang.
Batang-batang bambu muncul dari akar-akar rimpang yang menjalar dibawah lantai.
Batang-batang yang sudah tua keras dan umumnya berongga, Tinggi
tanaman bambu sekitar 0,3 m sampai 30 m. Diameter batangnya 0,25-25 cm dan
ketebalan dindingnya sampai 25 mm. Pada bagian tanaman terdapat organ-organ
daun yang menyelimuti batang yang disebut dengan pelepah batang. Biasanya pada
batang yang sudah tua pelepah batangnya mudah gugur. Pada ujung pelepah batang
terdapat perpanjangan tambahan yang berbetuk segi tiga dan disebut subang yang
biasanya gugur lebih dulu
Akar rimpangnya yang terdapat dibawah tanah
membentuk sistem percabangan, dimana dari ciri percabangan tersebut nantinya
akan dapat membedakan asal dari kelopok bambu tersebut. Bagian pangkal akar
ripangnya lebih sempit dari pada bagian ujungnya dan setiap ruas mempunyai
kuncup dan akar. Kuncup pada akar rimpang ini akan berkembang menjadi rebung
yang kemudian memanjat dan akhirnya menghasilkan buluh.
Tunas atau batang-batang bambu muda yang baru
muncul dari permukaan dasar rumpun dan rhizome disebut rebung. Rebung tumbuh
dari kuncup akar rimpang didalam tanah atau dari pangkal buluh yang tua. Rebung
dapat dibedakan untuk membedakan jenis dari bambu karena menunjukkan ciri khas
warna pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pepepahnya. Bulu pelepah
rebung umumnya hitam, tetapi ada pula yang coklat atau putih misalnya bambu
cangkreh (Dinochloa scandens), sementara itu pada bambu betung (Dendrocalamus
asper) rebungnya tertutup oleh bulu coklat
Pelepah Buah merupakan hasil
modifikasi daun yang menempel pada setiap ruas, yang terdiri atas daun pelepah
buluh, kuping pelepah buluh dan ligulanya terdapat antara sambungan antara
pelepah daun daun pelepah buluh. Pelepah buluh sangat penting fungsinya yaitu
buluh ketika masih muda. Ketika buluh tumbuh dewasa dan tinggi, pada beberapa
jenis bambu pelepahnya luruh, tetapi pada jenis lain ada pula yang pelepahnya
tetap menempel pada buluh tersebut, seperti pada jenis bambu talang (Schizostachyum
brachycladum).
Helai daun bambu mempunyai
tipe pertulangan yang sejajar seperti rumput, dan setiap daun mempunyai tulang
daun utama yang menonjol. Daunnya biasanya lebar, tetapi ada juga yang kecil
dan sempit seperti pada bambu cendani (Bambusa multiplex) dan bambu siam
(Thyrsostachys siamensis). Helai daun dihubungkan dengan pelepah oleh
tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan kuping
pelepah daun dan juga ligula. Kuping pelepah daun umumnya besar tetapi ada juga
yang kecil atau tidak tampak. Pada beberapa jenis bambu, kuping pelepah daunnya
mempunyai bulu kejur panjang, tetapi ada juga yang gundul.
Manfaat
Bambu ini sering digunakan untuk bahan
dasar kerajinan, dan dapat digunakan untuk membuat tempat tinggal (papan) baik
hewan atau manusia.
F.Pohon Mindi( Melia azedarach L.)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Sapindales
Famili Meliaceae
Genus Melia
Spesies Melia azedarach L
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Sapindales
Famili Meliaceae
Genus Melia
Spesies Melia azedarach L
Deskripsi
Mindi (Melia azedarach L) merupakan pohon dengan tinggi dapat mencapai 45 m, diameter mencapai 60 cm-120 cm, termasuk ke dalam kelompok suku meliaceae.Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 10m - 20m, biasanya ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang juga merupakan poohon liar di daerah-daerah dekat pantai dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut.
Mindi (Melia azedarach L) merupakan pohon dengan tinggi dapat mencapai 45 m, diameter mencapai 60 cm-120 cm, termasuk ke dalam kelompok suku meliaceae.Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 10m - 20m, biasanya ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang juga merupakan poohon liar di daerah-daerah dekat pantai dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut.
Kulit batang berwarna coklat tua, daunnya majemuk menyirip ganda yang tumbuh berseling dengan
panjang 20-80 cm, sedangkan anak daunnya berbentuk bulat telur bergerigi dan
berwarna hijau tua di bagian permukaan atas.
Buah mindi merupakan
buah batu (drupe). Buah yang masak dicirikan oleh warna kulit buah kuning,
berukuran 1,0-1,8 cm dan bersifat polyembrioni, dimana dalam satu benih
terdapat empat hingga enam lokus yang masing-masing berisi satu benih berukuran
kecil (Nurhasybi dan Danu, 1997). Jumlah buah kering 1.286 butir/kg atau ±
56.894 butir biji/kg.
Karena benih memiliki sifat dormansi fisik yang tinggi (Kulit benih yang keras) maka untuk memecahkan dormansinya diperlukan perlakuan. Selain direndam dengan asam sulfat, perlakuan pemecahan dormansi yang mudah dilakukan adalah dengan meretakan benih dengan ragum dan atau palu. Arah retakan diusahakan memanjang ukuran benih.
DAFTAR PUSTAKA
Danu, 2003. Atlas
Benih Tanaman Hutan Jilid I. Publikasi khusus vol.3 n0.8. Balai Litbang
Teknologi Perbenihan Bogor.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan
Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.
Nurhasybi dan Danu,
1997. Mengenal Budidaya Mindi (Melia azedarach L). Tekno Benih. Vol.II No.1.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor.
Sulastiningsih, IM
dan Nurwati Hadjib, 2001. Kegunaan Mindi (Melia Azedarach L). Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Wardani, M, 2001.
Morfologi, Persebaran dan Tempat Tumbuh Mindi (Melia Azedarach L). Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
www.iptek.apjii.or.id, 2006. Melia
azedarach L.http:iptek.apjii.or.id/artikel/ ttg_tanaman_obat/ depkes/ buku1/
1-184.pdf. Diakses tanggal 28 Juni 2006 jam 11.25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar